Tatas Brotosudarmo, Peneliti Kaliber Dunia Wakil Indonesia

UNIVERSITAS Ma Chung memiliki peneliti kaliber dunia. Dialah Tatas Brotosudarmo. Kontribusi pemikirannya untuk menciptakan energi terbarukan, menempatkannya sebagai anggota  konsorsium energi terbarukan di Amerika yaitu Photosynthetic Antenna Research Center (PARC) sejak tahun 2011. Selain itu salah satu peneliti handal di Ma Chung Research Center for Photosynthetic Pigments (MRCPP) itu juga aktif dalam konsorsium AlgaeProFi tentang alga untuk makanan fungsional. Juni mendatang, Tatas akan menjadi wakil Indonesia dalam 63rd Lindau Nobel Laureate Meeting di Lindau Jerman.

Kabar kenaikan bahan bakar minyak (BBM), bagi sebagian orang, menjadi kabar yang tidak menyenangkan. Tapi bagi para penggiat energi terbarukan, hal tersebut menjadi angin segar.
‘’Salah satu tantangan energi terbarukan, adalah jika harga BBM masih disubsidi pemerintah. Orang akan lebih memilih BBM yang murah daripada energi alternatif,’’ ungkap Tatas ditemui di Gedung The Core Ma Chung, kemarin.
Tatas adalah salah satu peneliti di Indonesia, yang konsern dengan energi alternatif. Bahkan sejak masih menempuh studi di Jerman, ia mulai meneliti tentang biohybrid solar cell (sel surya).
Kelahiran Salatiga Jawa Tengah ini menyelesaikan studi Master di Ludwig Maximilians University Munich Jerman. Kemudian mendapat beasiswa S3 di Scotlandia.
Saat berada di Jerman, ia sempat terlibat pada sebuah penelitian tentang energi terbarukan. Saat itu banyak yang menyarankannya untuk tetap berkarir di Jerman. Namun karena kecintaannya pada Indonesia, ia menolak kesempatan menggiurkan itu.
‘’Saya yakin Indonesia lebih membutuhkan saya untuk ikut mengembangkan energi alternatif. Walau banyak yang bertanya kenapa balik ke Indonesia, karena di Jerman ilmu yang saya kembangkan bisa lebih berkembang,’’ ucapnya.
Meski ia tahu, ide besar untuk membumikan energi alternatif selain fosil tak mudah diwujudkan di Indonesia. Butuh waktu berpuluh-puluh tahun untuk mewujudkannya. Berbeda dengan negara lain yang sudah mulai membiasakan dengan energi terbarukan tersebut.
Bahkan di Eropa, tidak hanya satu energi alternatif yang dikembangkan. Tapi beragam jenis sudah diteliti. Karena itulah, Tatas dan segelintir orang yang peduli energi alternatif akan terus melakukan penelitian. Saat ini, dia dipercaya oleh Kementrian Ristek untuk membuat prototipe biohybrid Solar Cell.
‘’Saya berharap bisa menjadi pembuka pintu sebagai seorang peneliti basic science untuk penemuan di bidang energi terbarukan ini,’’ urainya.
Menurutnya, fosil untuk bahan bakar selama ini lama kelamaan akan habis. Saat ini ada beberapa orang di Departemen Energi Terbarukan yang sudah menunjukkan kepeduliannya terhadap energi alternatif. Saat fosil hilang maka energi alternatif akan sangat dibutuhkan.
Karena itulah kesempatan menghadiri 63rd Lindau Nobel Laureate Meeting di Lindau Jerman, yang akan dilaksanakan pada 30 Juni hingga 5 Juli  mendatang, menjadi hal berharga baginya.
Ia akan memiliki kesempatan untuk dapat bertukar pikiran langsung dengan ratusan peneliti handal dari 80 negara sekaligus berdiskusi dengan para calon penerima nobel.
Lindau Nobel Laureate Meeting, merupakan pertemuan tahunan yang diadakan oleh Council for the Lindau Nobel Laureate Meetings/Foundation Lindau Nobelprizewinners Meetings sejak tahun 1951. Tiap tahunnya, pertemuan ini akan berfokus ke bidang-bidang ilmu Kimia, Fisika, Fisiologi/Medis, dan Ekonomi.
Sejak pertama kali diadakan, pertemuan ini telah banyak memberikan sumbangsih terhadap kemajuan ilmu pengetahuan dunia. Kali ini, 63rd Lindau Nobel Laureate Meeting akan berfokus pada bidang Kimia dengan tema umum Kimia Hijau, Konversi dan Penyimpanan Energi Kimia, serta Struktur dan Proses Biokimia.
Untuk menjadi peserta 63rd Lindau Nobel Laureate Meeting ini, Tatas haruslah lolos melewati berbagai prosedur tahapan seleksi internasional. Tahun ini, hanya 500 peneliti muda dari 80 negara yang terpilih dari puluhan ribu pelamar yang berkesempatan untuk bertatap muka langsung dengan 35 orang calon penerima nobel di pertemuan ini.
Tidak hanya itu, para peserta juga akan mendapatkan pemaparan materi dan diskusi dari para calon pemenang Nobel, serta berkesempatan untuk mendiskusikan temuan-temuannya dengan para calon pemenang Nobel. (lailatul rosida)