Atlet Paralayang Batu Rebut Medali Emas Kelas Dunia

Jhoni Effendi, atlet paralayang Kota Batu, baru saja sukses menyabet medali emas di PGWAC (Para Gliding Accuracy World Cup) Seri II dan raih uang tunai THB 4.000. Kini, dia pun bersiap turun di seri berikutnya yang tinggal menyisakan tiga seri lagi.

Butuh perjuangan keras dan tidak mudah, bagi pemuda asli Desa Songgokerto, Kota Batu ini, untuk bisa menyabet medali emas di kejuaraan dunia paralayang. Dia harus tumbang dan hanya mendapatkan nomor 15 dari 70 atlet dari seluruh dunia, saat tampil di seri I yang digelar di Bukit Painan Sumatera Barat, awal Mei lalu.  
Namun, dari kegagalan tersebut, tampaknya menjadi modal berharga dan cambuk bagi Jhoni Effendi, untuk bangkit. Dia pun bertekad mampu menggapai nomor terbaik di kelas ketepatan mendarat perorangan, yang memang menjadi andalannya.
Selain itu, di ajang serupa tersebut, dia juga turun beregu yang tergabung di tim Merah Putih. Berkolaborasi dengan atlet-atlet handal milik Indonesia.
‘’Saya harus tetap semangat meski gagal. Termasuk memiliki ambisi bisa balas kegagalan saat turun di Khaoyai Thailand. Saat di Painan (Bukit Painan Sumbar), saya kalah juga nggak fatal-fatal banget. Mungkin karena faktor kelelahan, cuaca yang panas, kondisi nggak fit,’’ jelasnya kepada Malang Post, kemarin.
Kekalahan itu diakuinya, bukan karena persiapan dirinya yang mepet. Melainkan, dia butuh adaptasi dengan tempat digulirnya Seri I. Sebab, dari cuaca dingin kota Batu dan harus bertarung di cuaca panas khas kota Padang.
Target di Thailand pun dibuktikannya. Dia menjadi Juara I di kategori Perorangan dan mengantarkan timnya meraih Juara III di kategori Beregu.
Pemuda kelahiran Batu, 7 Desember 1990 ini menyebut, saat turun di Thailand, tantangan berat itu ada saat pendaratan. Pasalnya, tempat landing itu diketahui baru dikerjakan, yang berada diantara perbukitan.
Untuk beradaptasi, Jhoni memiliki cara tersendiri, yakni menjalani latihan tepat di H-2. Sedangkan, pada H-1 hanya sekedar main-main saja, sebelum besoknya tepat di hari H bertanding.
‘’Dari enam round itu, saya dapat poin terkecil adalah 8. Saya pun berhak jadi Juara I dengan poin itu. Kalau di paralayang diambil nilai yang paling kecil. Per round ada nilainya, kemudian ditotal dari enam round itu, diambil paling kecil, dialah yang menang. Juara I saya, juara II adalah Macian dari China, dan Nanang Sunarya dari jabar Juara III,’’ terang alumnus SMA 2 Negeri Kota Batu ini.
Atlet nasional yang mengawali karirnya sebagai Paraboy, alias tukang lipat paralayang sejak kelas III Sekolah Dasar ini sedang bersiap menghadapi tiga seri dunia berikutnya. Yakni, di Sarajevo (Seri IV), Rumania (Seri V) dan Malaysia (Final).
Satu seri sudah dilewatkannya karena jadwal perlombaan terlalu mepet dengan pelaksanaan di Thailand. Selain itu, dia juga terkendala dengan dana, karena itu berharap ada sponsor menghampirinya. Jhoni absen pada seri ketiga yang digelar di Portugal.
‘’Rencananya mau ikut semua, soalnya peluang jadi juara dunia ada. Tetapi terkendala di dananya. Untuk biaya ke Thailand, kurang lebih Rp 8 juta, untuk pendaftaran akomodasi dan makan. Saya biaya sendiri, namanya buruh prestasi. Untuk di Seri I, di Painan dibiayai KONI Jatim. Peluang jadi juara ada, saat di Thailand, alhamdulillah bisa kalahkan juara dunia tiga tahun, Madaz Serbia, atlet China dan atlet Thailand,’’ akunya sambil mengenang instrukturnya saat dia kecil, Agung Wicaksono. (poy heri pristianto)