Kritik Pembangunan Mall Lewat Think Before You Build

Bingkai kecil Kota Malang, tentang semrawutnya etika bisnis, justru mengantarkan perwakilan Indonesia dari SMAN 7 Malang, menjadi The 2nd Winner Poster Competition dalam kompetisi internasional. Gambaran Mall yang semakin merajalela di tengah keberadaan pasar tradisional, dianggap memiliki pesan moral yang kuat dan tervisualisasi melalui desain poster yang mereka rancang.

Bangga, senang dan takjub adalah perasaan yang dialami oleh keempat pelajar SMAN 7 Malang. Mereka adalah Sapta Nugraha, Nur Kharismawardani, Melati Fajar, dan Rara Fitri.
Keempatnya baru saja menyabet prestasi bergengsi dalam St George's Girls School (SGGS) Hosts International Students' Conference yang digelar di Seameo Recsam, the Penang Medical College, Malaysia pada 25 hingga 29 Mei kemarin.
Di antara delegasi negara lain yang berkompetisi, murid-murid ini menjadi satu-satunya perwakilan dari Indonesia yang berhasil mengharumkan nama bangsa dengan menjadi The 2nd Winner Poster Competition yang bertajuk Ethics and Morals What Choice.
Poster yang berkisah tentang pembangunan sebuah mall di tengah pasar tradisional tersebut, berhasil memikat hati dewan juri karena dianggap memiliki pesan yang kuat dan dapat divisualisasikan dengan baik.
‘’Poster kami bertuliskan Think Before You Build ini sebenarnya gambaran dari keadaan di sekitar kita ini. Di sana juga tampak seorang pelajar yang kami gambarkan memakai batik khas SMAN 7 Malang sedang berdiri mengamati kedua tempat yang sangat kontras tersebut,’’ jelas Sapta Nugraha.
Siswa yang juga Ketua OSIS ini mengimbuhkan, mereka ingin mengkritisi pembangunan mall yang justru berdekatan dengan pasar tradisional.
Hal itu menyalahi etika bisnis karena bisa mematikan perekonomian di pasar tradisional. Pesan etika dan moral yang sangat mengena serta kemasan artistiknya yang apik membuat tim SMAN 7 Malang yang terpilih menjadi salah satu pemenangnya.
‘’Poster ini dibuat di sekolah selama dua minggu. Awalnya kita gambar manual. Beberapa hari sebelum berangkat, kami baru tahu jika poster diminta dalam bentuk elektronik. Alhasil poster kami baru benar-benar siap H-1 malam sebelum keberangkatan ke Malaysia,’’ kenangnya lantas tertawa.
Ria Arinta Mukti, S.Pd menjadi saksi perjuangan anak didiknya, baik selama pembuatan poster maupun saat berada di Malaysia. ‘’Ada banyak negara yang menjadi peserta di sana. Mulai dari negara ASEAN dan ada juga yang dari India, Taiwan, China, Kosta Rika, dan sebagainya,’’ katanya.
Indonesia sendiri mengirimkan 4 delegasi yaitu dari Bangka, Jakarta, dan Malang. Malang diwakili oleh SMAN 7 Malang dan SMAN 3 Malang.
‘’Alhamdulillah kami bisa berprestasi di sana, tak hanya membawa nama sekolah namun juga nama bangsa,’’ tandas wanita yang mengajar Pendidikan Kewarganegaraan tersebut.
Tak hanya menang dalam kompetisi, siswa-siswi ini juga dipercaya untuk menjadi bagian penting dalam workshop dan plenary yang membahas tentang world ethics tersebut.
‘’Siswi kami ada yang terlibat sebagai reporter, chairman, dan plenary. Banyak pelajar dari belahan dunia lain yang mengajukan diri untuk bisa menjadi bagian penting di acara ini. Namun ternyata mereka mempercaya kami untuk berada di bagian tersebut dan menjadi sorotan di mata internasional ketika workshop berlangsung,’’ imbuhnya dengan penuh haru.
Sementara itu, Kepala SMAN 7 Malang, Asri Widiapsari, M.Pd memiliki pertimbangan khusus untuk mengirimkan keempat anak didiknya ke ajang internasional semacam itu.
‘’Mereka saya kirim karena memang memiliki prestasi dan kontribusi yang besar terhadap sekolah selama ini. Mulai dari Ketua OSIS, Ketua MPK, Atlet Karate, dan juga perwakilan kelas X yang aktif di Paskibra. Jadi jika nantinya murid yang lain ingin mendapatkan pengalaman yang sama, mereka harus bisa menjadi berprestasi dulu di lingkungan sekolah. Secara tidak langsung ini membuat mereka berlomba-lomba untuk jadi yang terbaik,’’ tutup Asri lantas tersenyum. (Kurniatul Hidayah)