Mengelola Sekolah Gratis ala SMA Selamat Pagi Indonesia

SEKOLAH gratis banyak digembar-gemborkan berbagai daerah saat ini. Namun faktanya, orang tua atau anak didik tidak bisa menikmati pendidikan tersebut secara gratis..tis..Masih ada sejumlah kewajiban yang harus dibayar, misalnya uang buku, atau kesepakatan pihak komitek sekolah atau sejenisnya. Perjuangan Julianto Eka Putra, pendiri SMA Selamat Pagi Indonesia di Jalan Dieng Pandanrejo Kota Batu mungkin bisa menjadi rujukan bagaimana mengelola sekolah gratis.

Gaya bicaranya berapi-api, jiwanya juga nampak selalu tegar menghadapi siapapun. Namun dia bisa tiba-tiba meneteskan air mata jika melihat nasib para siswanya. Kejiwaanya semakin tersentuh ketika melihat siswa-siswanya memainkan karya, baik di lokasi sekolah maupun daerah lain.
Salah satu karya siswa SMA Selamat Pagi Indonesia adalah teatrikal berjudul Pesona Sang Garuda. Karya tersebut sempat dimainkan di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan di Jakarta bersamaan dengan Hari Pendidikan tahun 2012 lalu. Teatrikal tersebut mengambarkan semua potensi Indonesia, mulai dari kesenian dan aneka kebudayaan, mulai Sabang sampai Merauke.
Dalam teatrikal tersebut digambarkan, ada perpecahan diantara suku-suku bangsa. Mereka kemudian bersatu dengan tetap mengadopsi keperbedaan yang menjadi sumber kekayaan dan potensi. Ada kesenian reog, jaranan, tari pendet, tarian daerah Sumatera, Sulawesi hingga Papua. Mereka kemudian bersatu dalam naungan sang Merah Putih. "Saya selalu terharu jika melihat karya ini," ungkap Julianto Eka Putra.
Mereka terharu karena pihak sekolah sama sekali tidak mendatangkan koreografer untuk membuat karya hingga tembus kelas nasional itu. Koreografer karya itu adalah siswanya sendiri. Dia tidak mendapatkan pelajaran koreografi profesional tetapi belajar secara otodidak. Apalagi, siswanya juga berasal dari keluarga yang kurang mampu sehingga tidak ada biaya jika harus menyewa seorang koreografi.
Kini siswanya juga sudah memiliki teatrikal lain yang berjudul The Legend. Teatrikal tersebut diangkat dari kisah nyata para siswanya karena mereka berasal dari keluarga tidak mampu. Ada anak tukang becak, ada anak yatim dan sebagainya dan intinya mereka sama sekali tidak kuat membayar sekolah.
Ada yang menarik dalam teatrikal tersebut, yakni panggung atau background teater yang bisa bergerak-gerak. Siswa SMA Selamat Pagi Indonesia tidak pernah bercerita kepada Koh Jul, sapaan akrab Julianto teknis panggung bergerak itu. Suatu saat Koh Jul bertanya bagaimana bisa panggung sebuah teater bergerak.
"Koh Jul ini gak pakai otak ya. Panggung atau back ground itu kan besar dan berlubang di tengah. Lubang-lubang itu bisa diisi orang di tengah dan bisa menggerakkan panggung," tandas Koh Jul menirukan jawaban siswanya. Dia memang selalu merangsang bagaimana anak didiknya berfikir untuk berkreasi. Mereka harus selalu memutar otak untuk memecahkan masalah yang ada. Itu karena mereka tidak bisa memecahkan masalah dengan uang karena potensi itu memang tidak ada.
Mantan pimpinan perusahaan multi level ini mencontohkan negara Singapura yang sekarang sangat maju. Padahal Singapura tidak memiliki potensi luas wilayah atau sumber daya alam seperti Malaysia dan Indonesia, dua negara besar yang mengapitnya. Namun dengan otak warganya, Singapura menjadi negara yang luar biasa.
Koh Jul mendirikan sekolah gratis juga tidak gampang. Dia mengajak teman-teman di multi level hingga mendapat pinjaman dari relasi untuk membeli lahan sekaligus mendirikan bangunan. Semua siswa tinggal di sekolah tersebut layaknya asrama. Mereka datang dari seluruh Indonesia dan benar-benar bebas segala biaya ketika belajar di SMA Selamat Pagi Indonesia.
Pria setengah baya ini menerapkan sistem teori dan praktek dalam pendidikanya. Kampoeng Kids yang berada satu komplek dengan SMA Selamat Pagi Indonesia menjadi laboratorium praktek sekaligus fasilitas siswa mencari duit. Kampoeng Kids banyak didatangi oleh wisatawan dan pengelolaan dilakukan oleh para siswa.
Dari penghasilan itun dia mengharuskan siswanya menabung. Dari hasil tabungan, mereka bisa mengirim uang kepada orang tua atau saudara di daerah asalnya. Ada juga siswa yang membantu adik dan saudara untuk sekolah atau mondok.
Dan hal yang tidak boleh ditinggalkan adalah berbagi kepada sesama. Meski mereka berasal dari keluarga kekurangan beramal harus dilakukan. "Kami pasti rutin memberikan santunan kepada warga sekitar dan semua itu diambil dari tabungan anak-anak," katanya.
Tanggapan warga sekitar yang kurang mampu juga beraneka ragam. Mereka menanggapi, kok bisa anak-anak kekurangan menyalurkan bantuan. "Oalah. Le, nduk, wong awakmu ae sik kurang kok menehi aku. (Oalah, nak. Kami sendiri kekurangan kok memberi saya)," tegasnya menirukan tanggapan warga sekitar menggunakan Bahasa Jawa.
Ada juga warga kekurangan di sekitar SMA Selamat Pagi Indonesia memberikan tanggapan lain. Mereka mengatakan pemberian anak-anak kurang mampu itu lebih banyak dari pemberian pemerintah. "Kok lebih banyak dari bantuan pemerintah, ya," pungkas Koh Jul.
Dia memiliki tekat kuat mendirikan sekolah gratis karena diingatkan oleh koran. Awalnya dia sangat prihatin ketika membaca kejadian adanya anak bunuh diri karena tidak mampu melanjutkan sekolah. Dia sempat berfikir tidak perlu mendirikan sekolah gratis karena media juga memberitakan Pemerintah siap memberikan fasilitas sekolah gratis. Namun melalui koran juga, dia mendapatkan informasi jika masih ada saja anak yang tidak bisa sekolah 'gratis' meski ada jaminan pemerintah. (febri setyawan)