Gunung Semeru Pasca Jadi ’Peran Utama’ Film 5 cm (habis)

Sejak booming film 5 cm, ekosistem di kawasan Semeru, terbilang sangat mengkhawatirkan. Ketika long weekend, ada sekitar 3.000 pendaki naik hingga ke Ranu Kumbolo. Jika tak dibatasi, ekosistem Semeru, sekaligus harta karun kawasan itu, benar-benar terancam.

Bagi saya, pendakian kali sangat mencerahkan. Sebab tim jurnalis didampingi orang-orang hebat. Sebut saja Toni Artaka, Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Ada juga Mahmudin Rahmadan, sang penyuluh kehutanan dan Parningotan Sinambela (Ningot).
Nama terakhir, adalah staf dari Resort Ranupani yang mendampingi pendakian Igor Saykoji. Igor pemeran Ian dalam film 5 cm itu, mendaki puncak Mahameru dalam waktu 11 jam! Bahkan dia terpaksa harus ditarik tali, untuk sampai ke atap para dewa itu.
Semeru memang menggembleng pendaki untuk menjadi lebih hebat. Sejak jaman kerajaan Kadiri, telah menjadi jujugan ziarah suci. Terbukti dari prasasti Ranu Kumbolo yang bertulis 'Ling deva mpu Kameswara tirthayatra' atau ziarah suci Kameswara. Bahkan juga situs Arcopo (arca kembar) di ketinggian 3.002 meter diatas permukaan laut.
Semeru juga memiliki harta karun flora dan fauna yang tak terperikan. Sepanjang perjalanan pendakian, kami tahu nama-nama flora itu dari Toni Artaka Sang Pengendali Ekosistem Hutan.
‘’Kalau dalam avatar ada pengendali angin, maka mas Toni ini adalah avatar yang lebih hebat, yaitu Pengendali Ekosistem,’’ canda Mahmudin Rahmadan.
Di Puncak Mahameru yang menjadi atap para dewa, Toni menemukan Tranverse Lady Bug. Hebat, kumbang yang umum di Asia Tenggara ini bisa hidup di atap Jawa. Selama ini belum pernah ada catatan temuan lady bug di puncak gunung, terutama gunung berapi aktif.
‘’Mungkin terbawa pendaki. Kalau tanaman mirp lavender di Oro-oro Ombo itu namanya Verbenaria brasiliesis, dari Amerika Selatan yang terbawa bangsa Belanda saat invasi ke kawasan Tengger,’’ urainya.
Dia juga menemukan Dendrobium jacobsonii, jenis ini langka. Dan hanya ada di Jawa Timur yakni di Gunung Lawu, Wilis, Arjuno, Kawi dan Semeru pada elevasi 2.300 hingga 3.000 m dpl. Pendakian kami, yang cukup berat, terbayar dengan pengetahuan baru itu.
Di Arcopodo, saya lihat papan in memoriam yang dulu bertebaran tinggal beberapa saja. Sayangnya, sampah-sampah masih banyak bertebaran, sepertinya milik pendaki 5 cm, begitu gurauan kawan-kawan seperjalanan saya.
Beberapa tahun lalu, saya sempat beberapa hari bermukim di Semeru. Menjadi bagian dari seleksi pendaki Carstensz Pyramid, gunung di Papua. Tim kami, setiap hari mendaki dari Kalimati menuju Cemoro Tunggal, butuh waktu pulang pergi sekitar 1,5 jam saja.
Saya sendiri, meski fisik terbaik, namun tak lolos ketika tes kesehatan, gara-gara di deteksi mengalami penyempitan pembuluh jantung. Berbeda dengan pendakian terdahulu itu, kini saya rasakan Semeru semakin menantang. Semakin butuh waktu lama untuk berziarah ke atap jawa.
Tim jurnalis, tiba paling awal di puncak Mahameru. Disusul tim dari TN BTS seperti Toni Artaka serta Mahmudin Rahmadan. Hebatnya, ada dua perempuan dari tim Bappenas berusia diatas 40 tahun yang mampu menggapai puncak.
Tim Bappenas itu diantaranya June Ratna Mia (55 tahun), Gagah Deritha Simawang (54 tahun), Nur Hygiawati Rahayu (42 tahun), Rosib (40 tahun), Dadang Jainal Mutaqin (34 tahun), dan Pungky Widiaryanto (30 tahun).
Sekitar sejam di atap pulau Jawa, tim kami kemudian turun ke Kalimati, tiba pukul 11.55. kemudian pada pukul 14.55 turun menuju Ranu Kumbolo dan Ranu Pani. Kami tiba di basecamp Ranu Pani sekitar pukul 22.15, tiba di Malang pukul 1 dinihari.
Selama tiga hari di Semeru, membuat saya berpikir cukup lama. Banyak sekali pendaki yang datang ke Semeru. Sesuai data BB TNBTS, pada long weekend saja pernah mencapai 3.000 orang. Betapa banyak sampah yang ditinggalkan pendaki pemula itu.
Saya mengenal Semeru, setelah membaca catatan seorang demonstran karya Soe Hok Gie. Aktifis itu kemudian meninggal di atap Jawa bersama karibnya Idhan Lubis. Dari buku itu, saya dapatkan pelajaran berharga, yakni untuk menghargai alam.
Sedangkan, Semeru saat ini, justru lebih banyak didatangi pendaki pemula. Mereka mengenal Semeru umumnya dari film 5 cm. Niatan datang untuk sekedar memanjakan mata, melupakan safety bahkan mungkin sampah bawaannya.
‘’Ada 3.000 pendaki, bayangkan jika 1.500 orang merokok, kemudian membuang sembarang puntungnya, berapa jumlah sampah dari puntung rokok saja,’’ keluh Toni Artaka.
Maka tak heran, di sepanjang jalur pendakian saya lihat begitu banyak bungkusan permen, rokok dan sebagainya. Saya lihat juga, bertebaran pendaki pemula dengan celana jeans, baju ala mall dan sepatu kets.
Padahal, celana jeans itu membuat suhu lebih dingin ketika berada di alam bebas. Bayangkan saja, pendaki pemula itu tidur ketika Ranu Kumbolo bersuhu minus 20 derajat.
‘’Baru tahu dari Ranu Kumbolo, ya hanya membawa ini seadanya, saya tak tahu kalau medannya seperti ini,’’ aku salah satu pendaki perempuan.
Padahal, tanpa persiapan khusus, Semeru tak sungkan menelan nyawa. Resort Ranu Pani mencatat  terdapat 28 orang meninggal dunia, tiga pendaki tidak ditemukan/meninggal dan 25 orang mengalami luka-luka/selamat. Dan terakhir Rabu (6/6) lalu, pendaki Gresik tewas akibat serangan jantung di Pos 1.
Meski ingin menikmati kisah Genta, Riani, Arial, Ian dan Zafran (film 5 cm), keamanan adalah hal utama. Jangan pula lupakan kelangsungan ekosistem Semeru, sedikit saja sampah kita tinggalkan, berarti kiamat pada masa depan.
‘’Kita ingin Semeru ramai, maka SDM TN BTS harus siap, seperti mengurusi sampah dan lain sebagainya, film 5 cm untuk promosi, pro kontra wajar. Sementara ini kuota pendaki belum dibatasi, ke depan harus dipikirkan, kami minta sampah nanti harus diperhatikan dan bisa dimanfaatkan yang bisa daur ulang,’’ urai Basah Hernowo Direktur Direktorat Kehutanan dan Konservasi Sumber Daya Air Bappenas kepada Malang Post.
Mendaki Semeru saat ini jauh lebih mudah, sebab bisa booking online seperti hotel. Menurut Kepala BB TN BTS  Ayu Dewi Utari TNBTS, pihaknya memang mengembangkan konsep ecotourism, tujuannya agar warga tetap bisa sejahtera. Pihaknya memberdayakan porter, juga petugas sampah dari warga masyarakat.
‘’Porter saat ini bisa meraup pendapatan per hari Rp 150 ribu, sedangkan sampah dipilah warga untuk kemudian didaur ulang, organik dijadikan pupuk,’’ jelasnya.
Namun tetap saja, niat mendaki gunung harus diluruskan, tak sekedar menikmati romantisme 5 cm. Mendaki juga tindakan syukur kepada Sang Pencipta, atas anugerah alam yang begitu indah. Kalau versi Soe Hok Gie, mendaki gunung adalah bagian dari patriotisme, mendaki gunung membuat fisik sehat dan jiwa sehat. (Bagus Ary Wicaksono)