Sulap Kekumuhan TPA Talangagung Jadi Menyenangkan

BANGGA : Ir Koderi  menerima penghargaan  Kalpataru dari Presiden  Susilo Bambang Yudhoyono.

Pegawai BLH Kabupaten Malang Raih Penghargaan Kalpataru
KABUPATEN Malang  tidak hanya mendapatkan  penghargaan  Adipura pada tahun ini. Tetapi juga mendapat dua penghargaan  Kalpataru. Pertama untuk kategori penyelamat lingkungan, diterima Kelompok Tani Maju, Desa Argosari, Kecamatan Jabung. Dan kedua kategori pengabdi lingkungan hidup, diterima oleh Ir Koderi. Bagaimana  perjuangannya sehingga mendapat penghargaan bergengsi ini?
Keceriaan terlihat jelas dari raut wajah  Koderi, saat ditemui di ruang kerjanya di Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten Malang, siang kemarin. Di BLH, pria dengan pangkat  Pembina – IV/a ini, menjabat sebagai Kepala Bidang (Kabid) Analisa Pencegahan Dampak Lingkungan. Meski baru datang dari Jakarta, Rabu (12/6) malam lalu, namun tak ada keletihan yang dirasakan.
“Silahkan masuk mas, ayo silahkan duduk,” sambutnya ramah kepada Malang Post sembari menunjukkan foto-fotonya saat menerima  Kalpataru dari Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Negara. Ia kemudian juga antusias menunjukkan buku penerima penghargaan Kalpataru yang didalamnya berisi profilnya. “Ini semua berkat media juga, yang ikut membantu mempublikasikan,” katanya  dengan tertawa renyah.
Keberhasilan warga Jalan Lowokdoro Gg III, Kecamatan Sukun – Kota Malang menyabet  Kalpataru ini, karena tak lepas dari kerja kerasnya selama beberapa tahun. Berawal dari permasalahan pengelolaan sampah dan dampaknya yang semakin tinggi di masyarakat. Baik masalah bau yang ditimbulkan, kotoran, kekumuhan serta sebagai penyebab sektor penyakit dan pencemaran lingkungan.
Dari situlah, Koderi yang sejak tahun 1995 berkecimpung dalam kegiatan pengolahan sampah ini, akhirnya termotivasi untuk memecahkan permasalahan. Adalah Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Talangagung, di Kecamatan Kepanjen yang dijadikan tempat percobaan untuk memecahkan permasalahan.  Hal tersebut dilakukannya setelah dia mendapat mandat kepercayaan Pemerintah Kabupaten Malang untuk mengelolah TPA Talangagung, pada 2007. Saat itu, kondisi TPA Talangagung, masih kumuh gersang dan berbau tidak sedap. Dari situ Koderi lalu bertekad menyulapnya menjadi tempat yang menyenangkan. Karena dalam pandangannya sampah bukanlah barang sisa. Melainkan potensi ekonomi dan inovasi yang dapat dimanfaatkan dan dikembangkan lebih luas lagi.
Akhirnya untuk mewujudkan  impian menjadikan TPA Talangagung sebagai tempat pengelolaan sampah menjadi biogas dan lokasi TPA wisata edukasi, dia mengeluarkan uang pribadi sebesar Rp 36 juta. Uang itu untuk biaya instalasi penangkapan, pengendalian serta pemurnian gas. Gas biogas yang dihasilkan itu, kemudian disalurkan kepada 75 kepala keluarga secara gratis.
Dari temuannya yang cukup berhasil itu, Koderi lalu mengembangkan mengembangkan ke TPA lain di wilayah Kabupaten Malang. Dia juga membentuk kader-kader lingkungan yang tersebar di seluruh Indonesia. Tak tanggung-tanggung, jumlah kader yang sudah terbentuk saat ini sudah lebih dari 2000 kader.
“Saking banyaknya kader itu, nama saya sampai diplesetkan menjadi Kode-RI. Pada setiap kader saya juga berpesan bahwa orang yang ikhlas mengelolah sampai dan lingkungan disitu pasti ada keberkahan hidup seperti kata SAMPAH. Yaitu Semoga Allah Melimpahkan Pahala Atas Hambanya,” ujar pria yang juga pernah mendapat penghargaan Pengabdi Lingkungan Tingkat Propinsi dari Gubernur Jatim, pada 2013 ini.
Bahkan karena temuannya yang sangat luar biasa itu, TPA Talangagung Kepanjen ini, kerap menjadi kunjungan wisata edukasi. Dalam kurun waktu selama lima tahun terkahir ini, sudah dikunjungi oleh 47 kelompo dengan jumlah pengunjung sebanyak 1.084 orang. Mereka yang berkunjung, tidak hanya dari instansi pemerintah ataupun swasta, tetapi juga kunjungan sekolah di wilayah Kabupaten Malang, atau di kota-kota lain seperti perguruan tinggi.
Kunjungan mereka sendiri tak lain karena ingin melihat, sharing, mengadopsi dan sebagai bahan kajian untuk dilakukan di wilayah masing-masing. Bahkan, Koderi yang juga mendapat penghargaan innovator teknologi pengendalian dan pemanfaatan gas metan pada 2012 ini, juga kerap diundang sebagai pembicara dalam acara seminar.
Penghargaan  Kalpataru  berhasil diraih Koderi bermula dari usulan Prof Dr Suparto Wijoyo, yang merupakan Dosen Hukum Lingkungan Universitas Airlangga Surabaya. Suparto yang juga Ketua Kenduri Agung Pengabdi Lingkungan (KAPAL) Jatim ini, mengusulkan di tingkat Propinsi Jatim pada Januari 2013, untuk menjadi salah satu peraih  Kalpataru.
Dari usulan itu, pada bulan Mei 2013 lalu tim verfikasi dari Jatim datang ke TPA Talangagung untuk melakukan penilaian. Alhasil, pengelolaan sampah menjadi biogas dan lokasi TPA wisata edukasi ciptaan Koderi ini, lolos dan ditunjuk untuk ikut mewakili Jawa Timur di tingkat nasional bersama sebelas perwakilan lainnya.
Yaitu kategori pengabdi lingkungan, penyelamat lingkungan, perintis lingkungan dan Pembina lingkungan yang masih-masing terdiri dari tiga perwakilan. Kemudian selang dua minggu pada 22 Mei, tim verifikasi dari Kementrian datang untuk melakukan penilaian. Setelah dilakukan penilaian, nama Koderi masuk sebagai 12 penerima penghargaan Piala Kalpataru. Yaitu sebagai kategori pengabdi lingkungan hidup.“Saya sebelumnya sama tidak menyangka kalau akan mendapatkan  Kalpataru. Dan sebetulnya saya sendiri, masih belum pantas karena masih kurang banyak yang saya lakukan.  Yang jelas,  penghargaan  ini makin  memotivasi saya untuk terus bekerja keras untuk kepentingan masyarakat luas,’’  papar mantan Kepala Seksi Kebersihan DCKTR Kabupaten Malang.(agung priyo)