Pertemuan Puncak Pemimpin Redaksi se-Indonesia di Denpasar

PRESIDEN  Susilo Bambang Yudhoyono  benar-benar membuat 300 pemimpin redaksi seluruh Indonesia dan ratusan undangan lainnya  tertawa lepas. Nyaris tanpa batas dan basa-basi. Meski masih ada batas protokoler, paling tidak dari sisi tempat duduk, tapi suasana acara puncak dalam Pertemuan Puncak Pemimpin Redaksi se Indonesia   kemarin  menjadi tanpa batas. Berikut laporan Pemimpin Redaksi Malang Post  Sunavip Ra Indrata dari Denpasar.

Bagaimana tidak, SBY langsung memulai pidatonya dengan permintaan untuk tidak disebut sebagai keynote speech. Tapi lebih kepada pandangan sederhana seorang SBY, kepada para Pemred.''Kalalu disebut keynote speech, kok sepertinya seram. Padahal sebelum saya ke Bali bersama Bu Ani, saya sudah dipesani sama tetangga. Pesannya, saya harus baik-baik dengan para Pemred,'' katanya yang spontan disambut tawa ratusan orang yang hadir di Bali Nusa Dua Convention Center, kemarin.
''Lho itu masih belum. Saya tanya lagi, kenapa? Tetangga saya itu kemudian menjawab, siapa tahu nantinya ada Pemred yang jadi presiden, berarti kan ada satu kursi Pemred yang kosong dan mantan presiden bisa jadi Pemred,'' kontan seluruh hadirin tertawa lepas. Tak terkecuali ibu negara, yang duduk di barisan depan, lengkap dengan kamera di tangan.
Jadi, tambah SBY lagi yang juga masih belum membuka teks pidatonya, ketika tahun depan, jabatannya sudah habis. Istilah SBY, sudah jatuh tempo, SBY akan bersedia menjadi Pemred. ''Itu kalau ada lowongan Pemred yang kosong,'' sebut SBY yang kemarin memakai baju batik khas Bali itu.
Bisa jadi suasana santai itu, membuat SBY kemarin, nyaris hanya sesekali saja membaca teks pidato. Presiden kelahiran Pacitan itu, lebih suka berbagi pengalaman bagaimana menjalankan roda pemerintahan selama sembilan tahun yang sudah dijalani.''Saya tidak perlu berbicara soal kebijaksanaan, berbicara program atau angka-angka statistik. Sekitar 10 menteri yang hadir di acara ini, sudah cukup banyak memberikan materi. Apalagi saya sekarang berbicara dihadapan para Pemred,'' papar pria kelahiran 9 September ini.
Kalau pun dia berbicara soal negara, dia hanya meminta, agar melihat kondisi negara ini, tidak seperti melihat satu foto saja. Karena bisa jadi pandangannya akan keliru. Tetapi melihat kondisi yang ada sekarang, harus dilihat sebagai sebuah film. Movie. Yang digambarkan lebih lengkap.
''Jika ingin melakukan refleksi, lihatlah sebagai sebuah perjalanan sejarah. Mulai dari jaman kerajaan, penjajahan, pembangunan dan sampai saat ini. Termasuk perjalanan negara ini dalam 15 tahun yang lalu,'' papar ayah dua putra ini.
Karena ketika negara ini sedang dilanda krisis, katanya, yakni sejak 1998 lalu, hingga saat ini, sudah banyak yang dilakukan. Termasuk yang diperbuat dua presiden sebelum SBY. Presiden Gus Dur maupun Megawati.
''Jadi tetap harus berkesinambungan. Siapapun presidennya. Kalaupun ada perubahan, lakukanlah dengan baik. Termasuk yang dilakukan para Pemred ini, sudah sangat baik untuk mengawal kemajuan negara,'' katanya yang disambut dengan tepuk tangan.
''Tepuk tangan tidak dilarang, kok. Karena saya tidak akan maju lagi. Jadi tidak perlu sungkan-sungkan,'' lagi-lagi tawa lepas menggema di ruang berkapasitas 1000 orang itu. (avi)