Ketika Pemimpin Redaksi se Indonesia Berkumpul di Nusa Dua (1)

Pada 13-14 Juni kemarin, sekitar 300 pemimpin redaksi media massa dari semua jenis, berkumpul di Nusa Dua Bali. Mulai pemred media cetak, online, televisi sampai radio. Tujuannya adalah membahas 'Indonesia Perkasa'. Pemred Malang Post, Sunavip Ra Indrata, menjadi satu-satunya perwakilan media dari Malang, diantara tiga Pemred dari media di Jawa Timur, yang ikut diundang. Berikut catatannya.

''Sangat susah memilih sekitar 300 pemimpin redaksi dari sekitar 3.000 media yang ada di seluruh Indonesia. Pasti ada ketidakpuasan, dari yang terpaksa tidak ikut diundang. Tetapi ini adalah langkah pertama, ketika Pemred media, dari jenis apapun, berkumpul dan membahas termasuk berpikir untuk Indonesia,'' itulah komentar sang Ketua Forum Pemred, Wahyu Muryadi, ketika berbincang santai.
Ya, dalam sejarah bangsa ini, baru kemarin di Nusa Dua, seluruh Pemred bertemu atas inisiatif sendiri. Tidak ada campur tangan pihak lain. Termasuk pemerintah. Juga tanpa ada sepeser pun dana APBD/APBN, yang masuk dalam acara tersebut.
Semua dana, dari sponsor. Mulai kelas platinum, gold, silver atau pendukung. Jumlahnya puluhan. Itupun banyak yang ditolak. Termasuk dalam kelas sponsor premium. Konon, dana yang terkumpul dari sponsor, sudah dalam hitungan puluhan miliar. ''Tapi kita tetap independen. Meski sponsor platinum, kalau berbuat salah, tetap kita gebukin,'' kata Pemred Tempo ini.
Soal dana itu sendiri, panitia benar-benar transparan. Tidak saja menyiapkan audit, agar lebih profesional, Pertemuan Puncak Pemimpin Redaksi se Indonesia itu, dihendel oleh event organizer. Dyandra EO yang bisa bermain di Jakarta Expo, diberi kepercayaan.
Sementara kelebihan dana yang didapat dari sponsor, Forum Pemred, akan mendonasikan untuk beasiswa putra-putri wartawan. Obsesinya, beasiswa akan diberikan kepada sekitar 5.000 anak wartawan.
''Tapi jangan berpikir kami sengaja mencari uang dengan membuat acara ini. Kami kaget juga teman-teman sangat antusias menjadi sponsor. Karena itu, dengan terpaksa banyak kami tolak, ketika kami rasa dananya sudah cukup,'' imbuh pria asal Madura ini.
Meski demikian, banyak juga cemooh muncul ketika pertemuan itu digelar. Banyak tudingan miring, isu tak sedap sampai bermacam-macam fitnah. Terutama sekali melihat glamournya 'pesta' Pemred. Apalagi gaungnya sampai mengalahkan pertemuan menteri luar negeri se Asean dan Amerika Latin, yang kebetulan digelar di waktu yang sama dan di tempat yang berdekatan.
Belum lagi melihat jumlah dan 'nama besar' pemateri yang hadir. Wajar kalau dalam sebuah sesi diskusi, sampai ada tujuh pemateri yang naik panggung. Bahkan di hari kedua, sampai harus dibagi dua ruang, dengan materi yang berbeda, untuk sekadar memberi ruang kepada pemateri. Jadi jangan heran, kalau sekelas menteri hanya punya waktu maksimal 15 menit untuk menyampaikan buah pikirannya. Jika ada pemateri yang telat, mohon maaf, harus mau menjadi pendengar. Meski yang telat itu sekelas menteri atau tokoh nasional.
Itu pun masih banyak menteri yang protes, kenapa tidak diberi kesempatan hadir. Belum terhitung pimpinan instansi lain. Termasuk bos-bos perusahaan besar, baik swasta maupun negeri, yang juga sewot, karena tidak diundang.
Ada juga yang justru diundang, tapi tidak mau hadir. Misal, Harry Tanusudibyo, bos MNC sekaligus pendiri Perindo, Aburizal Bakrie, Ketua Umum Golkar maupun Menteri PU, Joko Kirmanto. Khusus yang terakhir, ada pemberitahuan. Tidak hadir karena harus menghadapi DPR. Tapi ketidakhadiran mereka, sama sekali tidak mengurangi kualitas diskusi. Apalagi, pembicara 'cadangan' masih antre untuk kapan pun diundang hadir.
Magnet Pertemuan Puncak Pemred itu benar-benar sangat tinggi. Apalagi orang nomor satu di Indonesia, Presiden SBY, juga ikut hadir. Termasuk mengajak beberapa tamu negara, ikut bersama-sama bertemu para Pemred.
Tak heran jika undangan santap malam pun, bertebaran. Semuanya berkelas dan di lokasi yang juga high class. Bahkan konon dalam satu jamuan makan malam, harga perorang mencapai Rp 500 ribu. Padahal yang datang. Ratusan. Itu belum termasuk hiburan yang menghadirkan artis ibukota.
''Masih lebih enak makan ikan bakar di Jimbaran. Ada ciri khas yang berbeda dibanding menu-menu khas hotel itu. Apalagi kalau lihat harganya, membuat kita jadi ogah makan. Meski kita gak ikut bayar,'' kata Don Kardono, Pemred Indopos, yang juga menjadi salah satu panitia.  
Dan benar juga, ketika acara jamuan makan malam selesai, beberapa Pemred memilih memisahkan diri. Tidak lagi bergabung dengan bus yang akan membawa ke hotel, tapi memilih naik taksi, menuju Jimbaran. Di tepi pantai, ditemani gulungam ombak dan tari-tarian khas Bali, ikan bakar Jimbaran, tetap sangat nikmat disantap.
Bahkan di tepi pantai itu pula, diskusi tetap mengalir dengan hangat. Tidak ada lagi perbedaan 'bendera', jenis dan besar kecilnya sebuah media. Semua mengalir begitu saja, sekalipun yang dibahas, lumayan berat. Soal komitmen dari hasil pertemuan, yang akan diberikan kepada negara. Karena di hari terakhir pertemuan, Forum Pemred, ingin memberikan langsung kepada Presiden SBY, seputar komitmen Pemred untuk Indonesia. (Ra Indrata)