Ketua Forum Bahas Kondom, Presiden pun Sempat Curhat

Antara Presiden dan Pemimpin Redaksi (Pemred), terkadang memang tidak ada sekat. Paling tidak, ewuh pakewuh dan sungkan, bisa sedikit dihilangkan. Hasilnya, justru suasana menjadi cair. Presiden pun bisa dengan leluasa curhat. Itulah gambaran yang tersaji, dalam Pertemuan Puncak Pemimpin Redaksi se Indonesia, di Bali Nusa Dua Convention Center, 14 Juni lalu.

Pertemuan puncak para Pemred se Indonesia itu, memang berlangsung dua hari. 13 dan 14 Juni lalu. Tetapi para pemimpin media sudah banyak yang datang sejak sehari sebelumnya. Namun baru di hari terakhir, suasana agak sedikit ‘tegang’.
Jika biasanya masuk ke area venue pertemuan di Bali Nusa Dua Convention Center itu biasa-biasa saja, Jumat (14/6), semua peserta harus melewati metal detector. ID Card, juga diperiksa lebih teliti. Nama dicocokkan dan dilihat apakah sudah dilengkapi stempel salah satu instansi militer di Bali.  
Beberapa Pemred sempat datang tanpa menggunakan batik atau full dress, seperti tertera dalam undangan. Sang penerima tamu dengan busana adat Bali, langsung menanyakan kondisi tersebut.
‘’Waduh, pengetahuannya soal batik masih rendah. Ini kan juga batik. Motifnya kotak-kotak,’’ kata salah satu Pemred, yang waktu itu menggunakan kemeja bermotif kotak. Bukan baju batik. Tapi dengan santai dia tetap saja masuk. Paspampres yang ikut mendampingi di meja terima tamu, hanya mesem.
Di dalam ruang pertemuan, tempat duduk juga sudah berubah. Terpisah-pisah sesuai ‘status’. Ada deretan kursi khusus menteri, pejabat tinggi, pejabat daerah, pendiri Forum Pemred, Pemred sampai undangan dan deretan kursi wartawan peliput.
Tetapi hanya di baris pertama sampai kedua di belakang deretan kursi presiden, yang benar-benar patuh. Lainnya, asal ada kursi kosong, langsung diisi. Meski di setiap kursi, sudah tertera nama dan jabatan.
‘’Daripada repot, dipindah saja. Toh di depan yang punya tidak datang. Nggak enak terlalu ke belakang,’’ kata Ismet Hasan Putro, sang bos PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI), salah satu BUMN dengan core utama pabrik gula tersebut.
Ismet yang mantan wartawan itu, lantas mencopot namanya yang terpasang di kursi, dipindahkan ke kursi di depan. Berjajar dengan Dirut Pertamina, Karen Agustiawan dan Dirut Garuda Indonesia, Emirsyah Satar.
Ternyata, pindahnya Ismet membawa berkah. Betapa tidak, dia semakin dekat dengan presiden. Bukan itu saja, Ketua Forum Pemred, Wahyu Muryadi, ketika membuka sambutan, juga langsung memberi penjelasan, soal souvenir kondom, yang diberikan kepada peserta pertemuan puncak itu.
‘’Semua itu kelakuan Mas Ismet itu, Bapak Presiden. Salah satu anak perusahaan RNI, memproduksi kondom. Agar lebih mudah dikenal, contoh kondomnya diberikan kepada peserta sebagai souvenir. Jadi tidak ada maksud apa-apa. Biar makin laku saja,’’ kata Wahyu, yang disambut tepuk tangan seluruh hadirin.
Presiden dan ibu negara, juga tertawa lepas. Bahkan Ismet, sampai harus berdiri sambil bertepuk tangan. Sangat lepas sekali. Tidak ada sekat.
‘’Mas Ismet juga paham, masak dari kebutuhan kondom yang beredar di Indonesia, 95 persen disuplai produk luar. Padahal Indonesia, adalah produsen latek terbesar. Selama ini, kondom produksi lokal, hanya untuk konsumsi BKKBN saja, untuk dibagikan gratis. Karena itu, Mas Ismet mencoba mengenalkan kondom produksi lokal. Agar ukurannya bisa pas,’’ kata Wahyu lagi. Dan Presiden, lagi-lagi tertawa.
Terbukti, suasana yang tidak terlalu formal itu, membuat Presiden lebih santai ketika memberi sambutan. Bahkan dia tidak mau sambutannya disebut sebagai keynote speech. ‘’Biar tidak terlalu seram. Cukup sebut saja, kita lagi sharing,’’ kata Presiden SBY. ‘’Bukan hanya ketika Pak Wahyu pidato, semua boleh tepuk tangan. Sekarang juga boleh tepuk tangan. Tidak dilarang kok. Toh, saya sudah tidak mau maju (jadi presiden) lagi,’’ katanya. Tepuk tangan dan tawa lepas pun bergema.
Termasuk selama hampir 45 menit SBY sharing dari atas podium, yang khusus di boyong dari Jakarta, mungkin tak sampai 10 menit, materi yang disampaikan, dibaca dari teks yang sudah disiapkan. Selebihnya, SBY berbicara tanpa teks.
‘’Masak, kalau ada mantan Pemred bisa jadi presiden, presiden tidak boleh jadi Pemred. Karena itu, kata tetangga saya, sekarang saya harus berbaik hati dengan Pemred. Siapa tahu, kalau nanti presidennya mantan Pemred, berarti ada posisi Pemred yang kosong. Saya akan melamar jadi Pemred. Masak tidak diterima,’’ katanya dan lagi-lagi, disambut dengan tepuk tangan dan tawa lepas dari hadirin. Termasuk Ibu Ani Yudhoyono, yang tertawa lepas, meski tangannya tidak pernah lepas dari kamera, yang sewaktu-waktu dipakai menjepret momen yang ada di ruangan tersebut. (Ra Indrata)