Tetap Rajin Tulis Buku, Sempat Rasakan Ngajar di Perbatasan

Kepala Sekolah SMAN 3 Paling Berprestasi di Jawa Timur

Sukses memimpin beberapa SMA favorit di Kota Malang, mewarnai perjalanan karir Kepala SMAN 3, HM Sulthon M.Pd. Tak heran kalau tahun ini, Pemerintah Provinsi Jawa Timur menganugerahkan gelar kepala sekolah berprestasi kedua tingkat Jatim kepada Sulthon. Agustus 2013 mendatang, ia akan diundang menerima penghargaan di kantor Gubernur Jatim.

Sosok kepala sekolah ini, lekat dengan image ustadz. Di SMAN 3 yang sekarang dipimpinnya, Shulton memiliki panggilan ustadz dari para gurunya. Religius dan sabar, kesan itulah yang melekat pada pria kelahiran Mojokerto ini.
’’Menurut saya, anak yang cerdas saja tidak cukup. Tapi spiritualnya juga harus baik,’’ ungkap Sulthon.
Kunci sukses menurutnya ada tiga hal, yaitu disiplin waktu, belajar dan beribadah. Di SMAN 3, semua siswanya memiliki intelektual yang tinggi. Karena itu dasar ilmu agama menjadi penting agar intelektualitas yang dimiliki anak selalu mengarah pada hal yang positif.
Penghargaan sebagai runner up Kepala Sekolah Berprestasi ini didapatkannya melalui seleksi ketat di tingkat kota. Kemudian pria yang pernah mengajar di daerah perbatasan itu mengikuti proses seleksi di provinsi.
Tes yang dilalui meliputi tes potensial akademik, tes psikologi, presentasi tentang makalah yang ditampilkan. Sulthon mengupas tema strategi berdua (berproses dan beristiqomah) untuk mewujudkan puncak prestasi OSN yang berkelanjutan di SMAN 3 Malang.
Strategi istiqomah dan berproses ini menurutnya tidak bisa dilakukan secara instan. Sebab jika hanya instan saja maka prestasi akan muncul sekali saja dan akan berhenti pada tahun berikutnya.
Salah satu tantangan besar itu, kata salah satu pengurus pondok pesantren mahasiswa Al Hikam ini, adalah menjaga tradisi prestasi. SMAN 3 setiap tahun menjadi sekolah yang sukses dalam olimpiade sains nasional (OSN). Bahkan tahun ini tiga siswanya akan berangkat ke luar negeri bergabung dalam timnas olimpiade.
Pengalaman bapak empat putra ini memimpin sekolah dimulai di SMAN 10. Alumnus IAIN Sunan Ampel Surabaya itu menjadi kepala di SMAN 10 pada 2003-2005. Waktu itu SMAN 10 baru berkembang dan Shulton menjadi kepala sekolah ke tiga disana.
Sukses mencanangkan terobosan bagi sekolah yang ada di Sawojajar itu, ia dimutasi ke SMAN 1. Saat di salah satu SMA komplek tugu, ia pun sukses mengantarkan kelas Bahasa SMAN 1 menjadi yang terbaik ke dua di Jatim dalam pelaksanaan UN.
Bahkan waktu itu pamor SMAN 3 hampir disalip SMAN 1 yang tak henti menelorkan prestasi. Sukses mengibarkan nama harum SMAN 1, Sulthon dimutasi ke SMAN 3. Di sekolah paling favorit ini ide-ide inovatif dan kreatifnya kembali ditantang. ’’Memanage sekolah yang sudah besar dan punya nama besar itu tidak mudah. Justru tantangannya besar,’’ kata dia.
Kesuksesan yang diraih SMAN 3 menurutnya tak lepas dari kerjasama guru dan juga orang tua. Semulus-mulusnya jalan, pasti ada kerikil kecil. Namun dengan pendekatan dan komunikasi yang baik, masalah bisa diatasi.
Bila dalam implementasi memimpin sekolah ada kendala menurutnya itu hal  biasa. Solusinya adalah  bagaimana mengeliminir sehingga seluruh keluarga besar di sekolah ikut serta majukan mutu pendidikan.
Selain handal memimpin sekolah, Sulthon juga cukup rajin menulis. Saat ini sudah ada tiga judul buku yang diterbitkannya. Masing-masing adalah buku pendidikan Islam, etika Islam, dan pendidikan Islam Humanistik. Selain itu ia juga aktif menulis di Jurnal konstitusi.
Meski sudah memasuki usia 55 tahun, semangat Sulthon untuk sekolah tak surut. Saat ini ia sedang menyelesaikan studi S3 di Universitas Negeri Malang (UM).
Penghargaan bidang pendidikan sebelumnya juga didapatkan Sulthon untuk beberapa award. Diantaranya The best educator of the year 2011 dari Kementrian Perindustrian dan Satya Lencana Karya Satya XX 2011  dari Presiden RI.
‘’Saya senang dengan penghargaan ini karena menjadi penutup manis di tahun pelajaran. Setelah siswa SMAN 3 yang banyak prestasi, sekarang kepala sekolahnya tidak mau kalah,’’ ujarnya sambil tersenyum lebar. (lailatul rosida)