Belajar dari Trans Jogja untuk Alternatif Angkutan Murah

Ada sejumlah kemiripan yang membuat Malang dan Jogjakarta sama-sama dijuluki Paris Van Java. Selain dikenal sebagai Kota Pendidikan, sendi ekonomi dan wisata edukasinya tidak berbeda jauh. Sayangnya, satu inovasi modern di daerah istimewa tersebut yang belum terealisasi di Malang adalah Trans Jogja. Meski bukan hal baru, alternatif transportasi massa murah meriah itu tetap menarik. Apalagi ketika BBM mulai naik. Berikut catatan wartawan Malang Post, Tommy Yuda Pamungkas, yang belum lama ini berkunjung ke Kota Gudeg.

SUDAH lima tahun Trans Jogja beroperasi sejak kali pertama dilaunching medio 2008 silam. Setiap harinya, armada bus ber AC ini berjalan mulai pukul 05.30-21.30 WIB dan melayani enam rute khusus,  yang beberapa diantaranya tidak dilalui bus kota.
Sama halnya Trans Jakarta, Trans Jogja juga memiliki halte yang tersebar di berbagai tempat. Yang jadi pembeda barangkali Trans Jogja tidak memiliki koridor khusus seperti Trans Jakarta, karena masih bercampur dengan kendaraan lainnya.
Trans Jogja sanggup menampung 20 penumpang duduk dan 20 penumpang berdiri. ‘’Malang harus punya ini,’’ gumam saya lantang dalam hati.
Cukup membeli tiket single trip seharga Rp 3.000, siapapun bisa naik Trans Jogja kemanapun dan selama apapun. Jika kita turun di satu halte kemudian transit ke armada lain, kita tidak perlu membayar lagi. Namun hal ini tidak berlaku jika kita bergati halte.
‘’Kalau mau lama-lama di Jogja, sebaiknya beli tiket berlangganan dengan sistem isi ulang,’’ tutur seorang petugas shelter Trans Jogja bernama Firdayanti.
Harganya mulai dari Rp 15.000, Rp 25.000, Rp 50.000, dan Rp 100.000. Keuntungan menggunakan tiket berlangganan ini adalah kita hanya akan dikenai biaya Rp 2.700 untuk sekali perjalanan.
Selain itu, jika kita pindah halte dengan jarak waktu kurang dari 1 jam sejak pertama kali naik Trans Jogja maka tidak akan dikenai biaya. Untuk membeli tiket langganan ini kita harus mengisi data diri terlebih dulu di halte-halte khusus yang bertanda POS (Point of Sales).
Sebagai alternatif transportasi dalam kota, Trans Jogja menjadi angkutan umum yang nyaman, mudah, murah, dan aman. Jika bingung dengan lokasi yang hendak dituju, kita bisa bertanya pada petugas Trans Jogja di halte ataupun petugas yang ada di dalam bus. Iseng saya mencoba naik Trans Jogja dari halte Kepatihan (Kantor Gubernur) Jogja di Jalan Malioboro.
Hanya berselang sekitar 10 menit dari armada yang lebih dulu melaju ketika saya sedang mengantre tiket, sudah ada satu armada Trans Jogja lainnya yang berhenti di halte dan  siap mengantar saya 'jalan-jalan'.
Bebarengan ada sepasang turis Jerman paro baya yang juga ikut naik. ‘’Apa benar bus ini menuju ke Prambanan,’’ tanya sang turis wanita dengan Bahasa Inggris kepada petugas.
Rupanya, ibu tiga bernama Mirriam Schrullhe ini baru kali pertama naik Trans Jogja. ‘’Kami percaya diri saja naik kendaraan ini. Orang-orang bilang kami tidak akan tersesat. Sistemnya teratur sekali,’’ terangnya kepada Malang Post yang kebetulan duduk bersebelahan.
Benar saja, sekitar 60 menit perjalanan, kami tiba di halte Prambanan. Tepatnya di terminal bus yang jaraknya masih sekitar 2 kilometer dari komplek candi peninggalan Mataram Kuno tersebut. Perdebatan dalam logika saya tak henti bergejolak.
Dengan sistematis yang baik, mulai dari ticketing, guidence, safety hingga operasional lainnya, Pemerintah DIY tak hanya menyuguhkan kemudahan moda transportasi darat bagi warganya, namun juga memberikan fasilitas terbaik untuk menyokong sektor pariwisata yang menjadi denyut kehidupan masyarakat.
Dalam benak saya, entah tiga atau lima tahun lagi, mungkinkan saya sudah bisa menikmati Trans Malang? Tengok saja potensi yang bisa dikeruk menjadi sarana penunjang andai ada bus antar kota yang membuat kita bisa mencapai Coban Rondo di Pujon, turun ke Jatim Park dan Museum satwa di Batu lanjut ke Taman Wisata Sengkaling dan Museum Brawijaya di Kota Malang kemudian mengakhiri sore dengan indahnya panorama Pantai Balekambang dalam satu rute perjalanan. (tommy yuda pamungkas)