Ketika Kehidupan Pasar Kota Batu Menjadi Ide Seorang Pelukis

Kreasi sepertinya tidak habis dimiliki Watoni. Seniman asal Kota Batu ini menciptakan karya seni rupa dengan menggunakan banyak media. Terbaru, dia menjadikan geliat dan pernak-pernik Unit 3 Pasar Besar Kota Batu, sebagai bahan dasar karyanya.

Siang itu, cuaca Kota Batu kurang bersahabat. Diselimuti mendung, yang membuat matahari bersembunyi. Udara, juga makin dingin. Seorang pria tampak tak begitu terpengaruh, dengan kondisi cuara itu. Dia begitu ramah dan penuh semangat para pengunjung hadir dalam pameran tunggal ‘Unit 3’ di Galeri Raos Kota Batu.
Anton, begitu Wastoni biasa disapa, memang tengah memanerkan karya-karyanya. Ada 13 karya yang dia suguhkan. Namun ada yang beda dibanding pameran lukisan lainnya, yang sebelumnya pernah digelar di kota wisata ini. Anton, menggunakan teknik dan media yang penuh kreasi, sehingga menghasilkan sebuah karya yang unik dan menjadi pembeda dengan hasil karya seminal lainnya.
Seperti karya The silent voice of tailor, Aton menampilkan satu mesin jahit dalam digital print dan berlatar kolase kain di kanvas. Selain itu, di karya Life without dreams dituangkannya dalam lukisan pada triplek berukuran 300x200 cm, yang menyerupai dinding rumah kayu, serta terdapat televisi, vcd player dan bantal. Karya ini ditangkapnya usai melihat banyak orang yang ternyata sangat menikmati hiburan nonton tv dari tv bekas yang loakan.  
‘’Saya gunakan multimedia dan banyak teknik untuk memiliki efek optic yang berbeda. Mungkin jika dengan media lain, tidak terasa auranya. Pada karya saya Discount Second Hand Goods itu sebagai ekspresi setelah menangkap jual beli baju bekas, hand second 50 persen,’’ terang Aton.
Selama ini, dalam berkarya, teknik dan media visual yang digunakannya, selalu mengikuti kemauan gagasan. Walhasil, secara sepintas karya lulusan ISI Yogyakarta ini diakuinya melompat-lompat dan tidak konsisten pada satu teknik atau media saja.
Semua itu dilakukannya karena punya keyakinan secara visual, teknik atau media visual mempunyai efek optis yang berbeda. Observasi dilakukannya mulai tahun 2007 dengan memotret dan merekam video. Baru, sejak awal 2013, dia mulai berkarya.
‘’Pasar besar Kota Batu memiliki beberapa unit lokasi pasar, dengan karakter unit dihuni oleh pedagang sayur, kebutuhan pokok dan buah. Mall orang menengah ke bawah, mereka kesana tidak harus membeli, bisa jalan-jalan saja. bagi pedagang kadang tidak dapat income, tetapi harus keluarkan restibrusi, tetapi juga ada yang income tinggi,’’ ujar Aton.
Pada karya-karya ‘Unit 3’, Aton memamerkan dan rujukan pada kebebasan berekspresi dengan melakukan berbagai eksplorasi artistic, sesuai gagasan yang muncul, teknik dan media mengikuti kemauan gagasan.
Selain itu, ia ingin menciptakan nuansa beda ketika karya-karyanya dipamarekan akan membuat ruang pameran tidak terjadi nuansa visual membosankan. Unit 3 dipilih karena memiliki banyak obyek dan keanekaragaman kegiatan sosial yang dirasanya sangat menarik.
‘’Pasar tidak sekedar sebagai tempat jual beli, tapi bagi pengunjung yang rata-rata kelas menengah ke bawah, difungsikan sebagai tempat jalan-jalan, bersantai atau mencari hiburan, terutama para pria. Padahal dibalik itu semua, juga ada banyak masalah dan fenomena kehidupan,’’ terang peraih penghargaan nominator Printmaking Art Competition and Exhibition Asean 2012 di Vietnam ini. (poy heri pristianto)