Diskusi Kepanjen Jadi Ibu Kota, Peluang dan Tantangan (1)

Kepanjen, yang dulunya hanya sebuah kecamatan, kini sudah berubah menjadi kota setelah ditetapkan sebagai ibu kota Kabupaten Malang. Banyak yang berubah dari kota tersebut, terutama setelah bupati Malang Rendra Kresna memindahkan kantornya ke kota tersebut. Perubahan Kepanjen itu menjadi bahasan menarik dalam diskusi  ‘’Kepanjen jadi Ibu Kota, antara Peluang dan Tantangan’’ yang digelar di kantor Malang Post, Sabtu lalu.

MESKIPUN terbatas, tapi yang hadir dalam diskusi tersebut cukup mewakili bidangnya. Ada Kepala Bappeda Kabupaten Malang, Dr Nehrudin, ketua program magister sosiologi pascasarjana UMM, Dr Rinekso Muliakartono,  ketua komisi C DPRD Kabupaten Malang, M. Noor Muchlas, Ketua KNPI Kabupaten Malang Kresna Dewanata dan pengusaha asal Kepanjen, Juara Rachman.  
Nehrudin yang bicara kali pertama mengatakan,  pemilihan Kepanjen sebagai ibu kota memiliki beberapa pertimbangan, diantaranya kondisi wilayahnya yang relative datar, tidak bergunung-gunung seperti beberapa wilayah di Malang Selatan. Sesuai dengan Perda no.18/2008, secara resmi ibu kota Kabupaten Malang berpindah ke Kapanjen dari sebelumnya di kota Malang. ‘’Saat ini Kepanjen sudah memenuhi syarat untuk disebut sebagai sebuah kota, karena masyarakatnya hidup  dari usaha bidang jasa, industri dan perdagangan,’’ jelas Nehrudin.
Setelah menetapkan Kepanjen sebagai ibu kota, Pemkab Malang melakukan berbagai pembangunan agar wajah Kepanjen benar-benar seperti kota, bukan lagi sekadar kecamatan. Berbagai fasilitas masyarakat dan pemerintahan dibangun untuk menandai identitasnya sebagai sebuah kota. Dimulai dengan pembangunan Stadion Kanjuruhan yang diikuti dengan pembangunan beberapa kantor pemerintahan Pemkab Malang, kini Kepanjen benar-benar menjadi sebuah kota. Hampir semua instansi di Kabupaten Malang sudah pindah ke Kepanjen, tinggal beberapa instansi pelayanan yang masih menempati kantor lama.
Perpindahan kantor Pemkab itu membawa konsekuensi pada mobilitas masyarakat dari dan ke kota Kepanjen. Lantaran pemindahan kantor-kantor itu masih baru, banyak karyawan Pemkab Malang yang masih bertempat tinggal di kota Malang. ‘’Konsekuensinya adalah, mereka masih wira-wiri  Malang Kepanjen sehingga menyebabkan kepadatan arus lalu lintas di jalur utama. Bahkan jalur Gadang – Kendalpayak saat ini juga mulai padat, ‘’ terang alumni FE UB tersebut.
Sebagai sebuah kota, Kepanjen harus memiliki icon. Itulah yang saat ini belum ada di Kepanjen. Pemkab berencana membaut ruang terbuka untuk kegiatan masyarakat (public space) semacam alun-alun yang bisa dimanfaatkan masyarakat untuk bersosialisasi. Rencananya akan dibuat di lokasi pasar Kepanjen yang letaknya pas di tengah kota, sedangkan pasar tersebut dipindah ke pasar Sumedang yang agak ke pinggir kota. ‘’Tapi ini masih dalam perencanaan, masih belum bisa diterima terutama soal pemindahan pedagang tersebut,’’ jelasnya.
Icon lain adalah jalan lingkar barat (jalibar) yang diproyeksikan menjadi jalur utama kota. Nehrudin membayangkan jalibar itu dalam beberapa tahun yang akan datang bisa menjadi seperti Jalan Ijen di Kota Malang. Saat ini sudah dipersiapkan membentuk jalan sepanjang 5.000 meter dengan lebar 26 meter tersebut dengan berbagai fasilitas agar menjadi jalan yang baik. Kehadiran jalan ini akan merangsang perkembangan kota ke arah barat yang dinilai lebih prospektif.
Soal icon kota ini juga menjadi pemikiran khusus bagi Kresna Dewanata, Ketua KNPI Kabupaten Malang. Menurut dia, sebenarnya Kabupaten Malang sudah memiliki icon yang sangat terkenal yakni Stadion Kanjuruhan, satu-satunya stadion di  Jawa Timur yang bertaraf internasional, karena sudah diakui oleh konfederasi sepak bola Asia (AFC). Dengan stadion itu Kabupaten menjadi lebih dikenal, karena dipakai sebagai home base Arema yang pertandingannya sering disiarkan TV. Hal ini menjadi promosi tersendiri bagi Kabupaten Malang.
Hanya saja Dewa – panggilan akrabnya – mengusulkan bukan hanya sepak bola, tapi juga cabang olahraga yang lain bisa dibuatkan fasilitas di kompleks Kanjuruhan. Kabupaten Malang memiliki banyak atlet yang butuh fasilitas untuk berlatih dan bertanding. Kalau berbagai venue cabang olahraga itu bisa dibuat dalam satu kompleks, itu akan menjadi daya tarik tersendiri bagi Kabupaten Malang, paling tidak bisa menjadi tuan rumah olahraga multieven.
Fasilitas lain juga perlu dipersiapkan sebagai sebuah ibu kota. Dia menyebut misalnya hotel berbintang yang sangat mendesak keberadaannya untuk menampung para tamu pihak eksekutif dan legislative. Belum lagi tim tamu Arema yang akan bertanding di Kanjuruhan. Selama ini semua kebutuhan akomodasi tersebut berada di kota Malang. ‘’Kepanjen sudah layak disebut sebagai kota karena sudah memiliki fasilitas yang dibutuhkan masyarakat kota. Hanya saja masih perlu adanya Zanisasi pedagang agar teratur,’’ jelasnya. (husnun nd)