Pelatihnya Berjiwa Bonek, Tapi Berhati Arema Bangets

Prestasi runner up Drum Corp KDS memang kerja tim. Mulai pelatih, pengurus, paguyuban wali atlet, atlet, simpatisan dan sponsor pendukung. Namun di balik itu semua, ada sosok yang memang merupakan ‘otak’ sekaligus ‘desainer’ hebat prestasi KDS Jr. Sosok inilah yang menentukan warna penampilan KDS Jr dalam pentas Hamengku Buwono Cup di Jogjakarta 23 Juni lalu. Siapakah dia, bagaimana kerja kerasnya sehingga tim drum band kebanggaan Kota Malang ini menjadi perbincangan di pentas nasional?  
Dia adalah pelatih senior KDS Jr. Namanya Damanhuri SE, asli Jalan Embong Malang Kota Surabaya. Karir drum bandnnya dimulai saat menjadi asisten pelatih drum band SMP Ta’miriyah Surabaya tahun 1992. Tahun 1993 mulai melatih beberapa unit drum band di Surabaya, yaitu SMPN 2, SD Dapena, SMA Wahid Hasyim Pusat, SMA Mariam, dan SMP Ta’miriyah Surabaya. Tahun 1995 mulai melatih di luar kota. SMPN 1 Jombang, SMPN 1 Kota Madiun, SMP Malik Ibrahim Gresik, MTs Darul Maarif Lamongan dan SMPN 1 Probolinggo.     
Tahun 1996, mulai mengibarkan nama KDS (Kadir Daman Saiful). Itu gabungan tiga pelatih. Hanya sebagai simbol nama yang mudah diingat. Tahun 2000 mulai masuk Bumi Arema Malang dengan melatih di SD Bareng 3 dan SD percobaan 1. Tahun 2002 mendirikan klub drum band Kelana Duta Swara (KDS) di Jombang dengan tujuan memberantas narkoba dan kenakalan remaja secara nyata melalui drum band. Tahun 2003 membentuk organisasi pelatih KDS. Tahun 2003-2005 melatih di Pemda Waringin Barat Kalimantan Selatan.
Karena suka dengan cuaca Malang, tahun 2002 mulai menetap di Malang dan tahun 2005 melatih SMPN 13. Tahun 2007 mendirikan Drum Corp Ken Arok Duta Swara (KDS) Jr dengan tujuan yang sama. Dan tahun 2007 -2008 menjadi pelatih tim drum band Jatim dalam PON di Kalimantan Timur. Saat itu Jatim menjadi juara umum.  Di Malang, Gus Daman juga membuat Paguyuban Pelatih Drum Band se Malang Raya. Bersama KDS dan Malang Post, setiap tahun tepatnya bulan April, KDS membuat event KDS Display n Playpass Competition. Tahun 2013 kemarin memasuki tahun keenam.
Meski bonek, namun jiwanya sudah menyatu bahkan sudah menjadi Aremania. Pembawaannya tenang, kalem, tapi sangat tegas dan disiplin dalam melatih. Tangan dingin Gus Daman, panggilan akrabnya inilah yang membuat KDS Jr hingga kini terus berkibar dan selalu menorehkan prestasi membanggakan.
Termasuk di Kejurnas Drum Band/Marching Band Hamengku Buwono Cup di Jogjakarta 22-23 Juni lalu. Di atas kertas dan secara performa penampilan, KDS Jr juara. Namun faktor X membuat KDS Jr dipaksa menjadi runner up. Meski begitu, pelatih Damanhuri SE yang nyaris mau protes akhirnya legowo. Dia berusaha memberikan pelajaran yang baik untuk anak buahnya.
Gus Daman memang selalu mengajarkan disiplin yang ketat bagi semua anggota KDS. Tidak peduli lama, atau baru. Tidak ada istilah senior atau yunior. Semua sama, semua harus bertanggungjawab masing-masing demi tim KDS. Dalam mengelola dan melatih anggota KDS, suami Nor Faridatus Sholihah ini memang sangat detail. Tidak hanya menggunakan teknik bermain drum band saja, tapi menggunakan pendekatan yang nyaman bagi anak buahnya.
Anggota yang sudah lebih dulu masuk dan sudah berpengalaman dalam lomba, baik Kejurda maupun Kejurnas, diberikan tanggungjawab untuk membantu menjadi ‘asisten’. Seperti Ceye, Yudi, Mada, Witono alias Phyton, Wahyu, Adit, dan Fira Nurbillah.
Mereka masing-masing punya tanggungjawab masing-masing. Mulai dari penanggungjawab peralatan, penanggungjawab latihan, menghafal not, display, tiup dan color guard. Tak heran, meski Gus Daman tidak bisa hadir dalam latihan, mereka para ‘asisten’ inilah yang secara otomatis menjalankan program latihan yang sudah dikonsep sebelumnya.
‘’Ini sekaligus bekal kepada mereka agar kelak, mereka bisa melatih adik-adiknya sendiri. Tidak selalu mengandalkan keberadaan pelatih. Lambat laut, kita akan tergeser waktu. Dan saat itulah, mereka yang sekarang membantu akan menjadi pelatih bagi adik-adiknya. Saya memberikan tanggungjawab agar mereka belajar kepada tim, dan dirinya sendiri,‘‘ ungkap Damanhuri di Bakso Gun kawasan Mall Olympic Garden (MOG) kemarin sore.
Tidak hanya diberi kesempatan membantu melatih, para ‘asisten‘ itu juga diberi tanggungjawab membimbing adik-adiknya. Maka tidak heran, di KDS semua berperan, dan semua bertanggungjawab. ‘‘Semua alat yang dipakai berlatih merupakan tanggungjawab masing-masing. Jadi tidak ada alasan, tidak membawa alat, atau tidak memakai alat. Karena itu tanggungjawab masing-masing. Ini penting karena tidak ada satu alat, tidak sempurna tim ini berlatih dan bermain,‘‘ ungkap Daman yang dibenarkan para ‘asistennya‘.
Bagi Daman, awalnya memang susah. Tapi keyakinan dan demi KDS, jiwa dan raganya terpanggil untuk 100 persen total. Dia yakin Tim KDS bisa ikut kejurnas, meksi personelnya baru semua. Bahkan Color Guard juga baru 100 persen. Mulai dari 0. Sementara waktu yang ada sangat mepet. Itu belum ditambah problem keuangan demi melancarkan keberangkatan tim ke Jogjakarta.
‘‘Dua tahun KDS vakum lomba. Maka Tahun 2013, bisa atau tidak, KDS harus ikut Kejurnas. Itu motivasi awalnya,‘‘ jelasnya di sela-sela latihan KDS untuk persiapan Malang Flower Carnival Minggu besok.
Namun rasa solidaritas, kekeluargaan dan keguyuban yang dibangun di KDS membuat semuanya menjadi ringan. Apalagi wali atlet juga tidak tinggal diam. Kerja keras pelatih juga diapreasiasi dengan baik. Buktinya, ketika latihan, ada wali atlet yang membelikan makanan ringan, makan malam, dan membawakan minuman.
‘‘Kalau demi anak-anak, silahkan bapak ibu memberi apa saja. Karena mereka yang berlatih keras demi KDS,‘‘ ungkap Damanhuri kepada Ibu Rini, yang malam itu membawakan roti boy untuk semua personel KDS di sela-sela latihan. ‘‘Kita lagi makan nasi goreng mas. Silahkan ke sini, makan sama-sama. Lumayan, dibelikan papanya Daphne,‘‘ ungkap Candra Yanuar alias Ceye kepada Malang Post melalui whatsapp.
Bagi Gus Daman, di drum band, anak-anak KDS tidak hanya berlatih musik. Tapi juga banyak hal. Sopan santun, kedisiplinan, kemandirian, tanggungjawab dan etika juga diajarkan. ‘‘Yang saya bangun komunikasi dua arah, antara pelatih dan atlet. Saya juga berperan sebagai partner berlatih, teman berkomunikasi, kakak bahkan orang tua. Itu agar anak-anak nyaman. Dan mereka enjoy berlatih. Menang atau kalah itu bukan tujuan bermain drum band,‘‘ tegasnya.
Dalam menjalankan tugas kepelatihan, Gus Daman juga dibantu sang istri tercinta, Nor Faridatus Sholihah. Dia lah yang membantu desain baju, make up dan segala pernik-pernik yang sudah dikonsep Gus Daman. Praktis, pekerjaan Gus Daman juga semakin ringan dengan didampingi Bunda Ida, begitu biasa Nor Faridatus Sholihah dipanggil anak-anak KDS.  
‘‘Mengurus banyak orang tidak mudah, tapi juga tidak sulit. Siapa pun bisa asal semua komitmen dan konsisten dan punya tanggungjawab besar. Mengurus Drum Band itu jangan cari untung. Sebab pasti banyak ruginya. Tapi bila mengurus drum band dengan hati, maka akan banyak yang didapat dari organisasi ini. Saya akan terus mencintai drum band, karena ini hidup saya. Maka saya harus menghidupi dan memajukan drum band di Bumi Malang Raya,‘‘ tandas pelatih yang tak kenal kompromi ini.(abdul halim)