Kesibukan Petugas Kantor Pos Layani Penerima BLSM

SEBANYAK 170.192 warga tak mampu di Malang Raya mendapat Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM). Untuk mencairkan bantuan pemerintah pusat itu memang sangat  butuh kesabaran dan ketekunan  ditengah tuntutan cepatnya ritme kerja. Bagaimana petugas Kantor Pos Malang melayani para warga tak mampu yang mendapat jatah kompensasi kenaikan harga BBM itu?

Seorang perempuan paruh baya bergegas di halaman Kantor Pos Malang.  Sembari memegang  Kartu Perlindungan Sosial (KPS),  KTP dan Kartu Keluarga (KK), warga Kelurahan Bareng  tersebut setengah ngotot. Ia ingin mencairkan BLSM saat itu juga.
Sejumlah petugas lalu memberi pengertian. Dengan penuh ramah, mereka meyakinkan si pemegang KPS itu bahwa ia datang bukan pada jadwalnya. Petugas pun mempersilahkan dia datang lagi sesuai jadwal pencairan BLSM utuk kelurahan Bareng.
Itu hanyalah sebagian kecil cara petugas Kantor Pos Malang yang bertugas mencairkan BLSM. Mencairkan bantuan senilai Rp 300 ribu per dua bulan untuk warga tak mampu itu butuh kesabaran dan telaten. Juga dituntut untuk kerja cepat.
Bayangkan saja, jumlah penerima BLSM mencapai 170.192 orang. Mereka tersebar di Malang Raya. Di Kota Malang sebanyak 16.990 orang, Kabupaten Malang sejumlah 147.202  orang dan Kota Batu hanya 6.000 orang.
Selain jumlahnya yang banyak, penerima BLSM rata-rata berlatarbelakang pendidikan yang tidak tinggi. Disinilah butuh pendekatan khusus dan startegi mengatur pencairan BLSM.
“Sebelumnya kami sudah sosialisasi kepada petugas agar menyeusaikan karakteristik warga. Harus sopan, ramah dan bekerja sesuai SOP pembayaran,” terang Kepala Kantor Pos Malang, Kiagus M Amran kepada Malang Post.
Petugas yang disiapkan pun sesuai jumlah penerima BLSM. Tujuannya untuk menghindari terjadinya antrean yang panjang. Pasalnya, lama mengantre rawan terjadi desak-desakan hingga berujung protes.
Selain melayani  para  penerima BLSM dengan ramah,maka kerja cepat dan lincah  menjadi tuntutan. Itu karena petugas wajib bekerja secara online saat mencairkan BLSM kepada warga tak mampu.
Pencairan BLSM memang dilakukan dengan sistem berbasis online. Tujuannya agar mudah diakses dan diketahui secara transparan. Selain itu mudah diawasi secara langsung oleh petinggi negara. Karena menggunakan sistem online inilah petugas harus lincah. Maklum, basis sistemnya adalah internet. Sementara tidak semua wilayah atau lokasi pencairan BLSM ramah dengan jaringan internet. Karena itulah petugas harus menyiapkan empat sim card provider untuk ditancapkan pada modem saat pencairan BLSM.
“Petugas menyiapkan empat sim card untuk satu loket. Tinggal disesuaikan provider mana yang jaringan internetnya bagus. Jadi sebelum membayar, petugas cari tahu dulu provider yang jaringannya bagus,” terangnya.
Selain sibuk mencari jaringan internet yang cepat sesuai provider, petugas harus setting peralatan kerja. Yakni laptop, modem dan barcode reader. Semua peralatan kerja harus siap operasional. Jangan sampai lemot karena bisa mempengaruhi online pembayaran BLSM.
Anna Maria Ulfa, petugas kantor Pos Malang yang bertugas dalam pencairan BLSM  mengatakan begitu. Ia punya tips tersendiri agar penerima BLSM selalu sabar saat mencarikan bantuan.“Ya selalu ramah dan menyapa  sesuai SOP kami. Dan yang terpenting harus menggunakan bahasa mereka. Bahasa yang sederhana, mudah dipahami,” kata Anna, sapaan akrab Anna Maria Ulfa.
Manager Layanan Surat dan Paket Kantor Pos Malang ini sangat paham  penerima BLSM memiliki karakter yang berbeda. Mereka tak bisa disamakan dengan masyarakat kelas menengah keatas.
Jangan sampai warga merasa pencairan BLSM selalu tertunda. Warga yang terlewati saat pencairan BLSM pun harus diperhatikan serius. Karena itulah dibuka posko yang menangani warga yang belum mencairkan BLSM sesuai jadwal. (vandri van battu)