Tolak ke Singapura, Berdoa Lulus Sekolah di Kakbah

Ada damai yang dirasakan ketika mata diberikan kesempatan melihat langsung keagungan Kakbah. Tempat yang menjadi tujuan utama seluruh umat muslim di dunia ini, juga menjadi destinasi yang spesial bagi Putri Thania Dewinta, The 3rd Winner Putri Kartini 2012. Seperti apa cerita perjalanan spiritualnya tersebut?

Musim liburan telah tiba. Seluruh pelajar memanfaatkan momen tersebut untuk menghabiskan waktu bersama keluarga di berbagai tempat wisata. Namun, bukan hanya tempat wisata yang menjadi tujuan mereka.
Beberapa remaja baik SMP hingga SMA, juga sangat antusias untuk menggunakan waktu liburnya tak sekadar berwisata, namun juga beribadah. The 3rd Winner Putri Kartini 2012, Putri Thania Dewinta yang baru saja pulang dari Umrah menceritakan pengalamannya.
Perjalanannya ke Baitullah bukanlah kali pertama. Ini merupakan umrah keempat yang dilakukannya bersama keluarga. Sudah menjadi sebuah tradisi jika musim liburan datang, ia beserta keluarganya mengadakan perjalanan spiritual untuk memantapkan iman dan ketaqwaan kepada Illahi Rabbi.
‘’Kalau liburan, sama papa ditawarin mau ke Singapura aja apa umrah. Daripada cuma liburan, aku dan anggota keluarga lain lebih milih untuk umrah,’’ tandas gadis yang biasa disapa Aya ini.
Perjalanan yang dimulai pada 20 Mei lalu hingga 28 Mei memang tergolong singkat. Ia harus segera kembali ke Malang untuk hadir dalam pengumuman kelulusan SMP. Sebelum mengetahui hasilnya, ia berkesempatan untuk bisa memanjatkan doa langsung di hadapan Kakbah beserta beberapa tempat-tempat yang mustajabah.
‘’Aku sudah belajar dan berusaha maksimal untuk bisa menghadapi UN dan tinggal menunggu hasil. Doa yang aku panjatkan tentang meminta campur tangan Allah untuk hasil yang terbaik,’’ katanya lantasnya tersenyum.
Gadis kelahiran Malang, 15 Juni 1998 ini bisa dibilang lebih matang ketika datang untuk melakukan ibadah umrah tahun ini. Ia pun berkisah sempat takut hampir pingsan seperti pengalaman umrah tahun sebelumnya. Begitu padatnya orang yang hendak menunaikan thawaf, membuat Aya merasakan pengap yang teramat sangat sehingga membuatnya terpaksa menggunakan oksigen tambahan.
‘’Tapi Alhamdulillah, tahun ini benar-benar dilancarkan dan dikuatkan fisiknya untuk bisa menunaikan ibadah,’’ serunya. Aya sudah hafal betul apa yang harus dan tidak harus ia lakukan selama di sana. Alumni SMPN 1 Malang ini harus ekstra keras menjaga setiap tutur kata yang terucap dari bibirnya.
‘’Secapek apapun, harus kuat. Nggak boleh sampe terlontar dari mulut karena itu tambah bikin kaki makin berat dan capeknya jadi berlipat-lipat rasanya. Kalau di sana kita diajari bagaimana caranya bisa sabar dan ikhlas dalam beribadah,’’ bebernya.
Pengalaman berkesan lain yang dilalui dengan keluarga adalah ketika Aya mendapatkan kesempatan emas untuk bisa salat di karpet hijau yang berada di makan Nabi.
Belum tentu semua jamaah umrah mendapatkan peluang untuk bisa menginjakan kaki di karpet hijau yang dikenal sebagai tempat yang mustajabah. Momen yang berharga tersebut tidak disia-siakan Aya dan sang Mama, mereka pun langsung melakukan sujud syukur di tempat tersebut.
‘’Di sana itu rame banget. Untuk menginjakan kaki di karpet hijaunya saja sulit, tapi aku dan mama bisa sampai salat di sana. Banyak yang lalu lalang tapi mereka kasih kami tempat. Subhanallah,’’ kenangnya dengan mata yang berkaca-kaca.
Aya juga mengunjungi beberapa tempat lain yang cukup terkenal, baik ketika di Mekkah maupun Madinah. Tempat yang ia singgahi meliputi Jabal Rahmah, masjid terapung di Laut Merah Jeddah, peternakan onta, perkebunan buah kurma, dan sebagainya.
Sebelum mengakhiri cerita tentang perjalanannya selama umrah, Aya memberikan masukan kepada teman sebaya maupun masyarakat yang hendak melakukan ibadah di sana untuk kali pertama.
‘’Jangan lupa untuk membawa kaos kaki dan sarung tangan supaya praktis ketika ingin melakukan salat dimana pun. Kemudian pakai kacamata hitam, bukan cokelat. Kalau cokelat masih sangat silau. Terakhir sun block yang digunakan ke seluruh bagian tubuh untuk mengantisipasi munculnya bintik hitam karena di Indonesia sendiri ketika siang hari tidak sepanas di sana,’’ tutupnya. (Kurniatul Hidayah)