Pencipta Lagu Ternama yang Pilih Pulang Kampung ke Batu

NAMA pedangdut Vety Vera cukup tenar era tahun 1990-an layaknya Dewi Perssik, belum lama ini. Lagu-lagu yang dinyayikan pedangdut tersebut sebagian adalah ciptaan wong mBatu (orang Batu), Syamsul Sukmono Edy atau akrab disapa Didiek Yeppo. Setelah bergelut pada dunia rekaman di ibukota, diapun pilih pulang kampung meski terkadang rindu dengan kegiatan tarik suara.

Rumah berukuran sedang di komplek Perumahan Imam Bonjol Valley Kota Batu, masih tampak sepi, pagi itu. Sinar matahari merobos celah-celah dinding, hingga menjadikan cat rumah yang masih baru itu lebih cemerlang.
Perlahan pria setengah baya keluar ke ruang tamu. Tidak tangan hampa. Beberapa kaset dan CD yang mayoritas berisi lagu-lagu berirama dangdut, ikut dibawa. Dialah Syamsul Sukmono Edy atau Didiek Yeppo.
Dia mengenakan jas warna hitam. Ketika sedang menata kaset dan CD, dia seperti memeragakan rekaman di studio. Itu karena dia memang sudah biasa rekaman saat masih berada di Jakarta. ‘’Ya, ini kaset-kaset dan CD,’’ ucap Didiek Yeppo membuka pembicaraan.
Sejak kecil, dia sudah bermain musik. Tahun 1987, dia hijrah ke Jakarta. ‘’Setelah lulus SMA, saya mencoba mengadu nasib ke Jakarta untuk mengembangkan kemampuan, terutama dalam menciptakan lagu,’’ papar dia.
Selama menekuni profesi itu, dia tercatat sebagai anggota PAPPRI (Persatuan Artis Penyanyi, Pencipta Lagu dan Penata Musik Rekaman Indonesia) dan Karya Cipta Indonesia (KCI).
Selama di Jakarta, dia biasa berkumpul dengan pemusik dan penyanyi tenar. Seperti Rhoma Irama, Endang Kurnia dan Johan Ferro. Dia juga sukses mengeluarkan album yang dinyanyikan oleh Vetty Vera.
Dalam perjalanannya, album yang di garap musisi itu ternyata tidak mulus dan beredar luas di pasaran. Persaingan dalam dunia rekaman hingga pembajakan karya sudah biasa terjadi. Karya dia ternyata dibajak sehingga mangkrak di pasaran.
‘’Kaset bajakan sangat banyak beredar di pasaran. Kaset rekaman asli, tidak laku sehingga malah mangkrak di pasar. Kami merugi karena tidak bisa menikmati hasil penjualan,’’ tegas dia.
Banyaknya pembajakan pada dunia rekaman, dia pun mempelajari hukum, dengan melanjutkan studi di bidang hukum di Malang. ’’Saya harus kembali ke tanah kelahiran sekaligus melanjutkan sekolah di bidang hukum,’’ paparnya kepada Malang Post.
Kini dia memiliki beberapa kesibukan setelah kembali ke Batu. Pekerjaan
sehari-hari pegawai bank swasta. Di samping itu, dia juga memberikan
kuliah umum tentang pengantar ilmu politik dan budaya dasar pada satu
Sekolah Tinggi di Kota Malang.
Sedangkan ilmu hukum yang dipelajari di bangku kuliah, sukses mengantarkan dia sebagai seorang pengacara dan Ketua Komnas Pengawas Aparatur Negara untuk Kabupaten Malang.
Di Kota Batu, dia didapuk menjadi Ketua LKPHM (Lembaga Kajian dan Penegakan Hukum Malang) serta Pembina organisasi kesenian Reog di kota wisata ini.
Apakah benar-benar berhenti dari dunia musik? ‘’Nggak. Untuk mengobati kerinduan, saya biasa bermain musik di kampus. Dunia musik sepertinya sudah tidak bisa hilang dari saya,’’ tegas alumnus SMA Imanuel Batu ini.
Dia nanti juga akan terus mencoba menciptakan lagu dan mengeluarkan album. Album tersebut akan dinyanyikan sendiri dan coba dilempar ke pasar meski tidak terlalu banyak. Hal itu dilakukan sebagai langkah menghindari pembajakan sehingga royalti bisa masuk kepada dia.
‘’Menciptakan lagu menggunakan hati, kalau mengajar di dunia pendidikan menggunakan pikiran. Jadi kita tidak bisa sembarangan dalam menciptakan lagu,’’ katanya. (sirhan/febri setyawan/sir)