Makna Tato-tato Bagi Pemain Lokal Singo Edan

DALAM skuad Arema Indonesia, sudah cukup lumrah melihat pemain asing memiliki banyak tato. Christian Gonzales, Alberto Goncalves hingga Thierry Gathuessi. Ada juga pemain lokal yang hobi mencacah tubuhnya dengan tinta permanent, sebagai bentuk apresiasi seni dan peringatan momen spesial. Ada apa dibalik tato para pemain lokal Singo Edan?

Tato, sudah jadi simbol gaya hidup atau lifestyle di era sekarang. Mencacah tubuh dengan tinta permanent, bukan lagi hal yang tabu. Apalagi, tato adalah simbol fashion yang menarik bagi para pesepakbola. Sebab, dunia sepakbola sendiri dekat dengan gaya hidup glamor serta stylish.
Lumrahnya, hanya para legiun asing yang hobi menato tubuhnya. Bomber Arema Indonesia Christian Gonzales yang memiliki tato naga di kakinya, sudah jadi trend setter tersendiri.
Begitu juga Alberto Goncalves, yang memiliki tato nama kedua anaknya di lengan. Termasuk, Thierry Gathuessi yang menggambar wajah putranya di leher kanannya.
Tapi, bukan hanya pesepakbola asing saja yang memakai tato. Pemain lokal pun tidak segan membuat karya seni secara permanen di tubuhnya. Lihat saja I Gede Sukadana. Gelandang yang membela Arema sejak awal musim 2012/2013 ini, sudah merasakan sakitnya jarum tato sejak tahun 2007.
Tato pertama Sukadana, adalah inisial nama panggilannya itu, yang tergambar di bawah lengan kanannya. ‘’Ini adalah tato panggilan nama saya. Nano. Tato ini saya bikin tahun 2007. Waktu itu saya masih pemain Persekabpas Pasuruan,’’ ungkap Sukadana kepada Malang Post, ketika ditemui di mess Arema.
Menurut gelandang yang dikenal karena gaya main yang ngotot itu, tato pertama ini dibuat oleh temannya sendiri, ketika pulang ke tanah kelahirannya, Bali. Menariknya, tato pertama ‘Nano’ yang tertera di lengan atasnya, tidak dibuat dengan alat profesional. Tetapi, dibikin dengan dynamo Tamia.
Rupanya, tato pertama Sukadana adalah hasil berperan sebagai kelinci percobaan. ‘’Saya jadi kelinci percobaan menato dengan dinamo Tamia. Sejak itu, saya menggemari tato dan mulai menambah beberapa tato di tubuh saya,’’ ungkap mantan vice-captain Persela Lamongan tersebut.
Hingga sekarang, Sukadana sudah menambah dua tato besar di tubuhnya. Tato kedua dibuat tahun 2008. Tato tersebut digambar di lengan kirinya, dengan gambar tokoh animasi favorit Sukadana, Hulk. Ia mengaku menggemari sosok Hulk yang diceritakan sebagai orang pendiam.
Namun, ketika diganggu, orang yang pendiam itu berubah menjadi sosok pemarah dan mampu melakukan perlawanan. ‘’Ya saya memang menggemari Hulk karena karakternya, mungkin sedikit mirip dengan saya, hehe,’’ ungkapnya terkekeh. Sementara, tato ketiganya adalah gambar patung Liberty yang tersemat di punggung kanannya.
Tato yang dibuat tahun 2010 itu tidak memiliki makna khusus. Tetapi, pemain berusia 25 tahun ini mengapresiasi keindahan gambar tato yang kini membungkus punggung atas kanannya tersebut. Sebab, sejak menato tubuhnya tahun 2007, Sukadana mengaku sangat mengapresiasi kesenian lukis tubuh ini.
‘’Saya lihat tatonya bagus. Tidak ada makna khusus, tapi tato ketiga ini bentuk apresiasi seni. Sebab, saya tak mau menato tubuh saya sembarangan. Kalau gambarnya jelek, saya tidak mau. Soalnya, bagi saya, tato itu akan terlukis seumur hidup,’’ ungkapnya, menyebut hobinya terhadap tato diwarisi dari sosok ayah yang juga menggemari tato.
Menurut Sukadana, butuh sekitar satu hingga satu setengah jam untuk menyelesaikan satu buah tato di tubuhnya. Tetapi, tato berukuran besar yang menempel di punggungnya, memakan waktu sekitar tiga jam.
Jika Sukadana memang sudah hobi seni tato, maka Joko Sasongko lain lagi. Gelandang Arema yang kini terdaftar sebagai penggawa timnas U-23 2013 Sea Games Myanmar tersebut mengungkapkan, tato yang menghiasi tubuhnya memiliki makna spesial. ’’Saya tidak sembarangan bikin tato. Semua ada makna penting bagi hidup saya,’’ ungkap Joko kepada Malang Post.
Pemain asal Boyolali itu memiliki tato nama inisial orangtuanya di area punggung. Tato yang dibuat bulan kemarin, tahun 2013 itu menjadi lambang penghormatannya bagi orangtua yang mendukung karir sepakbola Joko.
’’Orangtua saya yang memberi semangat dan support tiada henti bagi saya. Tato di punggung nama orangtua saya itu sebagai pengingat, agar saya tidak melupakan jasa orangtua saya dalam mengembangkan karir sepakbola saya,’’ tandas pemain yang mencetak gol internasional pertamanya bulan lalu, saat ujicoba lawan Singapura U-23 tersebut.
Pesepakbola berusia 23 tahun ini mengaku tidak mendapat larangan dari kedua orangtuanya untuk membikin tato. Sebab, sebelum membuat lukisan permanen di tubuhnya, Joko meminta izin dulu kepada orangtuanya. Begitu izin keluar, Joko langsung mencacah tubuhnya dengan tinta
Pemain yang kini mengoleksi empat tato di tubuhnya itu berencana menambah satu lagi tato di tubuhnya. ’’Rencana saya bikin satu lagi, gambar wajah orangtua saya di dada kiri. Masih belum tahu kapan, saya masih menunggu momen yang tepat,’’ ungkapnya. Usai membuat tato gambar wajah orangtuanya di dada kiri, Joko tidak lagi berencana menambah tato di tubuhnya. (fino yudistira)