Minuman Sari Apel Produksi Sananrejo Kecamatan Turen

BERAWAL  dari usaha rumah tangga bersama dengan beberapa anggota keluarga sekitar delapan tahun lalu, industri minuman sari apel  di kawasan Sananrejo, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang kini menjadi besar. Bahkan, produknya berhasil  menembus berbagai  daerah se-Indonesia.

Wintono, sang pemilik, kepada Malang Post menjelaskan minuman sari apel dengan merek  Vicha tersebut dirintis bersama istri,adik dan keponakannya pada tahun 2005 silam. Saat itu, semua peralatan yang dikenakan masih manual, baik mengolah apel sampai dengan pengepakan. Tahun demi tahun terus berlalu, sekitar empat tahun selanjutnya, proses produksi sudah lebih baik. Paling tidak, separuh pengerjaan telah dilakukan dengan memanfaatkan teknologi. Pengolahan sari apel menggunakan mesin, begitu pula pengepakannya.
Menurutnya, segala sesuatu memang harus dikerjakan dari kecil, agar bisa menikmati segala pekerjaan, dan hasilnya di kemudian hari. Akhirnya, di tahun kelima berdirinya Vicha, sekitar 75 persen proses produksi telah dengan sistem permesinan, yang otomatis hanya tinggal memencet tombol.
“Saat ini tinggal sebagian kecil proses manual, untuk pembersihan bagian tengah apel saja. Baru, proses mengambil sari sekarang sudah tidak perlu ditumbuk seperti dulu lagi, jauh lebih mudah jadinya. Tetapi enak, akhirnya bisa menjadi cerita mengenai perjalanan usaha,” paparnya.
Winanto kemudian mengungkapkan, mengenai pengetahuannya sehingga memutuskan untuk membuat produksi sari apel. Sempat ikut kelompok tani yang memproduksi sari apel juga, akhirnya salah satu keluarga mendorong untuk membuat produksi sendiri. Salah satu adiknya yang mempunyai toko berniat sebagai agen pemasaran, sehingga Winanto tidak perlu khawatir akan pemasarannya. Dengan jumlah produksi yang masih sedikit, kira-kira dalam satu minggu hanya mencapai 80 dus, keberanian muncul di anggota keluarganya. Muncullah nama Vicha, yang merupakan perpaduan dari dua anaknya, Vivid an Chandra.
Waktu terus berlalu, dari menjual di toko milik adiknya, memasarkan ke beberapa wilayah di Kecamatan Turen, sampai akhirnya Vicha mulai dikenal. “Sekitar 3 tahun setelahnya, untuk wilayah Turen sudah mulai mengenal. Bisa disebut mulai berlangganan sebagai agen penjual produk Vicha,” terang dia.
Hingga suatu saat, produksi per harinya telah mencapai 1000 dus per hari, dan setiap dusnya berisi 24 gelas. Secara perhitungan setiap hari pada tahun 2009 lalu, produksi sekitar 24.000 gelas. Pada masa itu, Winanto mulai menambah karyawannya mencapai 20 orang. Sebelumnya, hanya kalangan keluarga yang ikut bekerja, tetapi kini telah mempekerjakan banyak anak muda di sekitar Sananrejo.
Sejak tahun 2011, pekerja telah mencapai 40 orang, dengan kuantitas produksi mencapai 2500 dus per hari. Bahkan, jika mendekati momen lebaran, permintaan lebih dari dua kali lipat. Suami dari Puji Astini ini menceritakan. Sekitar 3 bulan menjelang hari raya, produksi minimal 5000 dus per hari. Produksi dengan jumlah itu sudah dimulai sejak tahun 2011 lalu. “Konsumen dan agen akhirnya meminta serta menghubungi kami sendiri, tanpa harus memasarkan seperti dulu. Bahkan sampai keluar kota,” tegasnya.
Kini, selain menguasai penjualan sari apel di Malang Selatan, Vicha telah dikenal sampai dengan Sumatra, Jakarta, Solo, Surabaya dan Bali. Paling jauh ada di Palembang, setelah mengenal produk Vicha ketika mengunjungi Masjid Tiban yang terkenal di Sananrejo, sekitar 1 kilometer dari rumah produksi Vicha.
Winanto tidak menduga jika kini usahanya dikenal hingga di banyak kota. Sampai ada cerita, ada orang yang berlibur ke Jakarta, membawa oleh-oleh ke Malang sari apel dengan merek Vicha. Kejadian lucu menurutnya, karena masyarakat lebih mengenal produksi sari apel dari Kota Batu. “Padahal ada dari Malang Selatan tepatnya di Sananrejo yang berkualitas dan mampu bersaing. Saya jamin mengenai kualitasnya, baik sari apel maupun sari jambu andalan Vicha,” jamin Winanto.
Dengan produksi yang telah sedemikian besar, dia siap menyambut lebaran dengan mempekerjakan karyawannya menjadi tiga shift. Permintaan yang meningkat, diimbangi dengan lemburan dari pekerja, sehingga permintaan tercapai. Begitulah setiap menjelang lebaran.
Mulai tahun 2012 lalu, dia juga mulai mengembangkan sayap dengan membuat produksi keripik buah,  sama dengan beberapa produksi di Kota Batu. “Sekalian saja dengan produksi keripik buah, tapi kalau menjelang lebaran saja. Bahan utamanya kan didapatkan dari kota apel itu juga. Disyukuri jika bisa sejauh ini, dan pastinya menjalani dengan lebih baik lagi,” pungkas dia. (Stenly Rehardson)