Ketika Anggota AHPI Chapter Malang Raya Touring Kilometer Nol

UMUR bukan menjadi halangan untuk tetap menjadi seorang bikers sejati melakukan touring jauh. Itulah yang ditunjukkan anggota Asosiasi Honda Phantom Indonesia (AHPI) Chapter Malang Raya. Hampir sebulan penuh di Juli 2013 lalu, beberapa anggotanya yang berusia 50 tahun ke atas, berkendara di atas motor 200 cc menuju monumen kilometer nol Indonesia yang terletak di Pulau Weh, Subang. Kegembiraan, sukacita dan kepuasan muncul ketika mereka sampai di pulau paling Barat Indonesia ini.

 “Kami tidak pernah menyangka akan bisa menembus ribuan kilometer untuk menuju monumen kilometer nol yang berada di Pulau Weh, Sabang dalam jangka waktu selama 14 hari,” tutur Ketua AHPI Chapter Malang Raya, H. Gembong Priyosetyadji, Kepada Malang Post, dia mengungkapkan, semangat, kebersamaan dan rasa persaudaraan ditunjukkan para anggota AHPI yang sudah berusia lanjut tersebut. Bayangkan saja, lanjutnya, para bikers ini bukanlah anak-anak  muda, namun merupakan pensiunan dari instansi pemerintah ataupun swasta. “Nyatanya, mulai berangkat hingga kembali ke Malang, dengan total waktu hampir satu bulan, tidak ada satupun yang sakit. Fisiknya sangat luar biasa dan tidak kalah dengan bikers muda,” lanjut Ketua Dewan Pembina APHI Pusat tersebut.
Diakui Gembong, sapaan akrabnya, keinginan berkendara di atas motor Phantom untuk melihat keindahan alam dan panorama Indonesia yang sangat memukau itu, menjadikan para anggota AHPI Chapter Malang Raya tahan banting. Ditemui di markas AHPI Chapter Malang Raya, Jalan Bondowoso Dalam 15 Malang, dia menyebutkan sederet nama pensiunan yang mengikuti touring tersebut. Seperti  Bambang Herry Eriyono, pensiunan Pemkab Malang, Zainuddin, pensiunan RSSA Malang, Bambang Soekamto, pensiunan Jamsostek Malang dan Kodrat, pensiunan Dinas PU NTB. “Saya sendiri pensiunan Kantor Pertanahan,” tambah ketua rombongan touring kilometer nol Sabang tersebut.
Menurut dia, berbagai suka dan duka dilewati bersama di antara anggotanya yang sudah berusia di atas 50 tahun tersebut. Mulai menginap di hotel, di tempat istirahat SPBU hingga tidur di halaman warung-warung dalam perjalanan menuju pulau Sumatra ataupun arah sebaliknya. “Kami selalu menyebutkan titik-titik pemberhentian bila ada teman-teman yang tertinggal jauh. Pasalnya, dalam berkendara dengan motor Phantom ini, berhenti satu detik saja sama dengan ketinggalan tujuh kilometer,” ungkap bapak tiga anak itu.  Kondisi ini belum ditambahi dengan medan berat saat masuk wilayah Sumatra hingga Nangroe Aceh Darussalam yang penuh jalan berliku dan kelokan yang tidak wajar.
“Bagi kami, sebagai bikers yang sudah berusia lanjut dan bisa tembus hingga ke monumen nol kilometer menjadi kebanggaan yang luar biasa. Bayangkan saja, di pintu masuk daerah yang kami lewati, selalu disambut oleh grup-grup motor yang sengaja menunggu kami,” tambah Djoko Soelistyo, dosen Universitas Negeri Malang. Meski usianya masih 52 tahun, dia tidak mau kalah untuk memacu motornya hingga kecepatan 120 km/jam. “Saking semangatnya mengikuti touring ini, kami lupa dengan usia yang sudah di atas 50 tahun. Kami merasa sehat. Pak Bambang HE yang jantungnya sudah ditanam delapan ring, tidak merasa sakit sama sekali. Sampai-sampai, kami ini dijuluki dengan nama Portugis alias Persatuan Orang Tua Gila Sekali karena nekat pergi melakukan touring ke luar Jawa,” pungkas dia. (marga nurtantyo)