Banjir Sitiarjo, Bencana Tahunan yang Tak Kunjung Selesai

BANJIR bandang yang melanda Desa Sitiarjo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan menyisakan cerita duka bagi warga yang jadi korban. Bencana tahunan paling parah yang pernah dialami oleh Sitiarjo ini memakan korban jiwa. Selain itu, air bah telah membuat masyarakat desa rugi secara materiil bahkan moril. Seberapa miriskah efek bencana terbesar dalam sejarah banjir bandang Sitiarjo ini?

Wajah Suprianto masih terlihat kuyu dini hari kemarin. Warga Dusun Krajan Wetan itu duduk lemas di depan rumah sederhananya. Cahaya lampu neon dalam rumahnya menyeruak keluar, memberi Supri, begitu dia  biasa dipanggil, separuh penerangan di dalam rumahnya.
Mimik mukanya sudah berkata bahwa dirinya sedang kesusahan. Rumah pria berusia 35 tahun ini ikut jadi korban keganasan banjir bandang yang menyerang Desa Sitiarjo.
Apalagi, kediamannya terletak dekat dengan Sungai Penguluran. Sungai ini jadi sumber bencana yang meredam rumah lebih dari 800 KK di Sitiarjo. Dengan jarak yang tak sampai 5 meter dari badan sungai, rumah Supri menjadi pencicip pertama bencana banjir bandang Sitiarjo.
‘’Ya, rumah saya termasuk jadi yang pertama kena banjir di Krajan Wetan, karena letaknya dengan sungai sangat dekat,’’ terangnya, kuyu.
Yang bikin prihatin, rumah Supri diterjang banjir ketika ada ibadah peringatan satu tahun meninggalnya sang ibu. Ia menceritakan, pukul 19.30, sekitar 80 orang datang ke kediamannya untuk patuen sekaligus ibadah peringatan satu tahun meninggalnya sang ibu.
‘’Kita masih sempat ibadah, lalu sekitar pukul 20.30, saya dengar suara gemuruh. Saya lihat keluar, ada air yang meluap, suara gemuruh airnya bikin jemaat panik. Ibadah patuen peringatan satu tahun ibu tidak selesai. Jemaat lari menyelamatkan diri,’’ tutur anak bungsu dari sembilan bersaudara itu.
Sekitar 80 orang jemaat yang awalnya khusuk beribadah pun langsung lari tunggang langgang untuk menyelamatkan diri dan keluarganya di rumah masing-masing. Bahkan, saking paniknya, dua jemaat lupa membawa sepeda motornya. Banjir bandang pun langsung melahap dua motor tersebut. Sebuah motor tampak ringsek di belakang rumah Supri. ‘’Airnya meninggi sampai sekiar perut orang dewasa, airnya bergerak cepat sekali,’’ tuturnya.
Tak hanya Supri yang merasakan duka akibat banjir bandang Sitiarjo. Keluarga dari satu-satunya korban meninggal Ngatinah, 73 tahun, warga Dusun Krajan Wetan juga merasakan duka mendalam.
Tiyanto, keponakan dari korban meninggal tak bisa menahan rona wajah sedih. Sebabnya, nyawa Ngatinah tak tertolong ketika banjir bandang menyergap rumahnya. Mirisnya, sang korban meninggal adalah janda tua yang sudah sakit berminggu-minggu akibat darah tinggi. Ngatinah sudah tak bisa lagi bangun dari tempat tidur ketika banjir terjadi.
‘’Beliau sudah sakit sebelum meninggal, kena darah tinggi. Nggak bisa bangun dari tempat tidur,’’ tandas sang keponakan. Saat ditemukan dini hari sekitar pukul 01.00, jasad Ngatinah masih tiduran di atas ranjang pesakitannya. Ranjang sakitnya terbawa arus hingga 25 meter ke luar rumah.
Tubuh Ngatinah yang tergolek tak bernyawa di atas kasur, kecantol di atas sebuah lemari, yang juga kintir dibawa banjir. Pagi kemarin, jenazahnya dimandikan oleh keluarga di dalam rumah yang baru saja terkena banjir. Rencananya, jasad wanita tua ini akan langsung dikubur di TPU setempat.
Jika Supri dan Tiyanto sama-sama merasakan duka akibat orang terkasihnya yang sudah meninggal, maka Ratna Cempaka, warga Dusun Krajan Wetan harus gigit jari ketika banjir melibas bengkelnya. Wanita yang mengelola bengkel sebagai mata pencahariannya itu terpaksa harus merugi sampai Rp 20 juta karena banyaknya barang jualan di bengkel yang rusak akibat banjir.
‘’Saya baru saja stok barang untuk jualan di bengkel. Nilainya sampai Rp 20 juta. Tapi, sayangnya kena banjir, hilang semua,’’ ungkap Ratna yang sedang membersihkan lantai bengkel dari lumpur sungai. Kepada Malang Post, Ratna menyebut bahwa air datang sangat cepat, sehingga sebagian besar spare part jualannya tak terselamatkan.
Bahkan, satu jam kemudian, banjir sudah menggenangi bengkelnya hingga 90 sentimeter. Ia baru bisa membersihkan bengkelnya sekitar pukul 01.00.
‘’Ya kita baru bisa bersih-bersih setelah surut,” tuturnya. Ratna berharap, ada solusi dari pemerintah maupun pejabat berwenang terkait, agar banjir di Sitiarjo tak terjadi lagi. (fino yudistira)