Tentara dengan Satu Kaki Peserta Ujian Kenaikan Pangkat

Menggantungkan aktivitas pada kaki palsu, tidak menghentikan langkah Praka Atok Illah, mengukir prestasi. Tentara yang saat ini aktif di kesatuan Yonkes 2/2 Kostrad Karangploso, baru saja lulus Ujian Kenaikan Pangkat (UKP), dengan berenang menggunakan satu kaki. Berikut kisahnya.

Siapapun itu, pasti tidak mau kehilangan salah satu anggota tubuhnya. Namun, itulah yang harus diterima Praka Atok Illah sekarang. Sudah tiga tahun ini, dia harus hidup tanpa ditopang kaki kanannya. Itu terjadi, setelah pria 27 tahun tersebut, mengalami kecelakaan pada 2010 silam.
Kecelakaan itu, membuatnya harus rela kehilangan kaki kanannya untuk diamputasi. Atok Illah menceritakan, saat kecelakaan itu terjadi, dirinya masih bertugas di Kesatuan Yonif 515, Jember.
Saat itu, sepeda motor Honda Tiger yang dikemudikannya, beradu dengan mobil dari arah berlawanan. Otomatis membuatnya bertabrakan yang cukup hebat dan membuatnya mengalami luka sangat parah.  
‘’Akibat kecelakaan itu, kedua kaki saya mengalami luka yang cukup parah. Tulang kaki kiri keluar dari dalam daging, sedangkan lutut kaki kanan mengalami pergeseran,’’ ujarnya kepada Malang Post.
Saat dilakukan operasi, kaki kiri pemuda berperawakan tinggi tegap ini, berhasil diselamatkan. Namun, kondisi jauh berbeda dialami kaki kanannya. Kaki kanannya tersebut, tidak bisa diselamatkan, dan membuat dokter dengan sangat terpaksa melakukan amputasi.
‘’Saat itu, kaki kanan saya mengeluarkan nanah di dalam dagingnya. Kata dokter, harus dilakukan amputasi. Agar penyakit maupun nanah itu, tidak menyebar ke tubuh bagian atas saya,’’ katanya bercerita dengan tatapan mata menerawang.  Atas persetujuan dia dan keluarganya, akhirnya dilakukan operasi amputasi tersebut.
Sejak itu, dia harus hidup tanpa kaki kanannya. Kehilangan kaki kanannya, sempat membuat mentalnya down. Namun, dibantu keluarga dan istrinya perlahan-lahan mentalnya bangkit. Pada akhir tahun 2010, Pratu Atok Illah memutuskan untuk menggunakan kaki palsu.
Kaki palsu tersebut, digunakan untuk membantu seluruh aktivitas dan tugasnya. Mulai apel, piket, tugas-tugas lainnya di kesatuan, olahraga, dan beberapa aktivitas lainnya tetap dilakoninya.
Pertengahan tahun 2011, dia dipindahkan ke Kesatuan Yonkes 2/2, Karangploso. Di tempat yang baru tersebut, dia tetap menajalankan aktivitas dan tugasnya seperti biasa. Tugasnya saat itu, apel dan melakukan pendataan administrasi di kesatuannya. ‘’Hingga pada akhirnya, saya ditawari ikut Ujian Kenaikan Pangkat (UKP). Saya pun menerima tawaran tersebut,’’ ucapnya.
Pada periode pertama UKP, Atok Illah tidak lulus ujian berenang. Namun, dia tidak patah arang dan tetap semangat dengan terus berlatih mempersiapkan tes UKP periode kedua. Selama satu bulan, dia berlatih keras berenang di Kolam Renang Kendedes. Meski kesulitan berenang menggunakan satu kaki, namun dia tetap berusaha.
‘’Energi terkuras saat berenang dengan satu kaki. Pernah saya hampir tenggelam, akibat kecapekan dan kehabisan nafas,’’ katanya mengenang. Setelah sebulan menjalani latihan, diapun mengikuti UKP periode kedua pada Senin (7/7) awal pekan kemarin, di Kolam Renang Kendedes, Singosari.
Dia bersama ratusan peserta UKP lainnya yang notabene tidak cacat, beradu untuk menjadi yang terbaik. Ketika ujian dilakukan, Atok Illah sukses meraih waktu 1 menit 15 detik untuk berenang dengan jarak 50 meter menggunakan gaya dada.  Sedangkan batas waktu yang menjadi syarat lulusnya tes renang tersebut adalah 1 menit 59 detik
‘’Alhamdulillah saya lulus ujian renang dan naik pangkat dari pratu menjadi parka,’’ ucap suami dari Yunita Dwi Windari ini. Dia mengatakan, berkat peran penting istri dan keluarganya bisa meraih kesuksesan seperti sekarang. Praka Atok Illah juga bertekad tidak ingin menyusahkan siapapun itu karena cacat yang dialaminya.
Selain itu, pria kelahiran Sidoarjo ini juga ingin menghapus stigma masyarakat, terhadap kaum difable yang dianggap tidak bisa apa-apa. ‘’Penyandang cacat, harus bisa bangkit dari keterpurukan agar tidak dianggap lemah lagi. Dengan tekad, kemauan dan kerja keras, Insya Allah kaum difabel tidak diremehkan lagi nantinya,’’ harap bapak satu anak ini. Kedepannya, meski saat ini dia hanya mengandalkan satu kaki, dia juga mengharapkan karir di militernya semakin meningkat. Serta bisa membahagiakan keluarganya. (binar gumilang)