Usung Tarian Trongtong Dor, Bersaing dengan 137 Negara

WAKILI INDONESIA : Padepokan Gunung Ukir saat menampilkan Tari Trongtong Dor dalam sebuah even nasional.

Padepokan Gunung Ukir KWB  Wakili Indonesia ke Korsel
KEBANGGAAN  dimiliki Padepokan Gunung Ukir, Dusun Krajan RT.05/RW.06, Desa Torongrejo, Kecamatan Junrejo, Kota Wisata Batu (KWB). Ya, padepokan pimpinan Ki Iswandi ini berhasil  mewakili Indonesia dalam ajang The 10th Chungju Word Martial Arts Festival di Korea Selatan  2013 pada  3-13 September nanti. Mereka salah satunya akan menampilkan tarian ‘Trongtong Dor’ dan siap bersaing dengan utusan perwakilan dari 137 negara lainnya se dunia.

Siang itu, langit Kota Batu cukup mendung. Semilir angin lumayan kencang membuat suhu Kota Wisata ini begitu dingin. Meski dimikian, sejumlah orang tetap tampak ceria menjalankan aktifitasnya di Gedung Kesenian Kota Batu. Dua diantaranya tersebut adalah Ki Iswandi, Pembina Padepokan Gunung Ukir dan anaknya, Agus Mardianto, yang kala itu didampingi Ipung, seniman kota Batu. Di ajang ini, Gunung Ukir dimanejeri Dewanti Rumpoko, Istri Wali Kota Batu, Eddy Rumpoko.
Senyum mengembang dari ketiganya saat melihat Malang Post tiba di Gedung Kesenian. Maklum, mereka sempat dibuat ekstra bersabar karena sudah lama menunggu. Perbincangan pun dimulai. Ketiganya sangat ramah seperti halnya karakter khas sebagian besar wong Mbatu lainnya. Ki Iswandi dan Agus bergantian menceritakan kisah-kisah perjalanan tarian Trongtong Dor sebelum kemudian diputuskan akan terbang ke Korea Selatan.
‘’Sebelum terpilih mewakiliki Indonesia, kami tercatat dua kali juara pencak silat tingkat nasional. Mungkin dari itu, perkembangan kami kemudian terus dipantau pemerintah. Selain itu, kami dianggap memiliki pembeda dengan padepokan pencak silat lainnya,” terang Ki Iswandi bercerita.
Sambil menghisap rokok, Ki Iswandi menjelaskan, padepokannya akan menampilkan apa yang menjadi karakter di ajang The 10th Chungju Word Martial Arts Festival –Korea 2013. Gunung Ukir bukan hanya menunjukkan sebuah perkumpulan pencak silat melainkan akan membawa penyatuan empat unsure. Meliputi mental spiritual, olahraga, seni dan beladiri. Karakter itulah yang diakuinya menjadi pembeda dibanding perkumpulan pencak silat. Dia juga didukung Parso Adiyanto Sakdulla, selaku Pelatih, serta beberapa rekannya, diantaranya Ayu Budi Permanasari, Wahyu Medyanto, Ide Wijaya Purnama dan Suroso Taslan Harsono.
‘’Kami akan mempertaruhkan nama baik Indonesia di satu even yang juga menampilkan seluruh jenis beladiri. Namun, kami akan tampilkan sesuai apa yang menjadi karakter Gunung Ukir. Bisa jadi, negara lain kemudian akan belajar dan mendalimi pencak silat khas Indonesia,” ucapnya.
Senada dengan sang ayah, Agus kemudian menimpali, dengan menyebut, Gunung Ukir akan berangkat dengan nama tim. Dalam tim ini siap menampilkan 10 jenis bela diri milik Gunung Ukir, diantaranya pencak silat, debus, tari kreasi baru Trongtong Dor, Topeng Barongan, Banteng Munil dan Jaran Trainer. Seluruh awak tim Gunung Ukir bertekad memberikan penampilan terbaik dengan kemasan artistic perpaduan tradisional dan modern. Dalam tim ini, Agus akan menjadi salah satu pemain.
‘’Pokoknya, kami akan suguhkan dengan karakter Indonesia tulen dengan ciri khasnya yang beda dengan negara lain. Kami tampil juga tidak hanya beranggotakan orang dewasa tapi juga anak-anak. Sebab di Malaysia dan Singapura juga punya pencak silat,” aku Agus.
Dengan keikutsertaan ini, Gunung Ukir akan mempromosikan pencak silat Indonesia ke dunia luar. Penampilan yang terkonsep siap disuguhkan awak Gunung Ukir. Tak terkecuali, untuk tarian Trongtong Dor yang sedianya mengusung judul Kemilau Nusantara. Dalam tarian itu menceritakan adegan dimana kebanyakan wanita dirampok atau dihadang perampok, dan bagaimana cara mengatasi dengan trik-trik. Semuanya dikemas dengan seni dan pencaknya.
‘’Dengan membawakan aliran netral pencak silat asli Indonesia, pengembangan beladiri jaman dulu. Selama kurang lebih tiga minggu terakhir, kami sudah mulai berlatih pada hari Senin sampai Jumat. Kami juga tampilkan ritual tunggal dan ganda, serta kelompok, ada juga debus atau atraksi dan keroyokan pakai golok,” pungkas Agus. (poy heri pristianto)