Mohon Ma'af, website sedang perbaikan.
Dapatkan Update Berita Terbaru di :
        www.malangpost.net

Perjuangan Penambang Belerang di Kawah Gunung Ijen

HARIAN Malang Post mendapat kepercayaan sebagai media  yang turut menghantar perjalanan provider Telkomsel untuk mengecek kualitas jaringan ke Gunung Ijen, Banyuwangi,baru-baru ini.Kesempatan ini sekaligus dimanfaatkan   untuk  mengamati perjuangan  masyarakat di sekitar kawasan Gunung Ijen dalam bertahan hidup dengan bekerja menjadi penambang belerang.

Perjalanan rombongan Telkomsel, Komunitas Instanusantara dan juga media berawal dari Surabaya. Setelah delapan jam, tepat saat matahari terbit rombongan pun tiba di Desa Paltuding, desa terakhir sebelum naik ke Puncak Ijen. Pukul delapan pagi rombongan naik menuju Puncak Gunung Ijen dan membutuhkan waktu hampir dua jam. Waktu  untuk naik ke puncak harus tepat, agar kesempatan turun ke area kawah Ijen tetap terjaga. Menurut warga sekitar, jam 11.00  asap sudah mulai naik serta tidak beraturan arahnya tertiup angin, dan itu berbahaya bagi pendaki.

Beberapa ratus meter sebelum puncak, terdapat pos penimbangan bernama Pondok Bunder. Pada titik itu, ketinggian sudah mencapai 2214 meter di atas permukaan laut. Kesempatan untuk sejenak beristirahat. Namun, menurut warga yang bekerja sebagai penambang belerang, lebih baik meneruskan perjalanan, dan menghabiskan rasa lelah di puncak saja. Jika berminat, perjalanan ke kawah Ijen yang harus menuruni tebing sekitar 900 meter menjadi lebih aman.

Ketika sudah sampai puncak,  Malang Post mendapatkan kesempatan ditemani penambang yang seolah menjadi guide untuk menuruni tebing menuju kawah Ijen. Ahmad Buang, pria berusia 54 tahun yang masih harus naik turun bukit demi kelangsungan hidupnya bersama keluarga. Sempat terpikir, apakah pak Ahmad ini seorang guide yang setiap harinya menunggu pendaki, menawarkan diri untuk menjadi teman penunjuk arah menuju kawah hingga serta berharap menerima imbalan. Tetapi pria itu meyakinkan, agar pendaki tetap aman saja, dengan melewati jalan yang tepat dan tanpa imbalan.

Kemudian perjalanan pun berlanjut menuju kawah. Sebelum itu Pak Ahmad berpesan untuk menutupi mulut dan hidung, dengan kain basah, sebagai pengganti udara ketika ada terjangan asap. Cara sederhana dari setiap penambang belerang ketika menuju kawah untuk mengambil batu belerang.

Sepanjang menuruni tebing menuju kawah, tidak banyak terjadi percakapan. Sesekali dia menengok, mungkin demi keselamatan orang yang dipandu. Di tengah perjalanan, benar saja, ternyata asap belerang itu sangat pekat, pedas di mata dan sesak untuk bernafas. Terlihat pula, beberapa penambang yang sedang naik dengan memikul belerang, harus sering  terbatuk-batuk terkena hembusan asap. Pada titik tersebut yang harus dilakukan adalah berhenti, menutup mata, sembari menghirup kain basah penutup mulut dan hidung untuk membantu pernafasan. Itu pula yang dilakukan oleh sebagian besar penambang ketika bekerja. Mereka pun terbatuk-batuk sambil terengah-engah menahan beban, dan melawan asap. Perjalanan yang berisiko, bagi orang yang tidak terbiasa naik gunung.

Akhirnya, begitu sampai di kawah, rasa terpukau muncul karena sajian kawah berwarna hijau toska, tetapi miris pula melihat usaha para penambang. Mereka harus rela menanggung beban yang berat menjadi ‘kuli’ sesungguhnya. Perjalanan sejauh 6000 meter lebih, dan separuh diantaranya memanggul beban antara 60 kg sampai 70 kg.  Hebatnya, rata-rata penambang tersebut dua kali pulang pergi (PP)  dalam sehari, bahkan ada yang mencapai tiga kali.

Menurut Ahmad, jika sampai tiga kali, penambang harus berangkat dari pukul empat pagi, dan baru selesai bekerja pukul 16.00  karena dalam satu kali perjalanan membutuhkan waktu minimal 4 jam. Jika dalam sekali memikul belerang bisa menghasilkan rata-rata Rp 50 ribu, maka dalam sehari penghasilan penambang sebesar Rp 100 ribu. “Kalau yang masih kuat dan belum terlalu tua, bisa berpenghasilan Rp 150 ribu, tetapi tidak banyak yang seperti itu. Menghasilkan Rp 100 ribu sudah bagus,” tambah Ahmad.

Membayangkan dengan kehidupan masyarakat di Malang, jika harus hidup seperti ini bagaimana, demi anak dan istrinya. Demi makan sehari-hari, dan demi sekolah anaknya. Perjuangan mereka sungguh luar biasa. Uang sebanyak Rp 50 ribu mungkin hanya cukup untuk biaya makan dalam sehari untuk sekeluarga. Begitu ingin memenuhi kebutuhan lain, harus ‘menyiksa diri’ naik turun bukit dan menanggung resiko hingga dua kali dalam sehari.
“Bila sekali, tidak cukup untuk kebutuhan mendadak. Apalagi obat dan jamu diperlukan untuk menjaga tubuh tetap sehat,” urai bapak dua anak tersebut.

Penambang pun rata-rata berharap kehidupan lebih baik didapatkan oleh anaknya kelak, agar tidak mendapatkan pekerjaan seberat orang tuanya. Namun, penambang masih tetap bersyukur mempunyai lahan untuk menambang belerang, kemudian diserahkan kepada perusahaan PT. Candi Narimbi yang mengolah belerang mereka. Itupun semua masih dengan catatan, Kawah Ijen tidak bergejolak, seperti yang terjadi di akhir tahun 2011 lalu. Dapur penambang sedikit tersendat karena Gunung Ijen berstatus Siaga yang berarti dilarang untuk mendaki, baik wisatawan maupun penambang.
Perjuangan yang berat demi sebuah kehidupan bagi penambang tersebut.  Hidup yang keras  tetap mereka hadapi  dengan semangat, sebab hanya satu tujuannya yaitu mencapai kehidupan lebih baik di kemudian hari. (Stenly Rehardson)

Please publish modules in offcanvas position.