Merawat Penderita Gangguan Jiwa dan Pecandu ala Klinik HMC

Rumah sakit untuk penderita gangguan jiwa, kerap membuat orang bergidik. Membayangkan namanya, terkadang membuat buku kuduk merinding. Suasana menyeramkan, langsung muncul. Tapi kondisi itu tidak terlihat di Klinik Hayunanto Medical Center di Dau, Kabupaten Malang.

Sekilas, orang tidak akan percaya jika melihat bangunan Klinik Hayunanto Medical Center (HMC) di Dau itu, adalah rumah sakit yang diperuntukkan penderita gangguan jiwa.
Kemegahannya, seperti sebuah hotel berkelas. Sangat jauh dari nuansa sebuah klinik atau rumah sakit. Belum lagi ketika masuk ke setiap ruangan, akan terpampang kamar-kamar yang cukup mewah. Klinik yang terletak di Jalan Raya Sengkaling ini, benar-benar jauh dari kesan sebagai RS jiwa atau klinik kesehatan jiwa.
Siang kemarin, udara cukup cerah saat Malang Post mendatangi Klinik HMC. Klinik dengan luas tanah 2007 meter persegi ini, tampak sepi. Termasuk di lobi, juga sepi meski tampak sangat tenang. Di lobi, selain tempat receptionist, juga terlihat sebuah apotik kecil. Di bagian kiri, berjajar sofa-sofa cantik.
‘’Selamat siang. Ada yang bisa saya bantu,’’ sapa F Antoto DW Amd. Pria yang mengaku sebagai Asisten Direktur Administrasi dan Personalia inipun seketika mengajak duduk, setelah mengetahui maksud kedatangan Malang Post.  ‘’Beginilah ruangan kami. Tidak terkesan sebagai klinik kejiwaan kan,’’ katanya mengawali pembicaraan.
Ya, Aan, begitu pria ini dipanggil, mengaku tidak semua RS jiwa atau klinik kejiwaan, memiliki kesan menyeramkan. Bahkan sebaliknya. Karena sebagai tempat penyembuhan, klinik kejiwaan itu harusnya dipermak menjadi tempat-tempat yang menyenangkan.
‘’Karena tempat yang tenang, teduh dan damai, menjadi bagian penyembuhan para pasien. Karena itu ditempat ini tidak terkesan menyeramkan,’’ kata Aan.
Apalagi, paparnya, penyembuhan sakit jiwa, berbeda dengan penyembuhan sakit pada umumnya. Selain tempat, tim medis harus melakukan tindakan yang tepat. ‘’Salah tindakan pasti salah semuanya,’’ tambah pria dengan tubuh kurus ini.
Dikatakan Aan, begitu pasien datang ke klilik HMC ini, lebih dulu dilakukan observasi, selama 14 hari. Dari hasil observasi itulah, kemudian tim medis memutuskan pasien tersebut boleh pulang atau harus rawat inap.
‘’Pertama masuk jelas. Pasien lebih dulu di kurung. Tidak boleh bersosialisasi dulu, hingga kondisinya betul-betul stabil. Setelah itu barulah dia dapat keluar untuk bersosialisasi dengan para pasien lainnya,’’ ucapnya.
Sekalipun dikurung, pasien tidak pernah dipasung. Klinik, hanya menjauhkan dari pasien lain. Meski selama dikurung, pasien tetap dihibur. Selain tentunya dilakukan pemeriksaan.
Di kamar, pasien dibuat senyaman mungkin. Selain ukuran kamar cukup luas yaitu 4X4 meter, di dalam kamar ini berisi berbagai perabot yang mewah.
Sebut saja tempat tidurnya. Bukan lagi tempat tidur busa, atau kapuk, melainkan sebuah spring bed. Lemarinya pun begitu. Bergaya minimalis. Di dalam kamar ini juga terdapat AC dan perangkat elektronik seperti tape atau radio.
Pasien pun juga sangat leluasa dan terjaga privasinya. Setiap kamar, dilengkapi kamar mandi. Pemandangan tersebut sangat mirip dengan kamar hotel berbintang.
Selama berkumpul dengan pasien lainnya, tim medis juga sangat jeli melihat perkembangan satu persatu kondisi pasien. Karena perkembangan itulah, dokter bisa memastikan pasien tersebut telah sembuh dan dapat dipulangkan kepada keluarganya.
‘’Banyak agenda kegiatan yang dilakukan disini. Ada kegiatan hiburan, yaitu pasien bisa istirahat sambil karaoke, pasien juga bisa nonton televisi bersama-sama,’’ kata Aan sembari menyebut, dalam klinik juga terdapat taman yang luas, musala serta area bermain.
‘’Kami memiliki paham 100 hari pengobatan. Yaitu pengobatan pasien ini hanya untuk 100 hari saja. Minimal mereka sembuh secara sosial,’’ tambahnya.
Namun selepas dikurung, pasien dilarang sendirian. Mereka diminta berkelompok. Pasien juga diharap selalu menceritakan keluhannya dan tim medis pun akan senang hati mendengarkan. Apalagi dari keluhan itu, tim medis dapat menyimpulkan kondisi pasien.
‘’Agar mereka tidak stres, kami juga membawa pasien ini untuk rekreasi. Minimal dalam satu bulan, dua kali kami membawa mereka rekreasi,’’ tambah Aan.
Melakukan perawatan kelainan jiwa, berbeda dengan melakukan perawatan untuk para pecandu narkoba. Di Klinik HMC juga menerima pasien kecanduan narkoba. Sekalipun tidak sering mendapatkan pasien pecandu, namun Aan mengakui, pasien narkoba lebih ribet.
Pasien narkoba, katanya, cenderung provokatif, dan selalu berontak saat dilakukan pengobatan maupun terapi. ‘’Dulu pernah ada pasien narkoba, dia terus menerus berusaha kabur. Ya, lebih ribet. Tapi itulah seninya. Tidak lama lagi kami juga akan mengajak kerjasama pihak BNN serta Polres Malang Raya, terkait pengobatan atau terapi para pecandu tersebut,’’ katanya.
Aan juga menceritakan, HMC berdiri sejak September 2010 lalu. Setiap bulannya, rata-rata 15-25 pasien yang di rawat tersebut. Di klinik ini selain bangunan lobi, juga ada dua blok pasien.
Blok wanita berisi tujuh kamar, sedangkan blok pria ada 11 kamar. Totalnya ada 18 kamar. Dari 18 kamar tersebut, total terdapat 30 tempat tidur untuk para pasien. Saat dirawat inap, para pasien mendapatkan perawatan maksimal. Termasuk kebutuhan laundry dan makanan.
Lantas untuk biaya? Aan menyebut sangat terjangkau untuk semua kalangan masyarakat. Termasuk sudah sepadan dengan fasiltias yang diberikan.
‘’Adalah. Tidak terlalu mahal. Tapi yang kami berikan adalah perawatan secara total. Semua demi kesembuhan pasien,’’ katanya sambil tersenyum. (ira ravika)