Obituari M Djupri, Wartawan Senior dan Penulis Buku

Innalillahi  wainna ilaihi rojiun. Insan pers di Malang berduka atas wafatnya wartawan senior  M. Djupri dalam usia 61 tahun di RS Lavalette, Senin siang kemarin. Diiringi  rintik gerimis, almarhum dimakamkan di TPU Madyopuro Kota Malang kemarin sore.

Ratusan kerabat, rekan seprofesi dan ‘murid’ almarhum memberikan penghormatan terakhir kepada penulis buku ‘Tertawa Setengah Mati Ala Dahlan Iskan’ ini.
Dua ‘murid’ almarhum yakni Sugeng Irawan (Ketua PWI Malang Raya) dan Aqua Dwipayana dengan terbata-bata memberikan sambutan saat jenazah diberangkatkan dari masjid Graha Muslim Jalan Danau Bedali  kawasan Sawojajar Kota Malang. Masjid tersebut terletak hanya beberapa puluh meter dari rumah duka di Jalan Danau Singkarak Blok VI E 3 D N0 14.  
Di rumah tersebut, ayah dua putra ini menghabiskan hari tua dengan tetap produktif menulis sederet buku. Termasuk buku ‘Tertawa Setengah Mati Ala Dahlan Iskan’ yang  mendapat respon besar masyarakat.
Atas dorongan berbagai pihak, mantan redaktur harian Suara Indonesia di Malang dan Surabaya ini kemudian menyusun buku ‘Uniknya Dahlan’  yang juga laris manis dipasaran.
‘’Dalam kondisi tubuh sangat lemah, almarhum sempat tersenyum ketika saya bisikkan semoga segera sembuh agar dapat segera  menerbitkan buku Pak Dahlan Iskan seri ketiga, Sabtu (20/7) malam lalu.Tetapi Allah SWT ternyata berkehendak lain. Almarhum wafat dengan tenang serta meninggalkan banyak keteladanan bagi para wartawan yang lebih muda dari beliau,’’ kenang Sugeng Irawan.
Sosok almarhum memang dikenal ramah dan telaten membimbing para wartawan yunior untuk kelak menjadi jurnalis yang handal. Hal  tersebut dilakukannya sejak masih tinggal dan berkarier di berbagai media cetak di Surabaya, sebelum kemudian pindah dan berkeluarga di Malang.  
Dengan telaten dan dengan gayanya penuh kebapakan, suami  Hardini Irawati ini membina mereka sejak dari nol hingga akhirnya sekarang banyak yang sukses menjadi pimpinan di berbagai media maupun sebagai konsultan media, bidang periklanan dll dan tersebar di berbagai daerah.
‘’Kami dapat menjadi ‘orang’ seperti sekarang ini tidak lepas dari pembinaan dari almarhum. Jasa almarhum sangat besar. Semoga almarhum diterima disisi Allah SWT dan keluarga yang ditinggalkan beroleh ketabahan,’’ harap Nikmatus Shoumi.
Wanita asal Surabaya yang sekarang sukses sebagai pengusaha bidang periklanan juga mengenang sosok ayah Fajar Agastya dan Bama Budi Darma ini  sebagai insan  pers yang sangat ulet.
Hingga akhir hayatnya, almarhum tetap produktif menerbitkan beberapa buku. Ratusan artikel almarhum juga tersebar luas di berbagai media cetak lokal maupun nasional.
Almarhum memang dikenal sebagai sosok yang tidak dapat  hanya diam di rumah. Bahkan, walau digerogoti penyakit lever,  almarhum pernah tetap aktif menerbitkan tabloid ‘Teduh’ di Surabaya, yang mengharuskannya secara rutin dan tidak mengenal waktu ke Surabaya untuk menerbitkan media tersebut.
Kepergian almarhum karena sakit komplikasi setelah dirawat di RS Lavalette selama lima hari, sekaligus menyisakan nuansa reuni tersendiri bagi para wartawan senior maupun rekan-rekan almarhum  yang pernah cukup lama mengenal, bergaul dan bekerja dengan almarhum.  
Untuk itu, setelah pemakaman, mereka menyempatkan berbuka puasa bersama sekaligus melakukan reuni dalam suasana penuh keakraban.
Mereka yang sekarang berdomisili di berbagai kota saling ‘gojlok’ sambil membahas berbagai suka maupun duka yang pernah mereka alami baik ketika bekerja di Malang maupun Surabaya. Walau bersifat ‘dadakan’ namun reuni kali ini memang sangat mengesankan.
‘’Almarhum beberapa bulan lalu sebenarnya sempat mengutarakan keinginan agar kita semua dapat segera melakukan reuni lagi. Sayang sekali keinginan almarhum belum dapat terlaksana. Dan sekarang kita dapat melakukan reuni justeru ketika sedang melepas kepergian beliau untuk selama-lamanya,’’ kenang Sutoyo, mantan wartawan Suara Indonesia yang sekarang sukses sebagai konsultan.
Selamat jalan Pak Djupri!  Semoga mendapat tempat lapang di sisi  Allah SWT, dan keluarga beroleh ketabahan. Amian. (nugroho)