Rebana Produksi Pasutri Asal Panggungrejo Kepanjen

USAHA apapun, kalau digeluti dengan serius, pasti akan membuahkan hasil yang maksimal. Begitu juga dengan pembuatan rebana, yang dilakukan pasangan suami istri (pasutri) asal Kecamatan Kepanjen. Meski kelihatannya sepele, karena hanyalah sebuah alat musik tradisional, tetapi begitu melejit, pangsa pasarnya bisa tembus ke luar negeri.
 
TAK sulit mencari rumah pengrajin rebana asal Kecamatan Kepanjen ini. Karena dengan datang ke Desa Panggungrejo, banyak warga sekitar yang tahu tempat pengrajin rebana milik Ny Solikha ini. Di desa itu, hanya ada satu pengrajin rebana. Ny Solikha dan suaminya Suliyono.
Rumahnya masuk di Jalan Jembatan. Dari jalan raya, hanya berjarak sekitar 30 meter. Saat Malang Post tiba di rumah Ny Solikha, jarum jam menunjukkan pukul 14.15. Di depan rumah, ada seorang pria paruh baya. Sedang menyapu. Dia adalah Suliyono, suami Ny Solikha.
Setelah disapa dan diperkenalkan diri, Suliyono lantas mempersilahkan masuk. Pria berusia 57 tahun ini, lantas memanggil istrinya Ny Solikha yang sedang memasak di dapur untuk persiapan buka puas. ‘’Silakan masuk, Mas. Sebentar saya panggilkan ibu,’’ kata Suliyono sopan.
Tak lama kemudian Ny Solikha keluar bersama suaminya. Mereka langsung menunjukkan rebana yang sudah jadi yang terpampang di ruang tamu. Termasuk rebana yang belum jadi, yang sebelumnya ditumpuk di teras depan rumah.
‘’Rebana itu, ada beberapa jenisnya. Ada rebana Banjari, Ishari (Hadrah), jidoran serta rebana Samro. Ukurannya pun juga bermacam. Yang kecil ukuran diameter 18 cm, lalu standarnya 30 cm dan besar ukuran 32 cm,’’ ungkap Ny Solikha.
Harganya pun, jelas berbeda. Untuk ukuran standar, dengan kecrek kuning, lebih mahal yaitu Rp 280 ribu. Sedangkan untuk standar dengan kecrek putih, harganya Rp 220 ribu. Untuk rebana ukuran kecil, seharga Rp 70.000. ‘’Jualnya, selain eceran kami juga melayani pemesanan satu set,’’ ujarnya.
Usaha pembuatan rebana itu, sudah turun temurun. Dari kakek buyut istrinya. Ny Solikha sendiri adalah generasi keempat yang meneruskan usaha pembuatan rebana ini. Mereka mulai menggeluti usaha rebana ini sejak 2004 lalu, pasca meninggalnya sang ayah.
Semula, hanya mereka berdua yang mengerjakan pembuatan rebana itu. Namun karena banyaknya pesanan dan tenaga kurang, akhirnya mereka mengambil dua pekerja untuk menggosok kayu. ‘’Kadang kami juga dibantu oleh anak-anak ketika ada pesanan banyak dan tenaga kurang,’’ papar wanita berusia 62 tahun ini.
Untuk bahan, kayu yang digunakan adalah kayu jenis mahoni, dengan kulit memakai kulit sapi yang berkualitas yang didatangkan dari Jombang. ‘’Dalam sehari, biasanya kami bisa menghasilkan empat rebana setengah jadi. Hanya tinggal finishing saja,’’ kata ibu tiga anak ini.
Yang menarik dari sisi pemasarannya. Ternyata alat musik tradisional buatan Ny Solikha ini, tidak hanya dikenal di Malang Raya saja. Tetapi juga di luar Pulau. Seperti Bali, Sumatera dan Batam. Bahkan, juga sampai tembus ke Malaysia.
‘’Biasanya sebulan menjelang puasa dan setelah lebaran adalah ramai-ramainya pesanan. Kami sendiri sampai kewalahan melayani pesanan. Kalau barang sudah jadi, tidak kami kirim, tetapi pembeli yang datang sendiri. Meskipun mereka dari luar pulau atau dari Malaysia,’’ paparnya.
Rebana ini sendiri, adalah alat musik tradisional yang kerap digunakan dalam berbagai kegiatan keagamaan. Selain itu, rebana juga bisa menjadi aksesoris dan souvenir. Tak ayal, pangsa pasarnya cukup luas dan masih sangat diminati banyak orang. Untuk memainkan alat musik rebana, cukup dengan memukul atau menepuk bagian kulitnya secara beraturan. (agung priyo)