Mengenal Pelukis Pasir di Malang yang Karyanya Mulai Diburu

Menjadi seorang pelukis pasir, memiliki banyak tantangan. Terutama harus menerima banyak cibiran. Namun kini, mereka yang mencibirnya patut terpukau. Keteguhan hati Gusman Adi Putranto menerima cibiran dan tetap yakin dengan jalur seni yang dipilih, membuat dia berhasil memiliki Rumah Pasir. Galeri untuk memajang serta memasarkan karya seni lukisan pasir di Jalan Mawar No 17 Malang.

Gusman mengakui, pilihannya menjadi pekerja seni, sempat ditentang oleh ayahnya. Terlebih dengan pekerjaan ayahnya di Direktorat Pajak, harapannya sang anak bisa memberi kebanggaan.
‘’Ayah sempat tidak merestui. Dulu harapannya saya menjadi seorang olahragawan atau jika selesai kuliah menjadi pegawai kantoran,’’ ujar Gusman mengawali cerita.
Awalnya ketika kuliah, pria yang gemar bermain tenis ini, iseng-iseng melukis dengan bahan pasir di dalam kaca. Bisa dibayangkan susahnya memasukkan bahan pasir dan harus membentuk lukisan, diantara kaca yang berjarak kurang dari dua sentimeter. Menurut dia, teman akrabnya bahkan menyebut gila dan kurang kerjaan, gara-gara melukis dengan pasir tersebut.
‘’Apalagi tingkat kesulitan dan ketelitian harus tinggi. Tetapi waktu itu saya bertekad menyelesaikan lukisan perahu tersebut. Walau butuh waktu hampir satu bulan, karena harus menunggu kering setiap pasir yang saya lukis diantara himpitan kaca,’’ terangnya kepada Malang Post.
Begitu lukisan pasir pertamanya selesai, dia pun memamerkan kepada temannya. Selanjutnya, beberapa temannya pun mengusulkan untuk menunjukkan lukisan kepada suatu kelompok seni lukis. Kembali dia mendapatkan sindiran dari orang yang sudah senior dan paham di dunia seni lukis.
‘’Entahlah. Mereka tidak menunjukkan apresiasi dari lukisan perahu dari bahan pasir ini,’’ bebernya sembari menunjukkan hasil karya pertamanya tersebut.
Setelah temannya dan orang dari perkumpulan seni lukis, giliran keluarganya yang mencibir karyanya tersebut. Gusman masih tidak patah arang, bahkan nekad meminta sebagian ruangan dari budhe nya yang berada di Jalan Mawar, untuk menjadi tempat dia berkreasi dan memajang hasilnya.
Syukurlah, sang budhe berbeda dengan beberapa orang terdekatnya yang lain. Gusman diberi kebebasan mengelola ruangan yang berada di tepi jalan raya ini, untuk mewujudkan impiannya menjadi pelukis pasir lebih lagi.
Sejak tahun 2008, dia terus berkreasi dengan lukisan pasir di Rumah Pasirnya. Dia harus berulang kali ke pantai untuk mengusung pasir di pinggiran pantai sebagai bahan utamanya dalam melukis.
Dia membedakan dua jenis pasir. Berwarna putih dan hitam. Yang putih bisa diberi campuran warna untuk menunjang pilihan warna nantinya. Sedangkan warna hitam mutlak didapatkan dari pasir pantai berwarna hitam pekat.
‘’Warna hitam ini sekarang mulai sulit didapatkan. Di pantai Tamban tempat saya berburu pasir hitam sudah mulai jarang ditemukan. Kalaupun ada harus benar-benar teliti mencari pasir warna hitam ini,’’ papar Gusman panjang lebar.
Kini, perkembangan seni melukis pasirnya sudah beraneka ragam. Ada lukisan, ada pula dalam bentuk handycraft seperti jam, celengan, kotak pensil maupun jam pasir. Telah banyak orang yang memburu hasil pekerjaannya.
Kini, dia mulai merasakan hasilnya. Jika awalnya harus menitipkan hasil karyanya kepada toko-toko kecil. Baru setelah tiga tahun, orang yang dulu dititipi, justru datang untuk memesan produk.
‘’Paling tidak sekali memesan antara 50-100 pieces untuk toko-toko kecil. Harganya kan terjangkau, mulai dari Rp 8 ribu,’’ urai pria lulusan Universitas Brawijaya ini.
Kelebihannya, souvenir tersebut tampak alami dengan sentuhan lukisan seni. Ditambah warna yang didapatkand dari pasir, yang menjadikan lukisan seperti hidup dengan tekstur yang kasar. Begitu pula dengan lukisannya, tampak lebih menarik.
Kini dia mengakui, setiap bulannya minimal mendapatkan omzet Rp 3 juta. Bisa sampai Rp 10 juta jika permintaan tinggi, apalagi bila berbentuk full lukisan wajah. Harganya pada kisaran Rp 150 ribu.
Bapak satu putri ini mengungkapkan, di bulan Ramadan ini mendapatkan pesanan dari Jakarta hingga 8 pieces lukisan. Dia mengakui, jika ada beberapa pelanggannya dari luar kota seperti Surabaya, Bandung, Jakarta dan Kalimantan. Bahkan dia sempat kewalahan.
‘’Kalau ada pemesanan dari luar kota ya diterima, rata-rata mereka mengenal dari beberapa kolega yang sudah mengetahui karya saya sebelumnya, dan model online yang saya gunakan,’’ pungkas Gusman yang juga hobby bermain musik ini. (Stenly Rehardson)