Catatan dari Sekolah Jurnalisme Kebudayaan (SJK) - PWI (1)

Dua Lukisan Istana Bogor Sedot Restorasi Rp 2 Miliar
 
Ketika sinar matahari masuk ke bekas ruang kerja Presiden Soekarno, lukisan karya Konstantin Egrovick Makowsky, tiba-tiba saja terlihat semakin hidup.  Dua perempuan cantik Rusia menyeruak dalam kanvas berukuran 295 x 454 cm. Mentari yang menerobos jendela raksasa di Istana Bogor , secara ajaib juga muncul dalam lukisan tersebut. Berikut catatan Bagus Ary Wicaksono, yang baru saja mengikuti Sekolah Jurnalisme Kebudayaan di Bogor.
 
Karya lukisan dari Rusia itu, hanya ada tiga di dunia. Dua diantaranya dimiliki Indonesia. Sedangkan satu lukisan lainnya, berada di London. Secara detail, mengabadikan momen sakral yang dialami perempuan Rusia sekali seumur hidup. Makowsky memilih adegan persiapan pernikahan dalam ruang mewah. Bak di Istana Kremlin. Di bagian kanan lukisan, pengantin perempuan tengah menjajal gaun pengantin.
Diatas kepala sang pengantin itu, tergantung lampu kristal yang mewah. Secara kebetulan, lampu bermotif sama,  juga ada di realitas ruang kerja Soekarno. Sebaliknya, karpet tebal bermotif klasik di ruang realitas, rupanya persis sama dengan yang ada dalam lukisan.
Realitas di ruang kerja Soekarno seperti memantul dalam lukisan tersebut. Seperti halnya sinar matahari di Istana Bogor, di lukisan terlihat lembut menerobos jendela serta tangga ruangan di dalam lukisan.
Karya agung Makowsky terlihat semakin dramatis karena didukung estetika penataan ruang kerja presiden pertama Republik Indonesia itu.
Soekarno diberi hadiah oleh Istana Kremlin dalam kunjungannya ke Rusia sekitar tahun 1956. Lukisan itu berjudul Perkawinan Adat Rusia, yang dibuat pada tahun 1882.
‘’Presiden Soekarno melihat koleksi lukisan, karya itu yang dilihat paling lama dan dipuji sebagai lukisan terbagus. Tiba-tiba saja, saat pulang dari sana, lukisan besar itu sudah dicopot dari tembok Kremlin untuk dihadiahkan kepada Soekarno,’’ urai Cecep Koswara Penanggungjawab Bidang Protokoler Istana Bogor.
Sebagai karya agung, dua lukisan Makowsky di Indonesia, juga menelan dana restorasi yang luar biasa. Setahun sekali, Istana Bogor mendatangkan dua ahli restorasi dari Rusia. Satu lukisan, menyedot dana restorasi mencapai Rp 1 miliar, sehingga butuh Rp 2 miliar untuk dua lukisan agung itu.
‘’Dana Rp 2 miliar itu hanya untuk dua lukisan saja. Perkawinan Adat Rusia tahun 1881 dan lukisan Upacara Dewa Bakhis atau Di Kayangan 1891,’’ imbuh Cecep sapaan akrabnya.
Sesuai sumber dari Visual Artist18, Perkawinan Adat Rusia memiliki judul asli Pribite Nevesti, juga diberi judul Kedatangan Pengantin Pria. Sedangkan Upacara Dewa Bakhisatau Di Kayangan merupakan judul versi kitab koleksi Ir. Soekarno. Judul asli lukisan kedua ini adalah Vakchanalia.
Kedua karya mencerminkan keterampilan visualnya dengan gaya Romantisisime untuk Perkawinan Adat Rusia dan Neo-Klasikisme Upacara Dewa Bakhis atau Di Kayangan. Lukisan berukuran besar seperti itu hanya ada di Indonesia serta satu di London.
Dijelaskan Cecep, karya Makowsky yang bertengger dalam  salah satu ruangan di Gedung Induk memang istimewa. Di luar ruangan tersebut, juga terdapat karya agung pelukis Indonesia, Basuki Abdullah.
Di dinding Istana Buitenzorg, tergantung karya Jaka Tarub dan Tujuh Bidadari. Lukisan ini menampilkan keindahan tubuh perempuan yang tengah mandi, kemudian diiintip Jaka Tarub.
‘’Jumlah lukisan di istana ini berjumlah 520 buah. Sebagian besar berupa karya nudisme disimpan di salah museum khusus,’’ terang pria yang turun temurun sebagai pegawai Istana Bogor itu.
Mengunjungi Istana Bogor, selain berada di tempat bersejarah, juga seperti berada dalam museum seni. Di setiap sudut bertebaran karya-karya monumental yang menyenangkan inderawi. Terutama indera penglihatan. Soekarno senang memajang lukisan kaum perempuan yang mewakili keindahan dunia.
Selain lukisan, bertebaran pula, koleksi patung, yang mayoritas (maaf) dalam kondisi telanjang. Seperti patung berjudul upacara meminta hujan yang terdapat di selasar  antara gedung induk sayap kiri dan gedung utama. Karya pematung Rusia ini, sempat menghebohkan konferensi OKI yang banyak didatangi pemimpin besar dari Arab.
‘’Jadi patung ini dalam situasi kenegaraan, seringkali merepotkan, karena dalam posisi telanjang, ibu negara selalu meminta untuk diberi pakaian,’’ imbuhnya.
Namun, dalam pertemuan bangsa-bangsa Eropa, justru pernah ditertawakan para delegasi. Sebab, saat itu, sang patung diberi busana batik, hal ini dinilai tidak tepat. Lantaran, sosok dalam patung merupakan perempuan cantik dari salah satu etnis di kawasan benua dingin, Eropa.
‘’Saat pertemuan dengan para pemimpin dari jazirah Arabia, kami beri kain satin ala Turki, ketika itu para pemimpin dari OKI, sempat mengintip patung dan menyebut kata-kata halal, halal,’’ terang Cecep sembari terkekeh.
Salah satu lukisan agung di Istana Bogor, pernah dipamerkan ke Galeri Nasional. Yakni lukisan agung karya Raden Saleh berjudul Gefangennahme Diepo Negoros atau Penangkapan Diponegoro, dibuat sekitar tahun 1857. Karya besar tersebut, juga pernah dipajang di Istana Bogor bersama lukisan-lukisan seksi karya Basuki Abdullah.
Sejarah, keindahan, kecantikan dan keseksian, menyatu dalam istana yang awalnya didirinya untuk rumah sakit tersebut. Seperti kesaksian patung Si Denok yang berada di depan Ruang induk sayap kanan. Patung ini berasal dari lima bagian tubuh yang berbeda, anatomi tubuh lima model cantik dan seksi disatukan oleh sang pematung. Si Denok dan patung ‘Tarian Hujan’ mewakili keseksian Istana Bogor.
Dari sisi sejarah, diwakili paviliyun II yang pernah ditempati Hartini, istri Soekarno. Ditempat itu, Supersemar atau surat perintah sebelas maret yang fenomenal itu dibuat dan diserahkan. Pernik seni dan sejarah lainnya, tersebar dalam lima museum di Istana Bogor.
‘’Peristiwa penting juga terjadi disini, seperti konferensi lima negara pada 28-29 Desember 1954, pertemuan pemimpin Apec dan banyak lagi,’’ imbuhnya.
Tamu negara dan setingkat raja, putra mahkota dan perdana menteri, tak terhitung menginap di Istana Bogor. Pada 5 Juli 2013, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono juga menjamu PM Australia Kevin Rudd secara khusus. Mereka menggelar makan siang di belakang ruang induk utama.
Koleksi buku di istana ini berjumlah 3.025, dijelaskan Endang Sumitra Kepala Sub Bagian Rumah Tangga dan Protokoler Istana Kepresidenan. Endang ini, adalah bagian dari istana itu, sebab plasentanya turut ditanam di halaman istana. Dia adalah generasi keempat dari keluarganya..
‘’Buyut saya Sadero jadi mandor disini pada jaman gubernur jenderal taun 1920, kakek saya jaman Tjarda Van Strarckenborg 1940,’’ jelasnya.
Dia mengatakan bahwa kawasan ini juga menjadi wisata konservasi binatang, memiliki areal seluas 28,8 hektare. Dan terdapat rusa Axis-axis yang didatangkan Gubernur Jenderal Willem Daendels pada tahun 1808-1811, kini mencapai 785 ekor.
Yang perlu dipersiapan ketika mengunjungi Istana Kepresidenan adalah pakaian yang sopan. Pengunjung diharapkan memakai baju berkerah, tak boleh mengenakan kaos, apalagi daster.
Ingat, ini kunjungan ke istana resmi Presiden, buka mengunjungi tetangga yang baru melahirkan, anda sopan maka Paspampres bakal segan.
Selain itu, untuk pakaian bawahan, sebisa mungkin hindari yang berbahan jeans. Lantas pengunjung juga harus mengenakan sepatu, bukan sandal. Kunjungan ke Istana Bogor bakal menjadi kunjungan berharga, sebab bangsa Indonesia menunggu satu abad untuk bisa menempati gedung itu.
‘’Kita tunggu satu abad sampai bisa menempati istana ini, dibangun 1745 oleh Gubernur Jenderal G.W Baron Van Imhoff dan baru ditempati bangsa Indonesia tahun 1949, istana ini sudah ditempati 44 gubernur jenderal, serta satu Jenderal Jepang bernama Imamura masa pendudukan Jepang,’’ tandas Endang.
Malang Post bisa masuk ke Istana Bogor, karena menjadi salah satu peserta Sekolah Jurnalisme Kebudayaan-PWI Pusat kerjasama Badan Pengembangan SDM Pendidikan dan Kebudayaan dan Penjamin Mutu Kebudayaan (PSDMPK-PMP) Kemendikbud. Kegiatan ini diselenggarakan mulai 18 – 25 Juli 2013 di Bogor. (Bagus Ary Wicaksono)