Catatan dari Sekolah Jurnalisme Kebudayaan (SJK) – PWI (2)

Materi dalam Sekolah Jurnalisme Kebudayaan (SJK) – PWI pada 18 – 25 Juli 2013, juga diberikan langsung di lokasi kebudayaan. Salah satunya adalah Kampung Adat Sindangbarang Desa Pasir Eurih Kecamatan Tamansari Bogor. Jaraknya sekitar lima kilometer dari Istana Kepresidenan Bogor. Seluruh peserta SJK-PWI 2013 diangkut bus menuju kampung tersebut.

Rombongan kami, dipatok biaya masuk Rp 100 ribu per orang untuk menikmati suasana kampung, sajian angklung dan silat. Seni yang ditampilkan telah menjadi sajian kitsch (kemasan budaya). Kampung itu sendiri, lahir dari proyek revitalisasi Kampung Adat Sindangbarang yang menelan dana Rp 750 juta.
Kampung itu pada tahun 2006, mendapatkan dana yang dihibahkan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Dasarnya, Singdangbarang disebut sebagai kampung adat tertua di Bogor, versi naskah Pantun Bogor dan Babat Pajajaran.
Di Sindangbarang, kami akan menerima materi kritik seni pertunjukkan dari Dr. Sal Murgiyanto, dosen IKJ sekaligus penari generasi kedua sendratari Ramayana di Candi Prambanan.
Malang Raya, seharusnya memiliki kampung adat seperti ini, sebagai jujugan wisata kebudayaan. Di Sindangbarang, seni tradisi telah dikembangkan dari fungsi aslinya. Terdapat sebuah kawasan yang dibangun untuk mengembalikan masa lalu. Kawasan itu ditempuh dengan melewati jalur pedesaan yang berliku-liku.
Dari perhentian bus, tampak tujuh perempuan berpakaian hitam berjajar memagari jalan, seperti orang Baduy. Tak berapa lama, telinga mendengar  musim ansambel, merdu seperti calung.
Wisatawan yang turun dari bus, langsung bergegas, menyusuri jalan berbatu yang menanjak, Semakin mendekat, ternyata barisan ibu-ibu itu memainkan angklung dan kendang, namanya angklung gubrag.
Pada ujung tanjakan, ternyata bukan baduy, baju mereka berbeda. Perempuan ini meski berbaju hitam, namun ada batik diantaranya bawahannya. Kepala mereka terlilit kain batik pula, yang dililit sedemikian rupa melingkari kepala. Mereka merupakan kelompok seniman angklung gubrag dari Cipining.
Ada sekitar enam perempuan memainkan angklung, dipimpin satu perempuan pembawa kendang panjang. Dalam tradisi aslinya, angklung gubrag ini dimainkan ketika musim menanam padi saja. Setiap lengkungan bunyi bambu bertala, diimbangi dengan hentakan kendang si pemimpin. Wisatawan berhenti, mereka memotret, obyeknya semakin bersemangat menggoyangkan bambu bertala itu.
Angklung mereka juga sama seperti di daerah Jawa Barat lainnya, di ujungnya terdapat empat ikatan batang padi.  Usai mendapat sambutan meriah dari para seniman angklung gubrag, wisatawan cukup menempuh jarak sekitar 200 meter menuju pintu masuk kawasan Kampung Adat Sindangbarang.
Kampung itu berdiri diatas kawasan seluas sekitar 8.600 meter persegi, yang disulap menjadi kampung kuno. Ditandai dengan struktur  dan bangunan tradisional sunda, sesuai gambaran dalam naskah Pantun Bogor.
Bangunan dan struktur tersebut berderet rapi membentuk huruf U. Areal kosong ditengah huruf, difungsikan sebagai alun-alun. Lesung penumbuk padi, ditempatkan dekat pintu masuk dibawah bangunan tanpa tembok. Secara berjajar berdiri enam Leuit atau disebut sebagai lumbung padi.
Terdapat pula rumah adat untuk kokolot (tetua) berupa Girang Serat. Termasuk membangun balai pangriungan (balai pertemuan), saung lisung yang difungsikan untuk pesanggrahan tamu. Adapun yang paling menonjol adalah Imah Gede, ini bangunan utama yang ditempati Pupuhu (Kepala) Kampung Adat Sindangbarang, Maki Sumawijaya.
Rumah kepala adat tersebut, menyesuaikan dengan strata sosialnya. Di kampung itu, Imah Gede ditempatkan di lokasi paling strategis, Imah berada di tanah yang lebih tinggi.
Ketika sang Pupuhu duduk di teras Imah, maka seluruh kawasan berada dalam jangkauan matanya. Alun-alun berfungsi  pula untuk pertunjukan kolosal. ‘’Restorasi kampung ini, seluruhnya mengikuti teks yang ada dalam pantun Bogor,’’ tegas dia.
Dalam durasi pendek, pertunjukan selanjutnya adalah seni silat. Pagelaran dimulai, ketika nayaga (seniman gamelan) mulai memainkan Kidung Rahayu. Durasi kidung untuk penyambutan tamu itu, berlangsung sekitar lima menit.
Sementara itu, sepasang pesilat laki-laki dan perempuan sudah siap turun ke areal pertunjukan. Bergantian, pesilat perempuan, Ning Vera, mempertontonkan silat pengembangan Cimande dari Mulyaharja, yakni tepak dua. Gerakan perpindahan kaki selalu diikuti dengung gong dan kendang. Silat lebih agresif ditunjukkan oleh pesilat laki-laki, Ari, dengan tepak tujuh.
Meski berbeda jurus, kedua gerakan pesilat itu, tetap mengikuti gendang pencak. Terdiri dari gong, Kemprang (kendang laki-laki) dan Gedug (kendang perempuan). Pemain Kemprang memainkan pula dua kendang kecil yang disebut Kulanter. Sedangkan pemain Gedug hanya dilengkapi satu Kulanter.
Yang mengendalikan ansambel tersebut, adalah tiupan terompet Yas Sasmita asal Mulyaharja. Terompet ini sama dengan torempet reog Ponorogo. Peniup terompet dan rombongannya, datang ke Sindangbarang sesuai panggilan pengelola, ketika wisatawan tiba. Termasuk juga mengiringi Silat Cimande yang kemudian disajikan Kokolot Sindangbarang Ukut Sukatma dan satu pesilat lain.
Sajian seni budaya tersebut, mulai dari angklung gubrag, silat tepak dua, silat tepak tujuh dan silat Cimande, adalah kemasan untuk kampung adat.  Tapi, warga sendiri juga berupaya agar seni tradisi tak sekedar menjadi pemanis revitalisasi kampung adat.
Aslinya, kesenian angklung gubrag hanya dimainkan sebelum benih padi ditanam. Seharusnya ditandai pula dengan ritus Pupuhu yang memberi ajimat atau doa pada benih pertama. Kini, seniman tak lagi memainkan ansambel untuk benih padi, tapi untuk manusia.
Dominasi persawahan di kawasan tersebut memang menunjukkan identitas masyarakat Sindangbarang, mayoritas bergerak di sektor agraris. Tak heran masyarakat memiliki budaya angklung gubrag, sebagai ritual tanam padi perdana agar panen melimpah. Tapi kini, komoditasnya sudah berbeda, tak lagi padi, melainkan manusia.
Kawasan seperti ini, sangat bisa dikembangkan di Malang Raya. Misalnya dengan merestorasi Desa Ngadas di Kecamatan Poncokusumo. Sebelum tergerus jaman, rumah adat yang asli harus tetap dipertahankan.
Agar seni itu tradisi hidup, maka tetap harus dijadikan kitsch (baca, kemasan). Dipertontonkan, sekedar mengikuti keterbatasan waktu para wisatawan. Tapi tetap harus disertai bukti sejarah. Seperti bukti material Sindangbarang sebagai kampung adat tertua dan bagian Kerajaan Pajajaran. Ditandai dengan keberadaan sejumlah situs penting.  Sebut saja, Taman Sri Baginda dan Sumur Jalatunda yang berada di Jalan Kapten Yusuf Bogor.  
Meminjam istilah Adorno, kitsch adalah fenomena industri budaya (culture industry), seni diposisikan sebagai karya yang dibuat dan dikendalikan oleh kebutuhan pasar. Pasarlah yang menentukan apa yang disebut seni. Masyarakat hanyalah konsumen yang pasif menerima definisi itu.
Kearifan lokal, bukanlah sekedar tontonan namun juga memiliki nilai kebudayaan. Budaya bukanlah sekedar merestorasi bangunan masa lalu. Akan tetapi, budaya adalah tetap menjalankan nilai adiluhung warisan leluhur. Hal tersebut dikembalikan kepada kesadaran budaya masyarakat dan penikmat budaya itu sendiri. (Bagus Ary Wicaksono)