Catatan dari Sekolah Jurnalisme Kebudayaan (SJK) – PWI (Habis)

SEKOLAH  Jurnalisme Kebudayaan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) angkatan II 2013, diikuti 60 peserta se-Nusantara. Seluruhnya lulus kompetensi kebudayaan, beberapa diantaranya adalah utusan dari sejumlah Direktorat dan Kementerian. Harian Pagi Malang Post Korane Arek Malang sendiri berhasil  masuk sebagai 10 peserta terbaik.

Malam penutupan SJK-PWI 2013 menjadi kejutan bagi panitia, para peserta mempersiapkan ”terapi” jantung. Peserta dari Papua hingga Aceh, telah sehati dalam sekolah tersebut. Entah kenapa, kami demikian akrab, saling tersenyum satu sama lain.
Agar penutupan terasa lebih ”magis”, kami telah menyusun sejumlah skenario. Ini merupakan usulan dari Johanis Rahangmetan, atau sebut saja Jon, peserta dari Papua. Pada penutupan, kami membuat konflik, seakan-akan para peserta marah dan tidak puas kepada panitia.
”SJK ini harus menjadi momen paling indah, kita saja tidak lupa satu sama lain, maka panitia harus mengingat momen ini, demi SJK angkatan kedua,” demikian ”provokasi” Jon kepada kami.
Tak seluruh peserta tahu rencana ini, agar benar-benar menjadi surprise. Kami membagi adegan menjadi sesi ”amuk”, sesi ”humor” dan sesi ”pesan moral”. Penulis sendiri kebagian berperan sebagai Romo Prof. Mudji Sutrisno yang akan memberikan pesan moral. Sutradaranya Dewa Made, peserta dari Sumsel.
Untuk sesi amuk, Frans Ekodhanto dari Koran Jakarta ditunjuk sebagai pembuka amarah. Kemudian diiikuti akting dari teman lain, berteriak, menggebrak meja untuk memancing emosi. Bahkan ada yang mendapat jatah pingsan, yakni Yusy dari Sampit, demi efek panik.
Adegan amuk itu berhasil, ruangan aula Gumati benar-benar ricuh. Para panitia panik, Direktur SJK-PWI Yusuf Susilo Hartono sampai harus mengeluarkan Al Fatihan untuk meredam aksi. Sedangkan Willy Hangguman, salah satu perwakilan pengajar, bergantian mendatangi peserta yang mengamuk.”Saya sudah hampir menelpon Polda Metrojaya, panik sekali, apa salah panitia,” aku Dra. Puspa Dewi Ketua pelaksana dari Pusat Pengembangan SDM Kebudayaan Kemendikbud semberi terkekeh.
Paska sesi amuk, kami memberikan sesi humor, yakni tampilnya aksi parodi. M. Iksan dari Palembang memerankan Willy Hangguman, Wandi Barboy dari Lampung berperan sebagia Direktur SJK Yusuf . Sebagai bom tawa, tampil Emil Mahmud dari Bangka Pos, sebagai Bre Redana.
Dia mengenakan wig palsu dari kain pel, kemudian disusul tampilnya penulis sebagai Romo Mudji. Dalam sesi ini, kami sisipkan foto lucu hasil croping wajah Jon dari Papua. Filsafat ala Romo Mudji bahwa manusia harus berkontemplasi disisipkan disini, diakhir pesan moral dari lagu Layang-layang.”Aksi yang menarik, mengena, kalian berhasil ngerjai kami,” aku Willy Hangguman pemerhati film.
Diluar aksi itu, selama berada di Bukit Gumati, para peserta menerima berbagai materi yang bersinggungan dengan kebudayaan. Sebelum materi selalu ada pre test untuk mengukur pengetahuan peserta. Sekaligus setelah materi juga diberikan post test, untuk mengukur sejauh mana serapan materi.“Selama mengikuti SJK, juga diberikan tes tulis serta tes lisan, ada 10 peserta terbaik karena memiliki nilai sangat baik,” ujar Direktur SJK PWI Yusuf Susilo Hartono.
Kata dia, aspek penilaian dalam SJK itu antara lain pengetahuan, ketrampilan serta sikap. Yusuf sendiri menegaskan bahwa angkatan kedua kali ini, seluruh peserta lulus. Bahkan diantara 10 terbaik, tak hanya dari kalangan wartawan, namun juga dari Utusan Direktorat.
”SJK kedua tak lepas dari SJK Pertama, idenya dilontarkan Ketua PWI Margiono pada saat temu redaktur 2012, SJK pertama digelar Desember 2012 saat itu ada 17 peserta,” ujar Yusuf.
Tahun ini, kata dia, SJK kedua digelar dengan format sama, tapi terdapat sejumlah penyempurnaan. Terutama dari sisi metodelogis, peserta juga diajak praktik langsung ke kawasan kebudayaan. Malang Post sendiri, baru pertama kali menjadi peserta Sekolah Jurnalisme Kebudayaan itu.
Sejumlah pemateri hebat dipersiapkan panitia dari PWI serta Badan PSDMPKPMP Kemendikbud. Antara lain Junus Satrio Atmodjo (Ketua IAI), Dr Sal Murgiyanto, Prof Mudji Sutrisno, Prof. Wahyu Wibowo, Arbain Rambey, Bre Redana, Willy Hangguman, TD Asmadi, Efix Mulyadi, Asmudjo Jono Irianto dan Hendry Ch. Bangun.
Adapun pada SJK-PWI 2013 itu, PWI Provinsi Jawa Timur mengirimkan tiga utusan, yakni dari Malang Post, Harian Surya serta Majalah Kidung (milik Dewan Kesenian Jawa Timur). Harian Surya diwakili M. Rivai (Ketua PWI Sumenep) sekaligus wartawan yang tiga kali meraih Prapanca. Sedangkan Majalah Kidung diwakili Jabbar Abdullah, “Lurah” di Komunitas Lembah Pring.
Di Bogor para peserta berasal dari Papua sampai Aceh, mereka utusan dari sejumlah media massa. 52 peserta merupakan para wartawan, sedangkan delapan orang adalah utusan dari berbagai direktorat. Mereka telah memiliki pengalaman dalam bidang kebudayaan
Seperti Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman, Direktorat Pembinaan Kesenian dan Perfilman, Direktorat Sejarah dan Nilai Budaya, Direktorat Pembinaan Kepercayaan Terharap Tuhan YME dan Tradisi, Direktorat Internalisasi dan Diplomasi Kebudayaan, Sekretariat Ditjen Kebudayaan dan PIH Kemdikbud.
Adapun wartawan berasal dari Waspada (Medan), Analisa (Medan), Batam Pos, Tribun (Pekanbaru), Inioke.com (Padang), Haluan (Padang), Bengkulu Ekspres, Bangka Pos, Majalah Tinta Pena Sastra (Jabar), Suara Merdeka (Jateng), Majalah Kidung (Jatim), Surya (Jatim), Bali DWE Magazine, RRI Denpasar, Lombok Pos, Kupang Pos, Victory News (Kupang), RRI Samarinda, Banjarmasin Post, Radar Sampit, Mega Pos (Kalteng), Antara (Sulut).
Media Sulut, Sulteng Pos, Mercu Suar (Sulteng), Fajar (Sulsel), Surya Pos (Sulteng), Media Sultra, Jambura (Gorontalo), Posko Malut, Tabura Pos (Papua Barat), Cahaya Papua, Media Papua Manokwari, Waspada (NAD), Serambi Indonesia (NAD), Jambi Daily, Majalah Besemah (Sulsel), Majalah Kinerja (Sulsel), Lampung Pos, IKJ, Media Indonesia, Koran Jakarta, Majalah Galeri, Kedaulatan Rakyat (DIY), Jogjanews, Detik.com (Maluku), Harian Ekspresi (Maluku), Bintang Papua, The Jakarta Post (Papua), Berita Cilegon dan Majalah Teras (Banten).
Adapun 10 besar hasil lulusan SJK 2013 adalah Asti Supriati RRI Samarinda, Kaltim; Denison Wicaksono Dit Internalisasi; Rosid Al Azhar Jambura On, Gorontalo; Yosy Radar Sampit,Kalteng: M Ikhsan Mustakim, Majalah Besemah Sumbar; Eka Nugraha Fajar Sulsel; Bagus Ary Wicaksono Malang Post Jatim; Rahmadhani Haluan Padang; Dian Trihayati Dit PCPM Kemendikbud; Nethy Dharma Somba The Jakarta Post (Jayapura).
SJK 2013 itu berakhir dengan manis, bahkan rekan Leksi Salukh dari Kupang, berkali-kali menangis, saat dalam bus dan ketika dibacakan puisi. Kami semua berpisah di Bandara Soekarno-Hatta sembari berpelukan, seperti tak akan pernah bertemu lagi.
Selain mendapat ilmu, kami juga mendapatkan saudara. Keramahan dan senyum rekan seluruh nusantara, telah tertinggal dalam sanubari. Seiring janji kami, untuk selalu mengangkat budaya Indonesia dalam ranah pemberitaan. Selantang puisi yang dibacakan oleh Kurniawan, rekan peserta dari Jakarta tentang makna persahabatan.(Bagus Ary Wicaksono)