Berlatih di Swedia Terpaksa Batal Puasa

MALANG POST - Tim Banteng Muda Indonesia U-12, beberapa hari lalu, kembali dari Gothenberg, Swedia. Tim binaan Pengcab PSSI Kota Malang itu, mewakili Indonesia di ajang The World Youth Cup, Gothia Cup 2013.  Hasilnya cukup lumayan. Tembus posisi delapan besar dari 198 tim peserta, dari seluruh penjuruh dunia. Kesempatan bertanding hingga Benua Eropa, tentu saja merupakan pengalaman yang tak terlupakan sepanjang hidup bagi pemain yang rata-rata masih pelajar SMP.

Rombongan tim Banteng Muda yang ke Eropa, terdiri dari 12 pemain. Didampingi tiga ofisial, masing-masing Nino Sutrisno (Penasehat Teknik) Roy Samai (pelatih) dan Rian Agusnisa (Kordinator/Sekretaris Tim). Diantara seluruhnya, hanya Rian Agusnisa saja, yang pernah berkunjung ke Eropa.
Laki-laki asli Arek Malang itu, tahun lalu juga mendampingi tim Banteng Muda di even yang sama. Sedangkan lainnya, berkunjung ke Eropa seperti mimpi.
‘’Selama saya berkarier di sepak bola sebagai pelatih di beberapa klub di Indonesia, baru kali ini saya ke Eropa. Usia saya sudah mencapai 75 tahun. Kalau negara lain seperti Malaysia, Singapura, China, sudah pernah saya kunjungi. Tetapi kali ini ke Eropa bersama anak-anak yang usianya masih 12 tahun yang sudah saya anggap sebagai cucu-cucu saya. Walaupun saya sudah tua, saya berusaha membantu anak-anak,’’ kata Nino Sutrisno kepada Malang Post.
Selama di Swedia hampir sepuluh hari, Nino mengaku selalu kontak dengan keluarga di Malang. Baik istri maupun anak-anaknya. Menurutnya, lebih baik terus memberi kabar ke keluarganya di Indonesia daripada memberi oleh-oleh dari Eropa.
‘’Tiap hari saya selalu kontak lewat telepon ke anak dan cucu,’’ kata pria dengan tiga anak dan enam cucu ini.
Lain Nino, lain pula Ahmad Maulana Fadholi. Pemain yang menempati posisi penjaga gawang ini, mendapat kenangan manis selama bertanding di Gothia Cup.
Putra kedua pasangan Achmad S dan Siti Habibah ini, diminati tim tuan rumah dan diminta untuk berlatih di Swedia. Hanya saja, ibunya masih belum tega, jika anaknya harus kembali bermain di Swedia. ‘’Biar sekolah terlebih dahulu,’’ kata Siti Habibah kepada Malang Post.  Sedangkan ayahnya, Achmad S, setuju-setuju saja jika anaknya berlatih di Eropa.
Selama di Swedia, pemain Banteng Muda tidak banyak mengalami kendala makanan maupun cuaca.  Cuaca di Swedia saati itu, tidak terlalu ekstrem. Meski terik matahari sangat panas, namun udaranya sedikit dingin. Sehingga anak-anak masih bisa mengembangkan semua kemampuannya.
Hanya saja, siang hari di Swedia jauh lebih lama dibandingkan waktu malam. Pukul 21.00 waktu setempat, seperti pukul 15.00 WIB. Tak heran pula, jika pemain-pemain Banteng Muda terpaksa tidak bisa menjalankan ibadah puasa.
Sebenarnya, pemain-pemain sepak bola anak-anak, sudah terbiasa latihan atau bertanding saat menjalankan ibadah puasa. Namun,  karena waktu siang lebih lama dari waktu malam, terpaksa anak-anak Banteng Muda tidak puasa.
‘’Anak-anak tidak puasa bukan karena pertandingan tetapi karena waktu siang sampai 17 jam. Sedangkan di Indonesia siang hari hanya 12 jam,’’ kata Sekretaris Umum Pengcab PSSI Kota Malang Haris Thofly. (jon soepartijono)