Ironi di Tengah Rentetan Prestasi Kampung ‘New Camp’ Sukun

Segudang penghargaan yang diraih sejak tahun 2011 silam, melejitkan RW 3 Kelurahan Sukun, Kecamatan Sukun sebagai salah satu kampung berprestasi di Kota Malang. Berkat inovasi bertema lingkungan yang terus digalakkan secara swadaya, kawasan yang dulu akrab disebut Kampung Baru itu, menjadi jujugan studi banding instansi dalam dan luar negeri. Sayangnya, masih ada ganjalan yang meresahkan hati warga kampung ‘New Camp’ tersebut.

PELUH mengucur deras di wajah Zainul Arifin. Dengan langkah tergopoh-gopoh, Ketua RW 3 Kelurahan Sukun itu coba mengejar Menteri Lingkungan Hidup RI, Prof Dr Bhaltasar Kambuaya, MBA yang berada di tengah-tengah rombongan. Jantungnya berdegup kencang. Rasa segan dan motivasi kuat dalam dirinya berkecamuk menjadi gejolak batin yang tak tertahan.
Dengan deru nafas yang masih terengah-engah, Zainul mendekati menteri kelahiran Ayamaru, Papua Barat itu. Dia merasa dunia serasa bergoncang hebat untuk sekadar mengiringi keberaniannya berkeluh kesah kepada pejabat 56 tahun itu.
‘’Meski kami begitu kompak, namun warga belum tenang. Kami semua belum memiliki hak penuh atas rumah yang kami tinggali. Rumah kami tak kunjung bersertifikat, pak,’’ tuturnya lesu setelah lebih dulu mengawali dengan basa-basi santun.
Kejadian itu hanyalah penggalan memori yang masih terus terngiang dalam pikiran Zainul. Bermodal nekat, dia menyampaikan jeritan warganya kepada Pak Menteri yang hadir dalam rangkaian kegiatan pembukaan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Bank Sampah, yang diikuti kepala daerah seluruh Indonesia pada 3 November 2012.
Meski sadar sang menteri tak berwenang menyelesaikan permasalahan tersebut, namun setidaknya Zainul terus memperjuangkan nasib keluarga dan rumah tinggal 350 Kepala Keluarga (KK) yang hidup berdampingan di sepanjang Jalan Terusan Merpati dan Jalan S. Supriyadi yang dipimpinnya sejak tahun 2011.
‘’Yang kami dapatkan hanya janji dan janji. Entah kenapa, proses pengajuan yang kami urus, selalu gagal,’’ seloroh pria yang sudah tinggal di Kampung Baru sejak tahun 1983 tersebut.
Tak mau terus larut dalam ketidakpastian, pria kelahiran Surabaya ini punya jurus jitu untuk membuat kampungnya ‘bersinar’. Zainul dan warga RW 3 berkeyakinan, bila mereka mampu mengukir segudang prestasi, nama kampung mereka bakal ikut terkatrol. Dari kebanggaan itulah, diharapkan nantinya Pemkot Malang bakal lebih peduli dengan keprihatinan yang dirasakan penduduk setempat.
Diawali dengan membentuk kader lingkungan di tiap-tiap RT hingga tingkat RW, Zainul mengerahkan warganya untuk aktif menghijaukan ‘New Camp’, julukan populer kampungnya.
‘’Kami memilih kader lingkungan yang benar-benar mau bekerja keras dan tulus. Total ada 24 orang. Masing-masing tiga orang dari tiap-tiap RT. Untuk kader lingkungan RW juga ada sendiri, orangnya tidak boleh sama,’’ kenang Ketua RW yang tak sungkan turun langsung memberi contoh warganya tersebut.
Kerja keras seluruh warga berbuah manis. New Camp akhirnya dinobatkan sebagai Juara I Lomba Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) Kota Malang 2011. Tak hanya berpredikat terbaik di kota sendiri, RW 3 Sukun juga berhasil merebut titel jawara tingkat Provinsi Jawa Timur dan Runner-Up Nasional untuk kategori lomba yang sama.
Sukses tersebut berlanjut marathon. Mereka kembali berjaya dalam Lomba Clean and Green Kota Malang yang digelar setahun berikutnya. Tak berselang lama, Pemkot Malang mendapuk New Camp dengan predikat Kampung Therapy. Karena di setiap gang ada media batu therapy yang bisa dimanfaatkan warga setiap waktu cukup dengan berjalan tanpa alas kaki melewatinya.
Ide inovatif tersebut sempat menuai protes, karena dianggap mengganggu proses resapan air di jalan. Namun, setelah dikondisikan bersama dengan penggantian biopori, media therapy di sepanjang jalanan gang semakin digandrungi.
‘’Bahkan warga menjadi lebih sehat. Mulai lepas subuh ada saja yang sudah mulai therapy,’’ urai Ketua PKK setempat, Erna Zainul yang tak lain adalah istri Ketua RW.
Yang tak kalah fenomenal adalah pencapaian New Camp dalam hal pengelolaan Bank Sampah Masyarakat (BSM). Dengan ketersediaan 75 tong composter hampir di seluruh sudut kampung, sampah kering yang dikumpulkan warga bisa disulap menjadi nominal Rp 250 ribu per pekan. ‘’Setiap satu minggu sekali kader lingkungan keliling kampung bawa gerobak untuk mengambil sampah kering. Warga seolah tak perlu dikomando lagi. Hasilnya juga lumayan,’’ tutur perwakilan Karang Taruna RW 3 Sukun, Dodik Haryanto.
Bukan tanpa alasan bila warga setempat bisa sukses mengelola sampah kering yang umumnya adalah koran bekas, barang plastik, seng hingga kawat yang masih bisa diloakkan. Pasalnya, kebiasaan mengelola sampah kering sudah dijalankan di sana jauh sebelum konsep BBM digagas beberapa tahun lalu.
Berkat inovasi yang kreatif sekaligus menguntungkan tersebut, beragam penghargaan pun sukses disabet New Camp. Pengakuan tak hanya datang dari pemerintah daerah saja, namun juga dari mancanegara. Kampung Baru tak henti menjadi jujugan studi banding pihak-pihak yang tertarik mendalami soal pengelolaan lingkungan bersih dan hijau. Tamunya mulai dari penjuru nusantara sampai peneliti dari Australia, Jepang dan Jerman. ‘’Rata-rata mereka heran kenapa kami bisa sekompak ini dalam mengelola lingkungan,’’ imbuh Gatot Adi Basuki, kader lingkungan setempat.
Selain sukses dalam hal inovasi lingkungan, ‘bakat’ lain yang juga layak dibanggakan warga New Camp adalah kepiawaian tim Patrol mereka. Mulai digiatkan medio 2010 silam, sederetan gelar kampiun Lomba Patrol mulai tingkat kota hingga provinsi sukses dibawa pulang. Polres Malang Kota pun dibuat kepincut sehingga bersedia menjadi pembina tim patrol RW 3 Sukun.
Terbaru, tim Patrol New Camp sukses menjadi jawara Lomba Patrol Jawa Pos yang berlangsung akhir pekan lalu. Dalam ajang prestisius yang dihelat di Surabaya, 27-28 Juli kemarin, tim kesenian lokal Kampung Baru sukses menjadi yang terbaik usai menyisihkan wakil Surabaya dan Banyuwangi yang harus rela menduduki podium kedua dan ketiga.
M Taufiq, Ketua Patrol New Camp menganggap rentetan prestasi yang diukir tak lepas dari buah kerja keras seluruh elemen masyarakat. Dengan mayoritas personil masih duduk di bangku SMP dan SMP, siapa sangka jika Patrol New Camp mampu menorehkan capaian membanggakan.
‘’Kami menganggap semua lomba lokal yang diikuti tingkat kota adalah ajang latihan untuk terus memperbaiki kekurangan. Selain itu, dengan aktif di patrol, generasi muda kami jadi punya media penyaluran bakat sehingga jauh dari perilaku negatif,’’ paparnya kepada Malang Post.
Karena sudah terlalu sering menang di berbagai lomba yang diikuti, tim New Camp pun sering dibuat mringis karena tidak boleh menjadi peserta. Rata-rata panitia hanya memperbolehkan mereka ambil bagian sebagai tamu kehormatan. Terlepas dari prestasi apa lagi yang akan dibukukan, masih terselip keinginan warga untuk memiliki kepastian akan rumah yang menjadi pelabuhan hidup mereka. (tommy yuda pamungkas)