Maestro Macapat yang Berperang Melawan Sakit Jantung

Sosok Supatman, sudah tak asing lagi bagi warga Kabupaten Malang yang menyukai tembang Jawa. Sepanjang hidupnya, dia habiskan untuk melantunkan Macapat dengan manggung ke beberapa daerah. Bahkan dia juga menciptakan beberapa karya Macapat sendiri, hingga dijuluki Maestro Macapat.

Namun, tak banyak yang tahu, sang Maestro Macapat itu, sekarang tergolek lemah di rumahnya, lantaran sakit jantung. Tubuh pria berusia 68 tahun ini, tampak kurus kering. Ketika Malang Post mengunjungi kediamannya di Jl. Kartini 2, Dusun Gadungan RT 04 RW 16 Desa Karanganyar, Kecamatan Poncokusumo, terlihat sekali dia tengah berjuang keras melawan sakitnya.
Selain badannya yang kurus kering, rambutnya habis karena rontok. Bahkan Ki Supatman, begitu dia akrab disapa, sudah mulai diserang pikun.
‘’Sudah dua tahun bapak sakit jantung. Kondisinya ya seperti ini, kurus kering. Padahal dulu gemuk,’’ ujar Sunarah, istri Ki Supatman kepada Malang Post.
Dengan kondisinya yang seperti itu, kini, aktivitas Ki Supatman menjadi sangat terbatas. Seharian, ia hanya tiduran di kamarnya. Jika mau berjalan, ia harus menggunakan tongkat sebagai alat bantu. ‘’Untuk jalan bisa. Tapi kalau dipaksakan sakit. Jalannya juga pakai tongkat. Enaknya ya tiduran atau duduk begini,’’ ucap Ki Supatman lirih, sambil mencoba mencari posisi yang enak untuk duduk di kursi panjang.
Supatman lahir di Malang 17 Oktober 1945 silam. Pria yang mempunyai tiga anak dan tiga cucu ini, begitu cinta kepada kebudayaan Jawa. Khusunya Macapat.
Tidak hanya nembang, dia juga menciptakan Macapat sendiri. Bahkan dia sempat mencapai puncaknya, saat menjuarai festival vokal tradisional bernafaskan P-4.
‘’Saat itu, tahun 1991. Bapak mendapatkan penghargaan tersebut langsung dari Bapak Bupati saat itu,’’ kata Sunarah. Lanjutnya, Ki Supatman sering nembang Macapat di Kabupaten Malang. Seperti Jabung, Tumpang, Pakis, Poncokusumo, Pakisaji, Kepanjen, Tirtoyudo hingga Ampelgading.
Sedangkan di luar daerah, dia kerap nembang Macapat di Mojokerto, Sidoarjo dan Gresik. Hanya sja, Sunarah menyesalkan tak banyak pemuda-pemudi yang mengikuti jejak suaminya. Padahal, kata dia, kalau bukan anak-anak muda, lantas siapa lagi yang akan melestarikan kebudayaan tradisional Jawa terutama Macapat ini.
‘’Kalau pemuda atau remaja, hanya sedikit yang belajar Macapat ke Bapak. Kalau bule, banyak yang belajar. Terakhir, ada bule bernama Caroline asal Amerika yang belajar Macapat di sini,’’ ucap Sunarah.
Ki Suratman, sebelumnya berusaha agar anak-anaknya tetap melestarikan budaya Jawa dan itu mulai membuahkan hasil. Anak sulungnya, Witanto, saat ini tengah aktif mengajar tari topeng khas Malangan.
‘’Witanto saat ini berada di Dampit. Disana dia mempunyai sanggar dengan mengajarkan tari-tarian kepada anak-anak. Bahkan beberapa waktu lalu pernah mendapatkan penghargaan dari Dinas Pendidikan,’’ bebernya.
Meski saat ini tergolek lemas karena sakit yang dideritanya, bukan membuatnya patah arang maupun patah semangat. Malahan Ki Supatman mempunyai keinginan yang sangat kuat untuk cepat sembuh. Karena dia menginginkan untuk dapat nembang Jawa lagi.
‘’Sejak saya sakit, tidak bisa lagi bergabung dengan Grup Macapat Condromulyo. Jujur, saya kangen nembang Macapat lagi. Namun bagaimana lagi, kondisi yang membuat saya tidak bisa nembang,’’ ucapnya dengan tatapan menerawang dan suara yang lirih.
Ditengah kondisi suami kesayangannya yang sedang sakit itu, Sunarah berharap bantuan dari berbagai pihak. Pasalnya, kondisi ekonomi saat ini, tidak memungkinkan untuk melakukan pengobatan terutama operasi. ‘’Sebelumnya sudah ada sekelompok pemuda dari Kota Malang, yang membantu pengobatan Bapak. Semoga Bapak juga cepat sembuh,’’ harapnya. (binar gumilang)