Padi, Sang Ahli Menyalurkan Air Ketika Berbagai Cara Gagal

MENYALURKAN air dari sebuah sumber dari, lembah ke perkampungan tempat usaha, tidaklah mudah. Begitu juga dengan mengalirkan air sumber yang berada di bawah aliran sungai, ke lokasi proyek atau rumah-rumah penduduk juga tidak gampang. Umumnya upaya yang dilakukan berbagai kalangan mengambil air dari lokasi sulit seperti itu menggunakan pompa air dengan tenaga listrik. Tapi bagi Padi Sugiarto, dia menyalurkan air dari lokasi sulit tidak perlu listrik atau pompa air.

Padi. Begitu dia dipanggil. Tidak punya perawakan seorang insinyur atau ahli pengairan. Perawakan kecil, kulit sedikit hitam dan ditambah kumis yang agak panjang. Dia juga sudah memiliki kulit yang berkeriput karena usianya 58 tahun.
Sekilas dia memang seperti seorang petani biasa. Tapi dari sosok yang sederhana tersebut, dia memiliki keistimewaan mampu mangalirkan air dari sumber yang sulit dijangkau, ke pemukiman dengan sistem sederhana. Semakin sulit sumber tersebut dijangkau, dia semakin terpacu dia untuk sukses mengalirkan ke lokasi tujuan.
‘’Saya sudah biasa menangani proyek gagal. Artinya berbagai sistem untuk mengalirkan air dari lokasi sumber sudah dilakukan, tetapi air tidak bisa mengalir ke lokasi tujuan. Syukur, setelah saya tangani banyak yang sukses,’’ ungkap warga Dusun Banaran Kecamatan Bumiaji Kota Batu ini kepada Malang Post.
Ada dua sistem yang digunakan digunakan untuk mengalirkan air. Sistem injeksi dan turbin. Sistem injeksi adalah menanam pipa langsung ke sumber, sedangkan sistem turbin adalah penggunaan air mengalir untuk memutar turbin. Sistem turbin ini juga bisa menghasilkan arus listrik untuk penerangan selain mengalirkan air.
Sistem sederhana yang diciptakan untuk mengalirkan air tersebut, sudah digunakan berbagai daerah. Dia juga pernah diminta Prabowo Subianto, Ketua Umum Partai Gerindra, membuat 20 hydrant di Bali.
Masih bersama Prabowo, dia juga mengusahakan air untuk petani nelayan di daerah Sukabumi dan beberapa kota dan Kabupaten di Jawa Barat hingga Kendari.
Dia juga biasa diminta Bupati Lumajang, kala itu, Fauzi, untuk mengerjakan penyaluran air di wilayahnya. Begitu juga dengan daerah Probolinggo, sudah banyak kawasan perumahan atau usaha menggunakan jasanya.
‘’Program pemerintah hingga PNPNM, saya sudah banyak mengerjakan pengaliran airnya. Di daerah Wlingi Kabupaten Blitar, ada proyek milik Dinas Sosial membuat program air bersih untuk pengungsi asal Sampit. Saya yang mengerjakan pengaliran air dari sumber ke lokasi,’’ tambah pria dua anak ini.
Sedangkan untuk wilayah Kota Batu, sudah banyak lokasi yang menggunakan jasanya. Beberapa hotel yang menggunakan air dari sumber juga menggunakan jasa. Begitu juga banyak Hippam, terutama kawasan utara juga menggunakan sistem pengambilan air diciptakan.
Terbaru, dia mengalirkan air dari sumber yang mengalir di bawah aliran sungai ke Kampoeng Tani Kelurahan Temas. Jika ditarik garis lurus, posisi dasar sungai yang terdapat sumber dengan Kampoeng Tani adalah 10 meter dan jarak berkisar 1,5 kilometer.
Dengan ketinggian 10 meter, ini air bisa mengalir deras dengan debit 4 liter/detik. Air tersebut mengalir non stop sehingga bisa untuk aneka kebutuhan di Kampoeng Tani.
Kampoeng Tani terdapat KWB Inn dengan delapan kamar, dapur, pujasera serta beberapa objek lain. Dalam waktu dekat air tersebut bakal digunakan mengisi kolam karena Kampoeng Tani bakal dilengkapi kolam renang. ‘’Kami tidak menggunakan listrik sama sekali karena tidak ada pompa air untuk mengangkat air dari lokasi di bawah sana. Kami hanya mengandalkan sifat-sifat air dan grafitasi,’’ tegas pria yang sering tinggal di kampung Meduran, Kelurahan Sisir Kota Batu ini.
Menurutnya, teknik mengalirkan air dari sumber di bawah sungai cukup gampang jika tahu tekniknya. Dia tidak perlu membuat tandon dalam sungai untuk memisahkan air sumber dan air sungai. Sumber langsung dipenuhi pasir dan ditaruh batu kali di atasnya. Setelah itu bagian atas batu ditumpuki katel (pasir bercampur tanah liat).
‘’Semua itu berfungsi memisahkan air sungai dengan air sumber. Masih pada bagian sumber itu, kami memberikan arang dan tempurung kelapa. Baru dibawahnya terdapat pipa yang akhirnya dialirkan ke tempat tujuan,’’ katanya.
Selain Temas, kini dia sedang memprogram air dari sumber di sebuah lembah ke Lippo Plaza Batu. ‘’Kalau di Batu masih relatif gampang. Tapi kalau daerah lain ada yang mengambil air di bawah Gunung. Orang lain bisa mengalirkan air dengan pipa melingkari gunung. Tapi saya bisa lurus dengan sistem injeksi ini,’’ pungkas dia.
Dia memiliki pengetahuan tentang sifat-sifat air dari bangku kuliah jurusan Geologi ITN Malang. Selain itu, dia pernah ikut seorang warga Belanda yang melakukan penelitian panas bumi di Kota Batu dan sekitarnya, tahun 1980 lalu.  (febri setyawan)