Bondo Nekat, Pernah Tampil di Hadapan Soeharto

Konsisten : Endro Yudha. S konsisten melestarikan budaya dan mengajarkan seni reog kepada siswa.

Endro Yudha, 23 Tahun Lestarikan Reog Ponorogo
Di Kota Malang, tak banyak orang yang seperti Endro Yudha,  seorang guru olahraga sekaligus pembina pramuka di SDN Sawojajar VI yang sejak 1990 hingga saat ini konsisten melestarikan budaya seni reog. Selama 23 tahun itu pula dia tak kenal lelah mengajarkan seni asal Ponorogo itu kepada siswanya.
Awalnya, Yudha bukanlah sosok pencinta seni. Dia terpaksa mendalami seni khususnya reog hanya demi memenuhi permintaan siswanya. Waktu itu, dalam sebuah kegiatan jambore pramuka di Kedungkandang, anak didiknya diminta untuk mengisi acara pentas seni. “Pada saat itu, anak-anak ingin menampilkan tari reog, tanpa berpikir panjang saya menyetujui. Karena mereka sudah bersemangat, jangan sampai kecewa,” kata Yudha.
Dengan kemampuan dan fasilitas seadanya, Yudha mulai melatih siswa hingga mereka berani untuk tampil. “Kali pertama tampil, saya membuat topeng kepala singa dari triplek, rambutnya tali raffia. Benar-benar bondo nekat waktu itu,” terang pria ramah ini mengenang pengalaman perdananya itu.
Namun, kesederhanaan tersebut membuat para penonton terhibur karena terlihat lucu.
Mereka tampak senang sehingga siswa yang tampil semakin bersemangat hingga akhirnya mendorong mereka untuk terus berlatih seni reog di sekolah.
Yudha mengungkapkan, siswa yang tampil kala itu merupakan anak yang terkenal dengan kenakalannya. Namun seiring berjalannya waktu, saat disibukkan dengan latihan, semangat mereka untuk belajar terus meningkat dan perlahan mengurangi kenakalan.
Penampilan perdana tersebut ternyata diperhatikan oleh warga sekitar. Banyak masyarakat yang suka sehingga mereka sering mengundang anak-anak tampil saat ada kegiatan warga di Kedung Kandang.
“Saat itu, selepas tampil anak-anak dibayar dengan ice cream,” ujar Yudha. Meski begitu, mereka sudah merasa senang. Seiring dengan berjalannya waktu, Yudha pun rela memperdalam dan mengembangkan ilmu seni reog sesungguhnya dengan berguru langsung ke mbah Misdi ‘Doweh’ Ponorogo.
Dari situlah awal mula seni reog yang ada di sekolahnnya mulai berkembang. Yudha mulai mengumpulkan dana untuk membuat reog asli dari dadak merak dan membeli kepala singa dengan kulit asli harimau.
Setelah berhasil membuat reog sesungguhnya, tawaran main pun banyak yang datang . “Kami sering diundang oleh kantor dinas,”ujarnya sembari menambahkan,  sejak saat itu pula kelompok mereka mulai dikenal oleh masyarakat luas dengan nama kelompok reog Garuda Sakti.
Garuda Sakti pernah tampil dalam pembukaan pekan olah raga (Popda Jatim) 2007, pernah pula menyambut kedatangan Presiden Soeharto ketika hadir di Malang dalam apel akbar Karang Taruna serta acara-acara resmi lainnya.
Saat tampil, mereka biasanya menampilkan tarian bujang ganongan, jatilan, klonong, warok dan lainnya. Namun untuk tarian barongan, siswa masih dibantu orang dewasa. Dalam sebuah penampilan tari, mereka juga membawakan cerita yang berjudul warok suro menggolo atau suminten edan.
Tarian tersebut menceritakan tentang Klono, seorang raja yang ingin melamar Ratu Songgo Langit, yang pada akhirnya keinginan Klono untuk melamar dibatalkan dan memilih mengembangkan seni reog di Ponorogo. “Anak-anak yang tergabung dalam kelompok seni reog kami, setiap hari Sabtu sepulang sekolah rutin melakukan latihan,” terang Yudha.
Pada tahap awal latihan, anggota Tari Reog Garuda Sakti dibagi menjadi dua kelompok yakni kelompok  penari dan karawitan. “Jika tari dan karawitan sudah bisa dipadukan, latihan dilakukan bersama-sama,” imbuhnya.  
Para pengrawit terdiri dari 8 anak yang memainkan kendang, ketuk (kendang kecil), gong, kenong, angklung dan slompret. Sedangkan penari terdiri dari 21 anak yang berperan sebagai penari jatilan 12 anak, penari bujang ganong 4 anak, penari warok 4 anak dan klonong 1 anak.
“Kami berharap anak-anak bisa berkesenian dengan baik sehingga dapat menghibur masyarakat,”pungkasnya. (AmirHamzah/han)