Suaib H Muhammad, Dosen UIN Maliki Pembuat Mushaf Ulil Albab

SETELAH lebih dari enam tahun, menelaah lembaran-lembaran Al Quran, Dosen UIN Maulana Malik Ibrahim (Maliki) berhasil menyelesaikan pembuatan mushaf Al Quran. Mushaf setebal 2.800 halaman dan dilengkapi dengan indeks 3.000 halaman itu, kini siap dipakai untuk siapa saja yang ingin memelajari Al Quran dengan mudah. Mushaf dilengkapi dengan akar kata, arti kata, statistic, tanda i’rab dan nomer indeks.

Adalah Dr H Suaib H Muhammad M.Ag, dosen Al Quran di UIN Maliki Malang. Sosoknya sabar dan ramah. Karena kesabarannya itu pula, Mushaf Ulil Albab, kini telah rampung ditulis.
Mushaf ini sangat istimewa. Tak hanya menerjemahkan Al Quran per huruf saja, tapi juga memiliki indeks yang berisi formasi tiap kata hingga jumlah kata tersebut dalam Al Quran. Pendeknya, indeks ini ibarat jendela dan menjadi lensa untuk masuk dan menyelami kitab suci umat Islam ini.
‘’Indeks atau lensa Al Quran, sudah saya patenkan. Rencananya Mushaf Ulil Albab ini juga akan dipatenkan juga,’’ ungkapnya.
Pria yang sudah 25 tahun mengajar Al Quran di UIN Maliki ini menuturkan, awalnya ia membuat karya besar tersebut karena melihat input mahasiswa UIN yang berubah.
Dulu saat bernama STAIN, inputnya mayoritas matang menerima materi keagamaan pada level tinggi. Sementara sekarang ini, input mahasiswa sudah sangat beragam. Ada yang berasal dari SMA dan SMK.
Sejak itulah, ia tertantang untuk menulis mushaf bagi pembelajar Al Quran agar lebih mudah. Mushaf ini, tak hanya sekadar sebuah terjemahan Al Quran saja. Tapi dengan sangat rinci mengartikan kata dan huruf dari setiap surat.
‘’Setiap kosakata dalam Al Quran harusnya dipahami menurut bahasa Arab, yang biasanya orang memahami teksnya tapi tidak konteksnya,’’ kata dia.
Ia mencontohkan, dalam Al Quran setiap kata bisa berbeda maknanya. Misalnya saja kata ihdina dalam surat pertama Al Quran, yang artinya petunjuk akan berbeda maknanya, dengan dalayang juga memiliki makna petunjuk. Mushaf ini memberikan arahan kepada pembacanya, untuk membedakan makna kontekstual apa yang ingin disampaikan dalam ayat Al Quran.
Selain itu dengan bekal mushaf ini, pembelajar Al Quran bisa dengan mudah menemukan surat apa yang mencantumkan ayat-ayat yang sedang dipelajari.
Suaib pun mencontohkan, banyak orang yang hafal ayat kursi. Tapi tidak banyak yang hafal ayat tersebut ada pada surat apa dalam Al Quran. Cukup dengan memilih satu kata dalam ayat itu dan kemudian mencari dalam indeks Al Quran, maka bisa diketahui jenis suratnya hingga ada berapa kali pemakaian kata tersebut dalam Al Quran.
Sebab setiap kata, memiliki akar kata yang bisa membentuk lebih dari 326 kata dan makna yang berbeda. Contohnya ihdi yang artinya petunjuk bisa menjadi hadyu yang artinya denda. Kata ini memiliki akar kata yang sama yaitu ha da ya.
Mushaf Al Quran yang memerjelas 114 surat Al Quran ini, menurut Suaib, sebenarnya bisa dibuat oleh siapa saja. Tapi selama ini belum ada orang yang mau melakukannya karena memang sangat rumit dan butuh kesabaran tinggi. Dalam sehari, minimal ia mengalokasikan waktu 8 jam untuk menyelesaikan mushaf dan indeksnya.
‘’Saya berkali-kali ditanya oleh istri saya, kapan selesainya pekerjaan saya ini. Saya hanya bisa menjawab, ibu tolong buatkan saya kopi saja ya,’’ ujarnya sambil tersenyum.
Karya ini pula yang mengantarkan pria kelahiran Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB) ini meraih gelar doktor di IAIN Sunan Ampel Surabaya 2010 lalu.
Karya istimewa itu, kini digandakan untuk pembelajaran bagi mahasiswa UIN Maliki. Ia berharap mahasiswa kini tak lagi kesulitan untuk memelajari Al Quran yang mengandung nilai-nilai kehidupan itu. (lailatul rosida)