Supeltas, Sukarelawan yang Sering Dipandang Sebelah Mata

Sukarelawan pengatur lalulintas atau Supeltas, sudah menjadi pekerjaan. Apalagi menjelang lebaran, ketika arus lalulintas naik tajam. Keberadaan mereka, benar-benar membantu. Dampaknya, pendapatan juga ikut naik. Meski harus bersaing dengan ‘polisi cepek’ yang bertebaran.

Istilah Supeltas, tidak asing lagi di telinga kita. Seperti namanya sukarelawan, mereka bekerja siang dan malam. Tanpa perduli hujan  maupun panas. Mereka tetap terlihat semangat mengatur dan mengurai kemacetan.
Terutama menjelang idul fitri ini, keberadaan mereka sangatlah dibutuhkan. Maklum, sudah menjadi tradisi, jelang lebaran, arus lalulintas meningkat tajam. Terutama di jalan-jalan protokol.
Sekalipun demikian, keberadaan mereka di jalan raya, bukan menghilangkan fungsi polisi. Terutama anggota Satlantas. Mereka tetap ada dan terus melakukan pengaturan di berbagai sudut jalan raya.
Namun siapa menduga, di Kota Malang sendiri, tercatat hanya 75 anggota resmi Supeltas binaan Satlantas Polres Malang Kota. Sekalipun di jalan, terlihat banyak orang ikut membantu mengatur lalulintas.
Terlebih banyak orang menyamaratakan dengan ‘polisi cepek’ alias orang-orang yang ‘membantu’ mengatur lalulintas, terutama di persimpangan, dengan berharap dapat uang dari pengguna jalan. Bahkan tidak jarang, ‘polisi cepek’ itu memaksa meminta uang jasa. Mereka pun tidak menggunakan seragam. Bahkan bajunya, ala kadar.
Sementara Supeltas, memiliki seragam dan atribut resmi. Mereka juga mendapat bekal ilmu tentang mengaturan lalulintas. Artinya, saat berdiri di persimpangan, mereka tidak sekadar menggerakkan tangan, atau membunyikan peluit,
Tapi ada tanda khusus, kapan harus memerintahkan kendaraan untuk melaju, berhenti, atau kendaraan dari sebelah mana yang harus melaju lebih dulu.
‘’Ada bekal khusus untuk para anggota Supeltas untuk melakukan pengaturan. Tujuannya jelas, agar mereka betul-betul paham bagaimana melakukan pengaturan lalulintas. Jangan sampai keberadaan mereka ini justru membuat kemacetan semakin parah,’’ kata KBO Lantas Iptu Edi Purwanto.
Beda lainnya, anggota Supeltas ini, bekerja tanpa sedikitpun meminta imbalan dari pengguna jalan. Seperti namanya, mereka bekerja dengan sukarela. Mereka juga tidak mendapat ‘gaji’ dari polisi. Kecuali sekadar atribut Supeltas.  
Meski bukan berarti, mereka tidak mendapatkan apa-apa. Tidak sedikit pengendara yang memberikan uang. Terutama saat Ramadan, pendapatan anggota Supeltas juga ikut meningkat. Di hari biasa, rata-rata mereka mendapatkan Rp 25.000- 35.000. Menjelang lebaran ini, uang sukarela itu bisa meningkat dua kali lipat.
Salah satu anggota Supeltas, Sugianto menceritakan, dirinya mulai bekerja sejak tahun 2005 lalu. Meskipun awalnya iseng, namun kemudian keisengan tersebut justru membuat dirinya jatuh cinta. Bahkan, Sugianto menganggap, pengaturan lalulintas, bukan sekadar tanggung jawab polisi. Dia juga ikut bertanggungjawab.
‘’Pengaturan lalulintas tidak sepenuhnya tanggung jawab dari pihak kepolisian. Tapi kita semua. Mulai dari pengendara yang harus tertib di jalan raya ataupun ada orang yang melakukan pengaturan,’’ katanya.
Sugianto juga mengaku, awalnya saat dia berdiri di persimpangan jalan, banyak orang mencibir dan menuduhnya sebagai orang yang tidak memiliki pekerjaan. Tapi Sugianto tidak tersinggung.
‘’Kami anggota Supeltas sepenuhnya ingin membantu melakukan pengaturan lalulintas. Tidak ada yang lain. Kalaupun ada yang memberikan uang, kami menerima dengan lapang dada. Tapi sama sekali kami tidak meminta atau memaksa pengendara memberi uang,’’ kata pria yang sering terlihat melakukan pengaturan lalulintas di simpang tiga Jalan Mojopahit- Jalan Basuki Rachmad ini. Profesi Supeltas ini sudah dilakoninya selama 8 tahun. Dan selama waktu ini, Sugianto sama sekali tidak merasa bosan.  
Senada dengan Romi, salah satu anggota Supeltas yang bertugas di simpang tiga Jalan Kalpataru. Menjadi anggota Supeltas, bagi dia bisa memberikan tantangan tersendiri. Terutama kesabarannya betul-betul teruji.
Menurutnya, saat melakukan pengaturan, tidak sedikit kendaraan yang nyelonong terus melaju sekalipun dirinya sudah mengisyaratkan untuk berhenti.
‘’Kalau siang disini padat sekali. Kalau dibiarkan macetnya cukup panjang. Itulah yang membuat saya kemudian turun untuk membantu melakukan pengaturan,’’ katanya.
Tapi begitu, Romi pun mengatakan meskipun dia melakukannya sukarela, tapi dia bersyukur karena banyak pengendara jalan yang memberikan imbalan.
‘’Alhamdulillah, setidaknya hasil dari pengaturan ini bisa untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,’’ katanya, yang mengaku menjelang idul fitri makin banyak orang yang memberi uang. Dan dia pun sangat bersyukur. (ira ravika)