Tak Mau Repotkan Panitia, Tampil Hingga di Vatikan

SOLMISASI  yang belum sempurna mendentum di telinga jamaah Ngaji Bareng Cak Nun dan Kiai Kanjeng (CNKK)  di depan Stasiun Kota Batu,  tadi malam. Bunyi ini berasal dari  gamelan yang biasanya pelog maupun slendro. Garapan Kiai Kanjeng yang berhasil menyuguhkan suara sedemikian halus di telinga masyarakat Malang Raya pada ngaji bareng HUT ke-15 Malang Post tersebut.

Nomor pertama yang tampil, biasanya disebut Kenduri Sholatulloh. Rangkaian alunan musik penggebrak suasana di awal acara untuk menarik minat jamaah bahwa acara sudah dimulai. Terdengar suara bertalu-talu (patalon) yang biasa didengar pada pagelaran wayang. Kenduri Sholatulloh kemudian diakhiri alunan sholawat dengan iringan musik ala China. Musik seperti ini akrab ditelinga, biasanya diikuti gerakan para murid Tai Chi sedang memperagakan silatnya.
Malam itu, hadir pula rampak osing, baca saja liriknya seperti ini.  ”Arep golek opo Arep golek opo Kok uber-uberan. Podho ngoyak opo podho ngoyak opo, kok jegal-jegalan. Kabeh dho mendem, kabeh dho mendem ra mari-mari. Podo ndluosor digowo mati.
Pendek kata, masyarakat Malang Raya benar-benar beruntung bisa  kembali mengikuti Ngaji Bareng Cak Nun, tadi malam.  Selain bertemu Emha Ainun Nadjib, keberuntungan lainnya adalah bisa mengapresiasi langsung musik Kiai Kanjeng. Kelompok ini telah tampil di berbagai negara, bahkan satu-satunya kelompok musik yang tampil nyaris berbarengan Paus Paulus wafat di Roma dan Vatikan.
Gamelan yang dibawa Kiai Kanjeng tampil bersama Cak Nun dalam HUT Malang Post untuk memuaskan ribuan Aremania ini,  dibawa langsung dari Yogyakarta. Berat totalnya mencapai sekitar 450 kilogram, diangkut dengan pickup Toyota Hilux nopol AB 9817 HH. Kendaraan berumur sekitar dua tahun, menggantikan Mitsubishi L300 yang telah uzur.“Dulu kemana-mana, kalau di daerah Jawa, ya pakai L300, karena uzur digantikan Hilux itu,“ aku Erfan Muhlis (50 tahun), salah satu cantrik Cak Nun.
Erfan telah ikut Cak Nun dan Kiai Kanjeng selepas reformasi bergolak di Indonesia. Dia dulunya berkecimpung dalam Teater Salahudin di Universitas Gajahmada Yogyakarta. Kemudian dia memilih nyantrik Cak Nun dan ikut Kiai Kanjeng kemanapun manggung. Erfan termasuk salah satu kru yang naik langsung Hilux dari Yogyakarta ke Malang.”Hilux itu yang naik tiga orang termasuk saya, ya gantian, kebetulan saya yang naik hari ini, (kemarin, red),” ujarnya.
Karena ikut Kiai Kanjeng, Erfan juga pernah ke luar negeri, seperti Mesir, Australia, Belanda, Roma, Vatikan. Sedangkan untuk wilayah Indonesia, dia juga ikut di hampir seluruh provinsi bahkan ke Papua. Urusannya, adalah maintenance termasuk persiapan ke taraf bunyi gamelan.
”Gamelan yang dibawa yang sekitar 450 kilogram, kalau ke luar negeri ya gamelan itu yang dibawa,” jelasnya.
Persoalan sound biasnya memang lebih ribet, karena tidak semua orang hapal gamelan. Makanya Kiai Kanjeng juga selalu minta didampingi kru, dan tidak pernah merepotkan panitia lokal. Lokal yang berfungsi biasanya pada saat checksound saja, selebihnya ditangani Kiai Kanjen sendiri.”Saya maintenance sama persiapan ke taraf bunyi, terutama alat non diatonis karena perlu tata suara,” jelasnya.
Nanti pemain Kiai Kanjeng sendiri yang akan menentukan karakter musik. Baik itu low bas dan lainnya. Alat 450 kilogram terdiri dari gamelan satu set, saron demung, bonang (dua set), perkusi satu set, bas gitar dan keyboard. ”Kalau ke luar negeri biasanya, bagasi kita sesuaikan jumlah orang, lebih enak karena batasannya lebih banyak, nah kalau konser di Indonesia, naik pesawat kena beban lebih di gamelan, karena per orang berat maksimal 20 kilogram,” urainya.
Sambutan di setiap daerah berbeda, menurut Erfan, amatlah beragam. Paling senang di Mesir, karena gamelan bisa mengiringi Arabic. Di Vatikan juga termasuk istimewa karena bertepatan Paus meninggal dunia. Saat itu konser musik dilarang di Italia dan Vatikan, termasuk pertandingan sepakbola. ”Tapi Kiai Kanjeng boleh main, kami sampaikan rasa bela sungkawa melalui musik, dan itu nyampai ke mereka,” jelasnya.
Setting peralatan, kru Kiai Kanjeng hanya butuh waktu dua jam. Checksound lebih ribet karena tergantung SDM lokal. Rentang waktu antara setengah jam sampai satu jam saja. Sebelum tampil pada HUT Malang Post, Kiai Kanjeng juga tak merepotkan panitia, terkesan mandiri.”Saya senang ikut Cak Nun dan Kiai Kanjeng, selain bermusik juga kena dimensi spriritual,” katanya.
Di Kiai Kanjeng, semua tidak pernah hitung-hitungan soal fee atau pendapatan. Mereka mengalir apa adanya, yang penting bisa memuaskan masyarakat. Anggota Kiai Kanjeng sendiri juga dari berbagai profesi. Beberapa juga guru, penjual helm dan masih banyak lagi.
Gamelan Kiai Kanjeng sendiri, yang dulu awal ”menciptakan” adalah Novi Budianto, sering dipanggil Mas Nevi. Dia merupakan guru seni rupa di SMPN 6 Yogyakarta. Sampai saat ini, Kiai Kanjeng telah berkunjung ke lebih lebih dari 21 propinsi, 376 Kabupaten, 930 kecamatan, dan 1300 desa di seluruh wilayah Nusantara. Kiai Kanjeng juga kerapkali ke mancanegara, diantaranya adalah tour enamm kota di Mesir (2003), Malaysia (2003, 2005, 2006), Inggris (6 kota, 2004), Skotlandia (serangkai dengan Jerman dan Italia, 2005), Finlandia (2006), Hong Kong (2007), Belanda (2009) dan Abudabi (2009) dan Vatikan.
Kiai Kanjeng selalu tampil bersama Cak Nun, terutama grassroot dan menengah bawah. Mereka berkegiatan multi-konteks meliputi budaya, keagamaan, spiritual, social problem solving, pendidikan politik dan sebagainya. Disebutkan bahwa Emha Ainun Nadjib dan Kiai Kanjeng berangkat berdasarkan permintaan langsung serta program rutin jamaah maiyah.
Dalam situs mereka (Kiai Kanjeng), disebutkan bahwa eksplorasi musik Kiai Kanjeng hampir tidak membatasi dirinya pada jenis atau aliran musik. Karena secara musikal alat Kiai Kanjeng memiliki berbagai kemungkinan, maka pengembaraan cipta mereka sangat ragam. Yakni dari eksplorasi musik tradisional Jawa, Sunda, Melayu dan Cina, termasuk penggalian dari berbagai etnik lain seperti Madura, Mandar, Bugis dan lainnya.  Kiai Kanjeng bahkan memainkan musik barat modern, pop, blues dan jazz.(Bagus Ary Wicaksono)