Mereka yang Bekerja Disaat Semua Orang Berlebaran (Habis1)

MEREKA bukan aparat pemerintah. Juga bukan petugas kereta api. Tapi mereka rela menjadi penjaga perlintasan kereta api tak berpalang tanpa mendapat gaji. Saat Lebaran sekalipun, tetap menjaga perlintasan kereta api agar aman dan nyaman bagi pengendara yang melintas. Itulah kerelaan warga Plaosan Barat, Blimbing disaat kebanyakan orang libur  Lebaran.
 
Pria tua itu berdiri menantang ditepi rel, di bawah teriknya matahari yang membakar kulit. Usianya 76 tahun. Namun masih enerjik.  Deru mesin kereta api dari kejauhan seolah memanggilnya. Ia lalu bergerak cepat bergegas menurunkan palang pintu manual terbuat dari besi.
Itulah Suparto. Saban siang, kakek sembilan cucu ini melakukan aktifitas menjadi penjaga perlintasan kereta api di Plaosan Barat. Perlintasan kereta api tersebut merupakan salah satu perlintasan tak berpalang otomatis.
Tak hanya menurunkan palang pintu, Suparto juga menghalau pengendara yang melewati perlintasan. Kerap, ia berperang batin melawan diri sendiri agar tak mudah emosi dan sabar menghalau pengendara yang bersikukuh  ingin melintas disaat kereta sudah mendekat perlintasan.
’’Sering pengendara ngotot ingin lewat padahal kereta sudah dekat. Ya harus berusaha sabar, memberi pengertian,’’ katanya. Suparto sadar, kalau dia membiakan pengendara melintas, sama halnya memberi kesempatan terjadinya kecelakaan maut.
Bekerja dengan penuh risiko dan demi keselamatan pengendara, Suparto tak menuntut upah. Pensiunan pegawai Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Malang ini ingin berkarya dan memberi manfaat bagi sesama diusia senjanya.
Selain itu, menjadi petugas perlintasan sekaligus mengusir kejenuhan disaat tak ada aktifitas. ‘’Daripada nganggur,  jenuh di rumah ya lebih baik saya disini. Membantu jaga perlintasan,’’ terangnya.
Apalagi, lanjut Suparto, pada beberapa tahun lalu kerap terjadi kecelakaan di perlintasan kereta api tersebut.  Belajar dari berbagai kejadian itu warga kemudian sepakat memasang palang manual lengkap dengan petugasnya yang bekerja secara sukarela. Pemasangan perlintasan itu berkoordinasi dengan petugas PT KAI.
‘’Jadi ini inisiatif warga karena pernah terjadi kecelakaan kereta disini. Kereta menabrak pengendara yang melewati perlintasan tanpa palang pintu,’’ terangnya.   
Suparto tak sendirian. Ia bersama empat warga lainnya menjaga perlintasan secara bergantian. Yakni mulai pagi sampai malam hari. Suparto memang  belum lama menjadi penjaga perlintasan tersebut.
Tapi beberapa pemuda Plaosan, pernah menjadi penjaga perlintasan dalam waktu yang cukup lama. Salah satunya yakni Anis dan Wawan. Dua pemuda ini pernah menjaga perlintasan itu sekitar lima tahun lamannya.
Dua pemuda ini telah melewati suka duka menjadi ‘juru aman’ bagi pengendara di perlintasan kereta api di  Plaosan Barat. Mereka juga tak mempersoalkan tentang upah yang didapat.
Pekerjaan menjadi penjaga perlintasan butuh kesabaran ekstra. Apalagi menurut Anis dan Wawan, pengendara sering ngotot ingin melewati perlintasan disaat palang sudah diturunkan. Situasi ini tentu sangat membahayakan bagi pengendara.
‘’Pengendara sering ngotot ingin lewat. Tapi kita beri pengertian bahwa ini demi keselamatan pengendara itu sendiri,’’ katanya.
Hampir selama lima tahun yang lalu pula, Anis dan Wawan sempat rela tak pergi kemana-mana saat Lebaran. Usai Salat  Id, langsung bergegas ke perlintasan demi keselamatan sesama mereka.
Memang tak banyak pengendara yang peduli mulianya bertugas sebagai penjaga perlintasan ‘swasta’. Namun beberapa pengendara mengakui bahwa para penjaga perlintasan itu adalah pekerja mulia.
’’Mereka sangat berarti, sangat baik dan mulia. Rela bekerja untuk keselamatan pengendara,’’ kagum Suparno, pengendara yang melintas. Pengendara lainnya juga kagum dan berharap para penjaga perlintasan mendapat perhatian. ‘’Mereka rela merayakan Lebaran sambil bekerja jaga perlintasan,’’ kata pengendara lainnya. (vandri battu)