Menjual Apparel Arema yang Makin Jadi Sandaran Hidup

Sebagai klub papan atas, apapun pernik berbau Arema, selalu menjadi magnet bagi pecintanya. Dimanapun Aremania berada, logo klub berlogo kepala singa nyaris tak pernah luput menjadi simbol kebanggaan. Mengiringi kiprah 26 tahun Singo Edan, eksistensi bisnis apparel Arema terjawab dengan ranah ‘ekspansi’ hingga ke luar negeri.

PELUH mengucur deras dari dahi seorang bocah yang siang itu bergumul dengan terik surya yang menyengat. Tanpa peduli baju birunya yang mulai basah dibanjiri keringat, dengan lantang sang bocah mengibarkan syal warna senada dengan pekik yang tak asing dikumandangkan di penjuru Stadion Kanjuruhan.
‘’Dimanapun berada, kami selalu ada..karena kami Aremania,’’ serunya dari atas bak pick up yang mengangkut tubuh mungilnya bersama serombongan remaja yang asik menabuh drum.
Bocah itu tak sendiri. Hari Minggu itu, ribuan orang lainnya juga bertingkah tak jauh beda. Tepat pada perayaan 26 tahun Arema, 11 Agustus kemarin, jalanan Malang Raya menjadi lautan manusia yang meneriakkan yel-yel klub pujaannya.
Biru, putih, merah hingga hitam pakaian mereka membaur menjadi kesatuan yang padu. Satu hal yang seragam dalam harmoni itu adalah aksara bertuliskan ‘Arema’ dengan beraneka wujud singa nan elok digdaya.
Kreativitas yang tertuang dalam balutan pakaian, syal, spanduk hingga boneka itulah yang membuat jiwa Singo Edan tak pernah mati. Selagi pekik Arema masih diteriakkan lantang, selama itu pula lah suporter dan seluruh pecinta klub jawara Galatama 1992-1993 ini akan terus bangga mengenakan atribut Arema.
Alasan itu pula lah yang membuat bisnis apparel Arema tak pernah mati. Mulai dari garmen rumahan hingga pusat grosir dan distro Arema masih tetap diburu konsumen. Kreasi dan inovasi yang ditawarkan selalu berhasil memikat hati Aremania-Aremanita dan fans setia klub berlogo kepala singa.
‘’Setiap tahunnya pasti ada yang baru. Untuk setiap desain, kami hanya memproduksi 25 pieces,’’ tutur Adi Rianto, pengelola gerai City of Arema di kawasan Trunojoyo.
Eksklusifitas itulah yang menjadi faktor penarik mengapa pecinta Arema tak pernah bosan mengoleksi jersey dan segala atribut berbau Singo Edan. Mulai jersey seharga Rp 70 ribu hingga berbanderol ratusan ribu pun tetap laris manis.
‘’Kami selalu memikirkan konsep yang fresh dan up to date. Bahkan kami sesuaikan trend dan masukan dari para konsumen,’’ bebernya ramah.
Jika City of Arema diuntungkan lokasi gerai yang cukup strategis dan telah punya nama hingga di telinga pendatang luar kota, kisah sukses lain justru berasal dari bisnis apparel rumahan.
Siapa sangka, berawal dari ketelatenan membawa kaos dagangan ke stadion, Slamet Syamsul Karim kini telah mengekspor jersey Arema hingga ke tanah suci.
Pria asal Tongan yang akrab disapa Abah Slamet ini lantas menceritakan ihwal suksesnya menggeluti bisnis yang dirintisnya sejak tahun 2002 tersebut.
‘’Awalnya hanya bawa kaos ke stadion tiap kali Arema main. Itupun dagangan teman. Lama-lama semakin banyak yang pesan. Akhirnya bisa bikin kaos sendiri dan makin berkembang,’’ urainya kepada Malang Post.
Meski tak pernah mempromosikan bisnisnya di media, usaha berbendera Three R Collection yang dijalankannya terbukti masih bisa eksis sampai sekarang.
‘’Kuncinya adalah menjaga kualitas produksi. Mulai bahan sampai desain benar-benar digarap maksimal. Jadi, konsumen puas dan tak kapok order lagi,’’ tutur bapak tiga anak yang juga dikenal sebagai Korwil Aremania Tongan ini.
Cukup lama menjadi pemasok kostum Arema ke toko-toko di Pasar Besar, kini konsumen Three R Collection sudah sampai mancanegara. Mulai dari Malaysia, Korea sampai Arab Saudi.
‘’Kalau di Mekkah sudah langganan. Karena di sana ada komunitas Aremania Mekkah yang setiap tahun selalu order kostum baru,’’ lanjut Abah Slamet yang mengaku untuk pemesanan lokal Indonesia jangkauannya bisnisnya sudah sampai Papua.
Memang, menggeluti bisnis apparel Arema tidak selalu untung. Ada kalanya pasang surut juga mengiringi usaha yang menuntut kreatifitas tinggi ini. Terutama saat kondisi tim tengah terpuruk. Daya beli penggemar Arema pun ikut anjlok. ‘’Kalau saat tim kalah terus, penjualan juga sepi,’’ papar Bakri, pengelola Arema Sport di Jalan Pasar Besar.
Prestasi tim memang sangat menentukan animo konsumen. Saat Arema sukses merengkuh gelar kampiun Indonesia Super League (ISL) tahun 2010 lalu, segala atribut Singo Edan laris bak kacang goreng.
Tren serupa kini mulai terulang seiring perjalanan klub berlogo kepala singa menjadi runner up klasemen sementara ISL 2012-2013. ‘’Sekarang mulai ramai lagi. Apalagi desain kostum juga semakin beragam, jadi menarik,’’ tukasnya.
Apalagi, momennya juga sangat tepat. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, perayaan ulang tahun Arema tahun ini bersamaan dengan Idul Fitri 1434 H.
‘’Momennya memang benar-benar pas. Ulang tahun Arema saat lebaran. Penjualan terkatrol sampai 50 persen dibanding hari normal,’’ beber pengelola toko apparel yang eksis sejak 15 tahun lalu tersebut. (tommy yuda pamungkas)