Penerima Bintang Gerilya, Tersenyum Lihat Karikatur Dirinya

Kabar duka itu tiba kemarin pagi, Komisaris Utama Malang Post (Jawa Pos Group), Indra Slamet Santoso (93 tahun) berpulang. Semangat serta senyum khasnya, masih membekas di benak karyawan. Meski jarang tampak di Jalan Sriwijaya 1 – 9, kantor Korane Arek Malang ini. Kue dan panganan dari beliau, kerap singgah mewakili perhatiannya.

Pak Indra, demikian biasa disapa, selalu hadir dengan senyuman. Genggaman tangannya begitu erat, menatap mesra sembari memberikan semangat. Kehadiran terakhir di muka umum, pada HUT ke 25 Malang Post, tahun lalu. Saat itu, beliau duduk di kursi, sedangkan jajaran direksi lesehan.
Seperti sebelumnya, Pak Indra selalu berapi-api untuk memompa semangat kerja awak Malang Post. Sekalipun suaranya sudah tidak bisa keras lagi, namun dari intonasinya, terasa benar, penularan optimisme itu.
Setelah itu, beberapa kali Pak Indra, masih sempat berkunjung ke Malang Post. Sekadar ingin dolan, atau menanyakan perkembangan koran yang 1 Agustus kemarin, berumur 15 tahun.
Tapi sejak lima bulan sebelum meninggal, Komisaris Utama Malang Post ini terpeleset. Tulangnya retak, namun karena faktor usia dan penyakit diabetes, dokter menyarankan tidak dioperasi.
Belakangan, fisiknya semakin menurun, hingga meninggal dunia pukul 06.30 di rumah duka Jalan Taman Dieng 5 Kota Malang. ‘’Dipanggilkan dokter, pukul 06.00 diketahui sudah koma,’’ ujar Mely Sri Wigati, putri almarhum.
Rutinitas beliau minum teh dan membaca koran, tak bisa dilakukan pagi itu. Padahal hingga akhir hayatnya, Pak Indra memang hobi membaca. Sarapannya membaca koran, lima lemari berisi buku juga menjadi penanda hobinya itu.
‘’Beliau ini sangat sabar, tidak pernah marah sama anak-anaknya, sekali menasehati, kami semua pasti nurut,’’ imbuh perempuan yang bekerja di Taman Safari Prigen ini.
Minggu lalu, Pak Indra masih menjalani sakramen terakhir di Paroki Santo Andreas. Juga menjalani pengurapan untuk penyembuhan penyakitnya. Almarhum juga baru saja dibaptis dengan mengambil nama Bernardius, Santo yang amat saleh. ‘’Keluarga yang memilihkan nama baptis Bernardius itu,’’ katanya.
Pria ini, begitu cinta dengan Malang Post. Sehari sebelum meninggal dunia, dia juga tak absen membaca Korane Arek Malang. Bahkan masih sempat tertawa, saat melihat karikatur dirinya. Karikatur itu menjadi ciri khas Malang Post edisi lebaran.
Indra Slamet dilahirkan di Kota Semarang pada 22 Mei 1920 silam. Terlahir dengan nama Tionghoa, Oei Ing Tien, kemudian hijrah ke Jawa Timur.
Umur 25 tahun sempat ikut dalam peristiwa 10 November. Tugasnya kala itu melukis kalimat propaganda untuk Republik Indonesia di tembok-tembok, kereta dan banyak tempat. Atas kiprah perjuangannya, Indra Slamet Santoso menerima Bintang Gerilya.
Lantas karirnya dalam dunia media cetak, dimulai tahun 1954. Saat itu beliau menjadi wartawan Jawa Pos yang masih dimiliki The Chung Shen. Disaat bersamaan, dia juga mengemban tugas sebagai PNS Departemen Penerangan.
Saat Kota Malang dipimpin Walikota Ebes Sugiyono, tahun 1966 ayahanda Drs Hariadi ini diangkat sebagai Kepala Departemen Penerangan Kota Malang. Indra pensiun sekitar tahun 1977 dan kembali aktif di dunia media cetak.
Bermula ketika Jawa Pos diambil alih Eric Samola dan dipimpin Dahlan Iskan sekitar tahun 1982. Indra Slamet Santoso kemudian dipercaya menjadi General Manager Jawa Pos. Juga ikut mengawal lahirnya Riau Pos, Kaltim Pos serta majalah Liberty.
‘’Posisi manager iklan pertama kali di Jawa Pos, saat itu diduduki oleh Pak Indra Slamet Santoso,’’ ujar Direktur Malang Post Juniarno D. Purwanto di rumah duka.
Hariyadi, putra pertama almarhum, mengenang sosok ayahnya sebagai pria yang sangat sabar. Nasihat yang paling diingat oleh pemilik RM Ringin Asri ini adalah soal kejujuran. Selain itu, dia meminta agar anaknya bisa tumbuh laksana pohon beringin, menjadi penganyom manusia lainnya.
‘’Beliau memang orang koran, kalau ke Surabaya tak mau diantar, lima tahun lalu bahkan masih naik bus sendiri,’’ kata Hariyadi.
Pemakaman di TPU Sukun, menurut Hariyadi sesuai permintaan almarhum. Tanah makamnya bahkan dipilih dan dibeli langsung sekitar 10 tahun lalu. Tanah itu menghadap ke arah matahari terbit.
‘’Dikebumikan tanggal 18 Agustus juga sudah ada hitungannya sesuai tradisi Tionghoa,’’ imbuhnya.
Jong Lisa Lestari (57) istri almarhum, mengatakan, suaminya meninggalkan empat anak yakni Hariadi, Mely Sri Wigati, Sri Rahayu dan Hariman Suwito Wibowo.
Meninggalkan enam cucu Kusno Mudiarto (anak Hariadi), Ely Widiastuti (anak Hariadi), Kayla Natalia (anak Mely Sri Wigati), Angela (anak Sri Rahayu), Kiara (anak Mely) dan Kenzo (Sri Rahayu). Serta empat cicik, yakni Indira, Theo, Philip dan Gita.
‘’Satu cucu dan dua cicit tinggal dan hidup di Amerika, yakni Kusno Mudiarto dan dua anaknya Philip dan Gita, Kusno adalah anak pertama Hariadi,’’ urai Lisa.
Kata Lisa, Malang Post bagi suaminya adalah segala-galanya. Di sela pikun yang menghinggapi, kadangkala suaminya mengingat kantor. Jika demikian, pasti dia meminta dirinya mengirimkan kue ke kantor.
‘’Karyawan Malang Post sudah dianggap anak sendiri, selalu ngingetin agar tiap bulan belikan kue dan antar ke Malang Post,” terangnya.
Sama seperti Mely, Lisa menegaskan bahwa suaminya sosok yang sangat sabar. Seperti nama Tionghoanya, yakni Oei Ing Tien yang berarti bijaksana. Selain sabar, Indr ajuga tidak rewel, baik dalam soal makanan maupun lainnya.
‘’Kesan saya mengenai bapak, sangat kehilangan, sosok sabar, tidak pernah marah malah sering saya cereweti, makan juga apa adanya, beliau senang ikan asin,’’ ujarnya.
Sore kemarin, keluarga langsung melakukan upacara tutup peti.
Jenazahnya, disemayamkan di gedung VIP Yayasan Gotong Royong Jalan Taman Tenaga Kota Malang. Almarhum akan dimakamkan di TPU Sukun pada Minggu 18 Agustus 2013 pada pukul 08.30. Selamat jalan Pak Indra, semangatmu akan kami lanjutkan demi Malang Post Korane Arek Malang. (Bagus Ary Wicaksono)