Memperingati 52 Tahun Hari Pramuka ala Kota Wisata Batu

14 Agustus, identik sebagai Hari Pramuka. Banyak cara digelar anggota Pramuka dalam memperingatinya. Tak terkecuali, hal ini juga ditunjukkan para anggota Pramuka Kota Batu. Kemarin, mereka menggelar upacara peringatan dan baksos kepada masyarakat. Hanya saja, kegiatan itu dikemas sedikit berbeda.

Siang kemarin, tepat pukul 14.00 WIB, arus kendaraan yang melintas di jembatan Bendo, Kelurahan Sisir, begitu padat. Di balik keramaian itu, tampak satu per satu pengendara motor datang dan kemudian memarkir motornya tak jauh dari badan jembatan. Mereka datang secara kompak dengan mengenakan seragam warna coklat, bagian atas lebih muda, dan bawahan lebih gelap.
Wajah mereka terlihat penuh semangat. Diantara mereka, ada yang berjalan kaki sembari mengangkat kardus dan tas kantong plastik, usai turun dari mobil yang diparkir di ujung jembatan.
Kemudian, mereka bersama-sama menyusuri turunan jalan setapak, persis di pinggir aliran Sungai Brantas. Rombongan yang terdiri anak-anak yang masih duduk di bangku SD, remaja dan bapak-ibu ini yakni para anggota Pramuka Kota Batu.
‘’Kami datang kesini untuk persiapan menggelar upacara peringatan Hari Pramuka di pinggir Sungai Brantas. Kemudian dilanjut pemberian bantuan bahan sembako kepada masyarakat di sekitar tempat ini,’’ ujar Theo Esau, yang kala itu tampak asik memantau rombongannya.
Pria berkacamata ini merupakan salah satu pembina senior Pramuka Kota Batu. Dia kemudian bercerita, kegiatan ini diikuti oleh anggota Pramuka yang tidak terikat saka dan pramuka apapun.
35 peserta upacara ini terdiri dari Penegak, Pandega dan Pembina se kota Batu. Selain memperingati Hari Pramuka, dia bersama peserta lainnya sengaja mengusung tema Pramuka Peduli, dengan cara berbagi kasih dengan masyarakat kurang mampu, yang kesehariannya bekerja sebagai penambang pasir dan batu.
‘’Bisa dikatakan, para penambang ini jarang disentuh. Kami membawa 25 paket sembako. Isinya beras, mie instan, minyak goreng dan kopi. Paket bingkisan kami kumpulkan hasil dari swadaya para anggota Pramuka Kota Batu,’’ terang Theo.
Kehadiran anggota Pramuka Kota Batu ini pun menjadi berkah tersendiri bagi para penambang batu dan pasir. Mereka yang didominasi ibu-ibu sudah lanjut usia ini pun, berbaur bersama para anggota pramuka, serta ikut menyimak pelaksanaan upacara peringatan yang digelar di pinggir sungai. Saat upacara berlangsung, mereka memilih duduk berkumpul di bawah tenda seadanya yang didirikannya untuk peneduh saat selama ini bekerja.
‘’Ya senang, mendapat bantuan sembako dari adik-adik Pramuka, untuk menambah kebutuhan sehari-hari. Kami disini kerja semampunya, hitungan hasil tambang pasir dan batu itu seminggu hanya satu pickup yang dihargai Rp 110 ribu,’’ aku Lasminten, salah satu penambang wanita yang harus bekerja cari pasir dan batu di sungai menggantikan suaminya yang sedang sakit.
Setelah kegiatan upacara bendera dan baksos, pramuka Kota Batu ini melanjutkan kegiatan tabur bunga ke makam Min Suwarso, di TMP Untung Suropati, Kota Batu. Min Suwarso adalah tokoh pramuka Kota Batu yang namanya diabadikan menjadi nama sanggar Kwaran Batu. Serta dilanjut doa bersama di Monumen Pramuka Coban Talun, sebagai mengenang meninggalnya empat anggota Pramuka yang tewas tertimpa pohon saat menjalani Jambore Cabang Kota Batu, November 2004 lalu.
‘’Peserta antusias sekali, kami tidak menyebarkan undangan tertulis atas kegiatan ini. Hanya ngobrol, ngumpul dan kemudian acc. Kalau jumlah anggota Pramuka di Kota Batu, jumlahnya ribuan, sebab tiap sekolah semua wajib sebagai anggota Pramuka, setiap sekolah terdapat dua pembina, laki-laki dan perempuan. Dari kegiatan ini, apa yang dilatih bisa menjadi bekal ke depan sebagai pembentukan karakter, tingkah laku, sesuai Tri Satya dan Dasa Dharma Pramuka, untuk mengasah dan menanam pada diri peserta sebagai bekal ke depan,’’ terang Erdward Tariono, Senior Pembina Pramuka yang bertindak sebagai Pembina Upacara Peringatan Hari Pramuka, sore kemarin. (poy heri pristianto)