Monumen Peniwen Affair, Saksi Bisu Mempertahankan Kemerdekaan RI (1)

MONUMEN Peniwen Affair tidak banyak mendapat perhatian dari masyarakat Malang Raya ketika setiapkali momen Peringatan HUT Kemerdekaan 17 Agustus tiba. Padahal, monumen yang terletak di dusun Peniwen, Kecamatan Kromengan itu, menjadi saksi bisu kekejian penjajah era awal kemerdekaan, sekaligus ikut menentukan penghentian Agresi Militer Belanda II di Indonesia.

Gelapnya malam mengepung monumen Peniwen Affair, Jumat malam (16/8) lalu. Hening. Hanya nyanyian sendu binatang malam, yang menemani monumen terletak di ujung desa Peniwen Kecamatan Kromengan ini. Beberapa makam bernisan putih berjajar rapi di bawah monumen, seperti menyambut kedatangan tamu.
Ya, puluhan warga sudah berkumpul di Peniwen Affair saat malam 17-Agustusan. Beberapa di antaranya siswa-siswi SD berpakaian pramuka. Sebagian lagi, adalah para pejabat desa setempat, warga desa serta para veteran. Namun, meski berkumpul di area monumen, mereka tak banyak bicara.
Diam. puluhan warga seperti terhisap kegagahan monumen yang menjadi pengingat serangan Agresi Militer Belanda II di Desa Peniwen, tahun 1949. Tidak ada ‘’ketawa-ketiwi’’ ala anak SD. Tidak ada sedikit pun suara bincang-bincang renyah Aura misterius yang mengelilingi area monumen seperti meredam keberanian warga untuk menggetarkan pita suaranya.
Sakral. Udara spiritual, seperti mengelilingi seluruh area monumen perjuangan Palang Merah Remaja (PMR) saat malam Agustusan lalu. Seluruh warga terdiam. Mereka seperti paham, area monumen menjadi tugu peringatan pembantaian keji anggota PMR oleh KNIL (tentara Hindia-Belanda), pada masa Agresi Militer II.
Kedatangan para warga desa Peniwen di monumen sudah menjadi ritual tahunan. Warga menjadikan tanggal 16 Agustus sebagai momen tirakat demi mengingat perjuangan warga ketika Belanda menyerang Peniwen. Tiap tahun, semua warga berkumpul di monumen untuk mengheningkan cipta.
Mereka seperti tak mau dan tak ingin melupakan, bagaimana penjajah memporakporandakan Desa Peniwen, membunuhi para pemuda serta memperkosa para wanitanya. Makam yang berjajar-jajar di bawah monumen Peniwen Affair menjadi tugu peringatan bagi warga.
Kuburan-kuburan tersebut adalah persemayaman anggota PMR yang dianiaya serta dieksekusi KNIL Belanda pada 19 Februari 1949. Antara lain, Matsait, Slamet Ponidjo Inswihardjo, Soejono Inswihardjo, Soegianto, J.W Paindong hingga Soedono. Susya Widyana Inswihardjo adalah adik dari dua anggota PMR yang dibantai oleh Belanda, yakni Slamet Ponidjo Inswihardjo dan Soejono Inswihardjo.
Yon, sapaan akrabnya pun langsung menceritakan bagaimana kekejaman Belanda terhadap anggota PMR, termasuk dua kakaknya. “Saat itu tanggal 19 Februari 1949 pukul dua siang. Dua kakak saya adalah anggota PMR yang bekerja di Rumah Pengobatan Panti Usada (sekarang SD Peniwen,red). Mereka membantu para gerilya yang terluka serta warga yang sakit,” ungkap Yon kepada Malang Post.
Ketika sedang merawat pasien warga serta gerilyawan, Belanda yang aktif menggelar Agresi Militer II, grosokan di Desa Peniwen. Rupanya, KNIL yang sejatinya adalah masyarakat pribumi yang berkhianat dan membela Belanda, datang untuk memburu anggota gerilya, sekaligus menebar teror di Desa Peniwen.
“Dari cerita almarhum bapak (Inswiharjo,red), para saksi hidup serta bukti-bukti otentik tentang pembantaian, tentara KNIL bernama Yohanes Patty mengobrak-abrik klinik PMR dan memaksa semua penghuninya keluar, termasuk kakak-kakak saya,” ungkap anak kesepuluh dari 12 bersaudara ini.
Sang tentara KNIL tersebut menggiring para anggota PMR serta warga yang sakit ke halaman klinik. Lalu, seluruh tangan mereka diikat dengan kabel dan dirangkai menjadi satu. Namun, karena kurang panjang, kabel tidak bisa mengikat beberapa anggota PMR dan warga.
“Ya dua diantaranya adalah kakak-kakak saya, mereka disuruh berlutut  dengan posisi kepala di tanah sambil meletakkan tangan di kepala,” ungkap Yon. Saat itu, tentara KNIL mengobrak-abrik balai pengobatan milik PMR, merampas obat-obatan serta menghancurkan papan plang PMR.
Setelah puas merusak balai pengobatan, para KNIL memisahkan tawanan. Tahanan perempuan yang tak terikat kabel, dibawa menjauh dari tawanan pria. Tahanan wanita tidak diekseskusi, namun diperkosa oleh para KNIL.Dua kakak Yon, yang termasuk dalam tahanan pria yang tak diikat, diperintah oleh KNIL untuk berlutut.
Slamet Ponidjo Inswihardjo jadi tahanan yang ditanya oleh KNIL. ”Lalu, si Yohanes Patty bertanya ke kakak saya, engkau pangkat apa?,” ujar Yon, yang kini sedang menderita stroke ini. Tapi, belum sempat Slamet Ponidjo menjawab, pistol KNIL langsung meletus di dada kakak Yon.
Tak hanya terkapar mati, tangan Slamet ikut putus karena berusaha menangkis peluru yang hendak dihujamkan ke dadanya. Begitu juga, Soejono Inswihardjo yang mati seketika, begitu KNIL memberondong dadanya dengan peluru. Para tahanan pria yang tangannya tak diikat kabel dieksekusi satu persatu dan ditembak dari jarak dekat.
Seorang gerilyawan Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP) bernama Kasman, yang masuk dalam barisan yang hendak dieksekusi, berhasil melarikan diri. Namun, dia ditembak di perut dan pelipis. Dalam keadaan sekarat, tentara pelajar ini berlari menuju kediaman Inswihardjo, ayah dari kedua PMR.”Kasman bilang ke ayah saya, dua anakmu ditembak mati sama Belanda, ditembaknya dari jarak dekat,” ungkap Yon, menirukan cerita Kasman kepada sang ayah, Inswihardjo. Tak lama, peristiwa pembantaian PMR di Desa Peniwen ini memancing reaksi pihak gereja Peniwen yang saat itu sudah berdiri di tengah desa.
”Gembala gereja saat itu, DS Martodipuro lalu mengirim surat protes dan keberatan atas pembantaian dan kekejian terhadap warga sipil serta PMR, kepada jaringan gereja Jawa Timur. Lalu, surat itu langsung ditembuskan ke gereja tingkat nasional, serta dunia,” ungkap Yon.
Begitu surat yang menceritakan pembantaian PMR ini terdengar hingga pelosok dunia, kecaman datang dari negara-negara luar negeri. Surat ini membuat Peniwen dan Indonesia dapat dukungan Perancis, Swiss, Argentina, Jerman hingga Inggris. Negara-negara dunia menekan dan memaksa Belanda untuk menghentikan agresinya.
Pasalnya, Belanda disebut sudah melakukan kejahatan perang, karena membantai anggota Palang Merah. ”Setelah tentara Belanda ditekan dunia internasional karena membunuh anggota PMR, agresi militer berhenti,” tutup Yon.(bersambung/fino yudistira)