Monumen Peniwen Affair, Saksi Bisu Mempertahankan Kemerdekaan RI (Habis)

TRAGEDI Peniwen Affair era Agresi Militer Belanda II, yang menimpa Desa Peniwen Kecamatan Kromengan, masih membekas di benak warga. Hingga sekarang, masyarakat desa yang jadi keturunan para saksi hidup Peniwen Affair, tak ingin melupakan pembantaian anggota PMR oleh KNIL Belanda. Karena itu, pada tahun 1983, monumen Peniwen Affair didirikan di ujung desa.
 
Nyanyian kemerdekaan, terlantun dari wajah ceria anak-anak di Balai Desa Peniwen, saat malam Agustusan, Jumat (16/8) lalu. Ratusan warga desa yang berkumpul, tampak begitu terhibur dengan kepolosan anak-anak dalam menyanyikan lagu nasional. Gelaran acara ibadah ucapan syukur sekaligus perayaan ultah ke-68 Indonesia, semakin hangat dengan puja-puji yang dikumandangkan bagi negara.
Gayengnya perayaan hari kemerdekaan RI di Desa Peniwen, seakan berusaha menutupi luka dalam yang ditorehkan oleh penjajah Belanda pada era Agresi Militer II. Nyanyian kemerdekaan terasa semakin berarti bagi warga Desa Peniwen. Sebab, itu mengingatkan mereka bahwa penjajahan keji Belanda sudah berakhir.
Namun, bukan berarti memori pahit kekejaman penjajah itu hilang. Masih ada monumen Peniwen Affair, yang akan terus mengingatkan warga, bahwa kemerdekaan dan sukacita yang didapat sekarang, harus ditebus dengan darah.
Sri Mulyanti, anggota BPD Peniwen mengungkapkan, usai peristiwa pembantaian PMR 19 Februari 1949, KNIL Belanda masih belum menghentikan terornya kepada desa Peniwen.
Yanti, sapaan akrabnya menceritakan, teror terhadap Peniwen bahkan sudah berlanjut, ketika peristiwa pembantaian diketahui oleh negara-negara dunia.
‘’Surat dari gembala gereja Peniwen saat itu, Ds Martodipuro kepada pihak gereja internasional, membuat insiden pembantaian diketahui secara luas, itu malah membuat Belanda makin marah,’’ ungkap Yanti ketika bercerita kepada Malang Post.
Bahkan, gereja Peniwen yang saat itu jadi pusat perlindungan warga, sempat jadi sasaran serangan Belanda. Yanti menceritakan, beberapa waktu setelah surat protes dari gereja soal pembantaian PMR diberitahukan kepada masyarakat internasional, Belanda berang. Dimulailah propaganda sekaligus pembelokan opini lewat media-media lokal Malang saat itu.
Propaganda tersebut mengatakan, telah terjadi tembak menembak antara pihak Belanda dengan gerilyawan. Padahal, kenyataannya Belanda membunuh anggota Palang Merah secara kejam.
Dalam konvensi Jenewa tahun 1949, anggota Palang Merah masuk dalam oknum yang tak boleh diserang. Praktis, Belanda melanggar konvensi dan secara resmi telah melakukan kejahatan perang.
Akibat surat protes itu, Belanda menjadikan gereja sebagai sasaran. ‘’Setelah peristiwa 19 Februari 1949, Belanda mengerahkan kekuatan artilerinya, untuk membombardir Peniwen, khususnya gereja,’’ tandas Yanti. Belanda yang saat itu mulai ditekan oleh dunia internasional, menghantam desa dan gereja dengan peluru-peluru artileri.
Konon, ada sembilan peluru artileri yang diarahkan kepada gereja. Namun, pihak Belanda gagal ‘membalas dendam’ pada Ds Martodipuro yang menjadi tokoh utama pengirim surat protes kepada masyarakat internasional atas kejahatan perang yang terjadi di Peniwen. Seluruh peluru artileri meleset dan mengenai area belakang gereja.
Setelah peristiwa ini terjadi, Belanda sedikit demi sedikit mulai mundur dari wilayah Peniwen. Sebab, Belanda akhirnya menandatangani Perjanjian Roem-Royen Mei 1949. Perjanjian ini mengakhiri agresi kedua Belanda ke Indonesia. Puluhan tahun berikutnya, masyarakat Peniwen ingin menjaga kenangan dan memori pahit atas tindakan Belanda terhadap desanya.
Warga desa yang dibantu oleh partai berkuasa saat itu, berinisiatif membangun monumen peringatan Peniwen Affair. Tepat pada hari pahlawan 10 November 1983, monumen Peniwen Affair diresmikan oleh Pengurus Pusat PMI, yang saat itu dipimpin oleh Marsekal Muda dr Sutojo Sumadimedja.
Peniwen Affair yang merekam kejahatan perang Belanda terhadap Palang Merah, juga mendapat pengakuan dari PBB. ‘’UNESCO mengakui bahwa Peniwen Affair adalah warisan sejarah dunia dari era perang dunia,’’ tandasnya.
Pengakuan juga sempat datang dari Ketua Umum PMI Jusuf Kalla. Tahun 2001 yang datang ke Desa Peniwen untuk berziarah ke makam para anggota PMR yang dibantai oleh Belanda. (fino yudistira)