Hong Gie, 81 Tahun Mengabdi Untuk Bulutangkis

Nama lengkapnya adalah Soegio Pranoto. Meski sudah berkecimpung dalam dunia bulutangkis sejak tahun 1950-an, nama tersebut tidak ada yang tahu di kalangan atlet maupun pelatih. Hal itu berbeda ketika nama Hong Gie yang muncul, sebutan itu sudah tidak asing bagi dunia bulutangkis Malang Raya.

Hong Gie memang tidak muda lagi karena usianya sudah menginjak 81 tahun. Karena usia tersebut, pendengaran juga sudah agak berkurang tajam. Cara berjalan juga sudah tidak sempurna seperti sewaktu masih umur belasan lalu.
Hanya saja untuk soal melatih bulutangkis, peran pria yang tinggal di Jalan Brantas Kota Batu ini tidak berubah. Malahan, banyak orang bilang tua-tua keladi, makin tua makin menjadi. Semangatnya masih membara dan semakin matang dalam melatih bulu tangkis.
Tanganya masih cekatan memegang raket. Berkali-kali dia mengarahkan suttle cock yang harus dikejar para siswanya juga sangat bersemangat berlatih. Hal itu selalu terlihat ketika dia melatih, salah satunya di GOR Ganesha Kota Batu. Hong Gie sendiiri saat ini adalah salah satu pelatih pBSI Kota Batu.
‘’Bulutangkis sudah menjadi darah daging. Jadi tidak ada siapapun yang bisa menghentikan bulu tangkis ini. Selama masih bisa berjalan, saya tetap melatih,’’ ungkap Hong Gie kepada Malang Post.
Pria satu anak ini menjadi pelatih sejak tahun 1974 lalu dengan kebanyakan lokasi melatih adalah di Kota Malang. Beberapa lokasi tempat melatih adalah PB Bentoel di Janti, GOR Kasin, GOR Cenderawasih, GOR Lely dan SMU 9 Malang. Kegiatan melatih di SMU 9 Malang masih berlangsung hingga sekarang.
Dia menjadi pelatih setelah tidak bisa meneruskan sebagai pemain bulutangkis pada tahun 1974. Dia mulai bermain olah raga tepok bulu itu sejak tahun 1950-an dan cukup merajai juara tingkat Malang Raya. Dalam berbagai kejuaraan, dia biasa menyabet sebagai juara. Aneka piala hingga saat ini juga masih tersimpan di rumahnya.
Sayangnya era tahun itu belum ada pelatnas seperti sekarang. Keberangkatan pemain untuk mengikuti kejuaraan di berbagai negara juga nyaris tidak ada sehingga kesempatan keluar negeri juga tertutup. ‘’Saya terakhir bermain sekitar tahun 1974 setelah menjadi juara provinsi Jatim. Saya tidak bisa main lagi karena lutut sakit. Berbagai pengobatan sudah saya lakukan tapi tidak bisa sembuh total. Sejak saat itulah saya berhenti bermain dan menjadi pelatih,’’ katanya sembari menyatakan belajar bulu tangkis secara otodidak.
Dia juga menjelaskan, ilmu kepelatihan juga tidak didapat dari bangku sekolah atau guru. Dia belajar sendiri untuk melatih para siswanya menjadi atlet handal. ‘’Semua teknik, saya ciptakan sendiri. Bagi saya, cara melangkah dalam bermain itu paling utama. Setelah cara melangkah menguasai, tehnik smess, drop shot, permainan net mengikuti,’’ tambah dia.
Dari hasil kerja keras melatih, dia sudah banyak menelorkan atlet maupun pelatih bulu tangkis asal Malang Raya. Juara dunia Hendrawan, Yohan Wahyudi, Hogianto adalah nama-nama pebulutangkis mantan siswanya yang cukup bersinar.
Siapa yang tidak kenal dengan Hendrawan, dia adalah juara dunia tahun 2001. Pebulutangkis asal Malang ini juga pernah merebut medali perak di Olimpiade Sidney 2000 serta menjadi anggota tim Piala Thomas saat Indonesia juara tahun 1998, 2000 dan 2002.
‘’Hendrawan ikut latihan di GOR Cendrawasih Malang sekitar dua tahun. Saat itu usianya masih sekitar 14 tahun. Sejak kecil dia memang sudah kelihatan memiliki bakat dan permainan sangat ulet,’’ tegas dia.
Hendrawan kenal dengan Hong Gie dari ayahnya, Sugianto. Sugianto juga salah satu murid bulutangkis yang sebelumnya berlatih di GOR Kasin Kota Malang. ‘’Hogianto saat ini sudah melatih dan sukses di Swiss karena istrinya orang swiss,’’ kata pria kelahiran Semarang, Jateng ini.
Dia merasa belum puas melatih jika belum bisa membuat siswa kembali menjadi juara dunia. Karenanya potensi bibit, ketekunan berlatih menjadi hal utamanya untuk menjadi atlet handal.
Keuletan Hong Gie ternyata tidak hanya berada di lapangan saat melatih, tetapi juga mempersiapkan hal-hal teknis atau fasilitas. Misalnya saja urusan suttle cock, dia tidak harus berfikir suttle cock baru untuk latihan karena bisa membuat sendiri.
Suttle cock yang sudah rusak karena digunakan, bekas-bekas itu tidak langsung dibuang. Suttle cock tersebut langsung dibawa pulang. Dengan peralatan sederhana ciptaan sendiri, dia merancang kembali suttle cock menjadi baru. Begitu juga untuk raket rusak, senar putus dia telaten untuk merancang lagi dengan peralatan yang ada. (febri setyawan)