Jejak Ang Hien Hoo, Wayang Orang Tionghoa dari Malang (1)

Ruang berlantai keramik di Jalan Laksamana Martadinata no.70 Kota Malang, menjadi saksi bisu matinya seni wayang orang Tionghoa. Di lantai tersebut, era tahun 1957 – 1962 menjadi tempat latihan wayang para seniman tari Tionghoa. Kini, ruangan itu dihuni jenazah yang dipersemayamkan. Mereka mati, seperti matinya wayang orang bermata sipit.

Terhitung hingga saat ini, 48 tahun sudah, wayang Orang Ang Hien Hoo ‘terbunuh’ perubahan kekuasaan. Wayang orang itu lahir, tahun 1957, kemudian pada tahun 1965 dipaksa mati. Bersama tertindasnya kaum Tionghoa akibat krisis politik, yang tenar dengan nama Gestapu.
Perkumpulan wayang Ang Hien Hoo, awalnya merupakan nama dari perkumpulan sosial dan kematian. Akibat peristiwa 1965, nama berbau Tionghoa juga harus diganti. Tak terkecuali Ang Hien Hoo, yang kemudian menjadi Panca Budhi.
Ruang-ruang yang dahulu digunakan untuk berlatih tari dan karawitan, telah disekat sebagai persemayaman. Roh-roh kesenian era itupun juga tak tampak, berganti aura kematian di setiap sudutnya. Sejak gestapu, Ang Hien Hoo memang tenggelam dalam nama dan karakter baru.
Namun orang-orangnya, ternyata masih ada hingga sekarang. Mereka mengenang Ang Hien Hoo, sebagai bukti kecintaan peranakan Tionghoa terhadap tradisi masyarakat Jawa. Prinsip dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung, dilaksanakan peranakan Tionghoa era tersebut.
Wayang orang Ang Hien Hoo memang beranggotakan seniman Tonghoa, hampir seluruhnya orang-orang bermata sipit. Tapi soal olah gerak menari, mereka tak bisa diremehkan. Pada masanya menjadi pujaan, bahkan menarik perhatian Presiden RI pertama Soekarno.
Bung Karno mengundang, kelompok itu ke Istana Merdeka pada tahun 1958. Turut serta di dalam rombongan, penari cantik bernama Ie Kiok Hwa atau Nelly Ie. Kelak oleh Bung Karno, Nonik Tionghoa cantik ini, diberi nama Ratna Djuwita, cantik bak kuntum bunga yang mekar.
Si cantik ini, telah meninggal dunia pada 3 Juni 2013 lalu, sesuai pengumuman dalam satu media cetak. Dia mangkat pada usia 77 tahun, kemudian dimakamkan di Solo. Karakter kejawaannya, tampak pada foto diri di pengumuman duka, bersanggul dan memakai kebaya.
Tapi rupanya, penari lainnya masih ada yang hidup, yakni Ratnawati (70 tahun). Perempuan sepuh ini, baru-baru ini didatangkan di gedung Dewan Kesenian Malang. Dia tak lain, pasangan menari Ratna Djuwita, dulu tinggal di Jalan Tanggamus 9 Kota Malang, kini hijrah ke Surabaya.
‘’Nama Tionghoa saya kebetulan mirip dengan Nelly, yakni Melly Oei, jadi saat Nelly diberi nama Ratna Djuwita oleh Bung Karno, saya pun berganti nama menjadi Ratnawati,’’ tuturnya.
Sebetulnya, selain Ratna Djuwita, Ratnawati, masih ada lagi, satu primadona. Yakni Shierlly Hiang, tapi Ratna mengaku telah kehilangan jejaknya. Tahun 1958 itu, dirinya berusia 14 tahun, Ratna Djuwita 21 tahun, sedangkan Shielly sekitar 15 tahunan.  
‘’Tahun 1958, di undang ke istana negara tepat 17 Agustus 1959, kemudian tahun 1961 bersama Ang Hien Hoo juga diundang kembali, saya berperan sebagai Dayun, Ratna Djuwita menjadi Minakjinggo,’’ cerita penari yang kini tinggal di Granting Baru 5 Surabaya itu.
Perempuan yang masih tampak gurat kecantikannya ini, menerawang ke masa lalu. Pada tahun 1958, sebelum tampil ke istana, para penari diboyong ke Keraton Solo. Disana mereka digembleng selama seminggu oleh guru penari keraton.
‘’Kemudian ke Jakarta, dan saya sebelum tampil rias di kamar Megawati, wow kamarnya luas sekali,’’ kenangnya sembari tersenyum.
Ratna sendiri berhenti menari pada tahun 1962, kemudian berhenti total tahun 1965. Situasi tanah air yang tak bersahabat dan larangan suami, membuatnya membuang keinginan tampil. Peran sembodro. Anggraeni, Sinta hingga Larasati, sampai saat ini masih berkelebatan di benaknya.
‘’Hanya foto-foto ini yang membuktikan, dulu latihan saya ya di Panca Budhi itu, yang sekarang menjadi persemayaman jenazah,’’ katanya.
Akan tetapi, sebelum berhenti menari, Ratna masih sempat bermain film nasional. Yakni film berjudul di balik awan pada tahun1962. ketika itu dia berperan sebagai Giok Li, dengan lawan main Bambang Irawan. Film yang menceritakan asimiliasi antara gadis Tionghoa dan pribumi itu dilakonkan dengan apik.
Tapi pada kenyataanya, kisruh negeri pada tahun 1965, tak seperti gambaran dalam film.  Negeri kian membara, bahkan warga Tionghoa tak dianggap ada. Mereka hidup di negeri sendiri, tapi diberlakukan seperti orang asing. (bagus ary wicaksono)