Absen Kerja Demi Gelar Juara Nasional, Gaji Dipotong Rp 50 Ribu per Hari

MenyandangG  gelar juara nasional bukan jaminan seorang petinju profesional bakal hidup bergelimang harta. Ironisnya, tak sedikit penyandang status kampiun di atas ring harus melakoni kerja sampingan untuk menjaga dapur keluarga tetap mengepul. Hal itu juga dialami juara tinju nasional kebanggaan Kota Malang, Hero Tito.

DENGAN seragam atasan putih dengan paduan celana biru gelap, sosok pria bertubuh gempal itu nyaris tak ada bedanya dengan petugas keamanan lainnya. Sesekali ia menyunggingkan senyum ramah, membuyarkan asumsi ‘predator’ yang disematkan saat sedang berjibaku di atas ring.
Namun, bagi mereka yang pernah menyimak aksinya di layar kaca, tentu bakal terkejut melihat pria 26 tahun itu tengah berjaga di Block Office Kota Malang. Dia lah Hero Tito, yang terlahir dengan nama asli Heru Purwanto. Sudah lebih setahun terakhir, pemilik sabuk juara nasional kelas ringan junior versi KTPI (Komisi Tinju Profesional Indonesia) dan FTI (Federasi Tinju Indonesia)  itu bertugas sebagai security di kantor pelayanan terpadu.
Malam nanti, petinju d’Kross BC itu bakal mempertaruhkan gelarnya dalam pertarungan kelas ringan junior, 58,9 kg kontra Edy Comaro dari Sasana Praja Wijaya Cilacap. Namun, tak ada yang berbeda dari keseharian pria asal Banjarejo, Pakis itu. Sehari jelang berangkat ke Banjarnegara, Hero masih menjalankan tugasnya sebagai satpam. “Maaf kalau agak buru-buru. Setelah ini harus berangkat ke Banjarnegara. Saya ajak anak dan istri juga,” tuturnya kepada Malang Post.
Sejenak, tatapannya kosong. Lamunannya menerbangkan memori ke awang-awang. Tak lama, bungsu dari empat bersaudara itu mencurahkan resah dalam hatinya. “Dulu saya pernah dijanjikan jadi PNS kalau sukses jadi juara nasional. Sekarang saya sudah punya gelar, tapi cuma jadi satpam,” ujarnya datar.
Getir yang dirasakan Hero bukan omong kosong. Tercatat sejak tahun 2010 silam, bapak satu anak ini sudah menyabet gelar juara kelas bulu 57,1 kg versi Komisi Tinju Indonesia (KTI). Di tahun-tahun berikutnya, rentetan prestasi terus mengiringi kiprah pria kelahiran 27 September 1986 ini. Mulai dari partai nasional, sampai tingkat Asia sudah dilakoninya.
Mulai dari petinju Jepang, Ryo Takanaka sampai petinju Thailand, Suor Carryboy pernah merasakan bogem maut asuhan Victor Mausul dan Mendoza ini. “Tahun 2009 saya sudah sering tanding ke Thailand. Target saya berikutnya adalah Kejuaraan PABA, bulan November nanti,” bebernya.
Ketidakjelasan nasib itulah yang terus menjadi ganjalan di hati suami Siti Nurul itu. Putra bungsu Misran ini khawatir masa depannya gelap begitu gantung sarung tinju di kemudian hari. Keinginan untuk hengkang keluar Malang pun sering terlintas dalam benaknya. “Padahal saya ini kemana-mana bawa nama Kota Malang. Bahkan mengharumkan nama bangsa dan negara. Tapi, sampai sekarang masih begini-begini saja. Mungkin yang menjanjikan sudah lupa,” ucapnya lirih.
Mirisnya, Hero harus mengalami kenyataan pahit saat melakoni perannya sebagai petinju profesional. Tiap kali absen menjalankan kewajiban sebagai petugas keamanan, gajinya dipotong Rp 50 per hari. Pernah suatu hari dia harus mempersiapkan diri dengan berlatif intensif di Semarang selama satu bulan, saat terima gaji dia hanya bisa mengelus dada. “Gaji yang bisa saya ambil tinggal Rp 75 ribu saja,” singkatnya.
Padahal, untuk kebutuhan latihan dan vitamin, Hero harus mengeluarkan kocek pribadi. Mengandalkan bantuan dari sasana saja tentu tidak cukup. Meski d’Kross BC tak kurang-kurang memperhatikannya, namun gajinya jelas tak sebanding dengan kebutuhan rumah tangga dan biaya sekolah sang buah hati yang kini duduk di bangku TK A.
Sebagai petinju profesional, bayaran yang diterima Hero setiap kali tanding tak lebih dari Rp 5 juta. Sedangkan interval pertandingan juga tak bisa dipastikan. Kadang dua bulan sekali, bisa juga empat bulan sekali baru kembali naik ring. Sementara gaji satpam hanya Rp 1,5 juta per bulan.
Kondisi itulah yang kadang membuatnya berpikir untuk menerima pinangan dari luar negeri. Ayah dari Tasya Azahra itu mengungkapkan pernah ditawari promotor asal Australia untuk hijrah membela sasana di Negeri Kanguru. “Menggiurkan sih. Tapi, kalau saya berangkat kesana, apa menjamin kehidupan saya lebih baik saat kembali ke Malang nanti,” gumamnya.
Secara kualitas, Hero memang diakui sebagai ‘permata’ dalam belantika olahraga adu bogem tanah air. Pemilik d’Kross BC, Ir H Ade Herawanto MT, mengakui ketangguhan jagoannya itu. Pesona Hero di atas ring sudah memikat Ade d’Kross, sejak petinju berambut cepak itu berkiprah di level amatir.
Ade yang dikenal sebagai promotor dan kini telah menggenggam empat lisensi badan tinju ini kepincut dengan gaya bertanding Hero yang menghibur. “Menurut saya, Hero adalah petinju amatir terbaik di Malang saat itu. Dia itu seniman tinju. Sayangnya, dia sering ‘diperjual-belikan’ dari satu sasana ke sasana lain. Akhirnya saya kontrak Hero dari Cak Waris (pemilik Extra Joss BC Jakarta) pada tahun 2008,” ungkap Ade yang kala itu masih mengelola Sasana Gajayana.
Sejak menunjukkan bakat luar biasanya yang berujung pada serentetan gelar bergengsi, sudah beberapa kali Ade dikontak oleh sejumlah promotor nasional yang tertarik merekrut Hero. Diantaranya berasal dari Jakarta dan Semarang. Namun, Ade yang juga dikenal sebagai tokoh musik dan Aremania enggan melepas.
Sesuai janjinya, bapak dua anak ini baru akan mundur dari dunia tinju jika sudah berhasil mengantar petinju Malang merengkuh gelar juara dunia. Saat ini, Hero tengah menuju tangga juara Asia. Selangkah lagi dari Kejuaraan PABA, maka dia bisa naik ke level dunia. “Ibaratnya tinggal satu step lagi untuk mewujudkan impian itu,” seru pecinta musik rock yang juga hobby nge-trail ini.
Maka, jangan bandingkan kisah seorang Hero Tito dengan cerita manis dari lapangan bola. Jika pemain sepakbola biasa masih bisa membeli mobil, seorang juara tinju nasional nyatanya masih butuh kerja sampingan untuk sekadar menyekolahkan anak. Bahkan sampai saat ini, Hero dan keluarga kecilnya masih tinggal di rumah orangtuanya di Banjarejo. (tommy yuda pamungkas)