Paul Cummings, Pelatih Asal Inggris ‘’Terdampar’’ di Poncokusumo

SOSOK Paul Cummings,merupakan salah satu pelatih asing pertama yang menangani berbagai klub sepakbola di tanah air. Sejak tahun 1999 pelatih asal Inggris   ini berhasil menyandang status sebagai  Warga Negara Indonesia (WNI).  Diusia 66 tahun sekarang,ia memilih menghabiskan hari tua di lereng  Gunung Bromo. Tepatnya di Dusun Dringu, Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang.
Posisi rumah mantan pelatih timnas Indonesia ini  dikelilingi oleh perkebunan apel, jeruk dan juga aneka sayuran lain. Jaraknya pun sekitar 100 meter lebih dari tetangga terdekatnya. Di depan rumahnya banyak tanaman tomat dan cabe, disamping kanan kirinya antara apel dan jeruk. Sedangkan di belakang rumahnya, terdapat sekitar 100 tanaman jeruk, yang dia akui merupakan miliknya.“Ya beginilah rumah saya sekarang, segar dengan berbagai tanaman yang setiap hari saya lihat,” ungkap Paul Cummings  ketika disambangi Malang Post.
Saat itu kondisi kesehatannya sebenarnya sedang kurang baik.   Apalagi pada  pertengahan bulan ini,  dia baru saja pulang dari sebuah rumah sakit di Kota Malang. Dia baru saja menjalani operasi kanker kulit ganas di tiga lokasi yang berada di area wajah dan keningnya. Karena operasi tersebut, dia harus memangkas rambut gondrong yang merupakan  ciri khasnya.
Beberapa saat kemudian, Paul Cummings  masuk ke dalam rumah, mengambil hasil diagnosa dokter mengenai kanker kulit bernama Basalioma. Posisinya, pada kepala atas, kepala bawah dan hidung. Awalnya dia mengira itu luka ringan, tetapi yang tidak kunjung kering karena gula darahnya diri. “Dokter meyakinkan saya, setelah kepulangan dari Jakarta menonton Liverpool, bahwa saya tidak mengidap penyakit gula. Ini merupakan kanker,” terangnya.
Sungguh ironis memang, bila kini dia harus berhenti dari aktivitas melatih sepakbola. Padahal sejak tahun 1980 an, beberapa klub yang dilatihnya tergolong sukses. Baik yang harus dilatihnya dengan merangkak dari divisi bawah, hingga di kompetisi tertinggi tanah air yang dulu masih bernama Galatama. Setidaknya, Persipura, Persis Sorong, Perseman Manokwari, Tanah Air Putra, Indonesia Muda dan PSBL Bandar Lampung, pernah merasakan tuah tangan dinginnya dalam melatih.
Perseman pernah ditakuti permainannya, hingga suatu saat bertemu dengan Persib di final kompetisi. Namun, dari kisah suksesnya juga banyak terungkap fakta menyakitkan, bagi dia maupun semua yang mendengarnya secara langsung. Bayangkan, setelah sukses, ada beberapa anggota official atau bahkan pemainnya yang merasa cemburu. Menghasut anak buahnya untuk memecat  pria ramah ini. Meskipun demikian dia pun  tetap dengan lapang dada menerimanya.“Hampir semua klub, di Papua maupun di PSBL. Saya mengalami itu, entah apa salah saya. Tetapi karena saya tidak menyukai perselisihan, saya menerima,” jelasnya.
Salah satu karier yang tidak bisa dilupakan oleh Paul  Cummings yakni ketika pertama kali membesut timnas Indonesia. Dia harus melatih tim hanya dengan persiapan 10 hari untuk menuju Bangkok. Hasilnya, Malaysia yang waktu itu masih menjadi tim kuat dikalahkan, dan tim eropa sekelas Swedia ditahan imbang oleh Indonesia. Kekalahan hanya didapatkan dari Thailand yang merupakan tuan rumah.
Kemudian Paul mengungkapkan bahwa seseorang yang membawanya ke tanah Papua (dulu Irian Jaya,red) adalah mantan Wali Kota Malang dan Wagub Papua Brigjen (purn) Sugiyono yang akrab disapa Ebes.  Karena itu,  dia merasa dekat dengan orang Malang, dan memutuskan untuk tinggal menetap di Kabupaten Malang di masa tuanya.Pernah suatu saat,  karena sangat menghormati Ebes Sugiyono, begitu dia pindah ke Kota Malang untuk pertama kali ke Malang, dia berniat bersilaturahmi. Tetapi, ketika di dalam taksi dan berbincang dengan sang sopir, dia diberitahu bahwa salah satu orang yang berjasa bagi karier kepelatihannya tersebut telah pergi. “Tepatnya waktu itu sudah di depan rumah almarhum, dan sopir taksi bilang kalau pemilik rumah telah meninggal. Saya mencoba memastikan, ternyata memang benar,” kali ini raut mukanya  menyesal.
Selanjutnya, pria yang juga memiliki klub sepakbola favorit semasa kecil yakni Hendon FC ini, lebih banyak bercerita, dan sangat terbuka. Dari kisah kegemarannya mengumpulkan profil dan majalah pertandingan sekitar 4000 klub di Inggris, baik professional maupun amatir, hingga penghasilannya kini yang di bawah Rp 1 juta per bulan. Lengkap, dan itulah membuat ketakjuban dan kebanggaan terhadap seorang Paul Cummings. Ingatannya masih sangat tajam, bahkan mengenai bulan kejadian dari suatu hal, terutama dalam aktivitasnya di Indonesia. Baik cerita senang maupun pahit.
Kini, usahanya untuk menambah penghasilan rumah tangga melalui rental PS dan juga kebun jeruk. Tapi sangat jauh dari harapan. Rental PS tidak mencapai Rp 1 juta dalam sebulan, dan kebun jeruknya sebesar Rp 450 ribu dalam 3 kali panen dalam setahun. Bila dirinci, kebun jeruknya menghasilkan omzet bersih sebesar Rp 150 ribu dalam 4 bulan. “Jauh sekali dari pengeluaran Rp 2 juta dalam setahun untuk mengelola kebun melalui orang yang saya percaya. Sedangkan PS, setiap harinya tidak menentu. Bisa Rp 20 ribu, bisa juga tidak dapat penghasilan,” terang Paul Cummings  panjang lebar.
Dia pun menunjukkan penghasilan sehari sebelumnya dari 6 rental PSnya yang sebesar Rp 7 ribu. Total dalam sebulan, masih harus dikurangi untuk membayar Imron, anak muda kepercayaannya untuk menjaga PS milik Paul yang sempat hilang. Dulu berjumlah sepuluh, pernah dicuri orang dan juga rusak yang secara otomatis harus diganti dengan yang baru.
Kisah tidak beruntungnya masih berlanjut, ketika dokter mengharapkan dia berhenti total dari kepelatihan sepakbola, karena Spondilosis yang Paul Cummings  alami. Beberapa bagian tulang leher bagian belakang hilang, dan berbahaya bila suatu saat terjatuh.
Menariknya, ia juga menyampaikan  harapan  untuk bisa segera  mengunjungi Arema, klub kebanggaan Malang Raya. Dia ingin berbagi, entah sebagai tamu, maupun memberikan masukan bagi tim tersebut. “Ya karena saya cinta Arema, saya ingin sharing dengan pemain atau bahkan manajemen, untuk memberikan beberapa tips yang saya ketahui,” pungkas pria  yang  enggan kembali ke tanah kelahirannya di Inggris.  (Stenly Rehardson)