Keliling Dunia Kibarkan Bendera Arema di 20 Negara

NAMA Hari Pandiono sudah tak asing di telinga Aremania, suporter kebanggaan Arema Indonesia. Hari adalah Aremania fenomenal, yang mengibarkan bendera Arema di Stadion Maracana, Rio De Janiero Brazil, saat Piala Konfederasi 2013 berlangsung. Seperti apa petualangan Hari menyebarkan virus Arema di penjuru dunia?

Ribuan tifosi Juventus FC memenuhi Stadion Turin, malam itu. Suara suporter si Nyonya Tua mendominasi ingar bingar stadion yang menjadi venue Liga Champion. Seperti sihir, suara suporter menguasai stadion dimana Andrea Pirlo dkk tengah bertanding melawan klub konglomerat asal Inggris, Chelsea FC.
Tapi, di tengah-tengah warna hitam putih yang mendominasi tribun Stadion Turin, ada satu warna dan logo bendera yang memecah sihir tifosi Juventus. Bendera itu berwarna biru, dengan logo singa. Ya, sebuah bendera Arema dikibarkan di Stadion Turin, saat Juventus menghadapi Chelsea dalam lanjutan pertandingan Liga Champion 2012/2013.
Sosok pengibar bendera Arema di Turin Italia itu berjingkrak-jingkrak. Menyanyikan lagu Arema, pria pemakai kerpus Arema itu pun menarik perhatian tifosi Juventus yang ada di sekelilingnya. Salah seorang Juventini pun menyambut pria pembawa bendera ini. “Welcome Arema Indonesia, we speak football,” teriak si tifosi Juventus.
Sang pembawa bendera pun membalas sambutan hangat dari suporter Juventus dengan teriakan. “Arema Is The Champion!” balasnya keras. Sosok pembawa bendera Arema di Stadion Turin Italia ini tak lain adalah Hari Pandiono. Pria asal Kelayatan, Sukun ini mengibarkan bendera pujaan suporter Arema Indonesia di tengah-tengah hiruk pikuk tifosi Juventus.
Lalu, bagaimana pemilik nama lengkap Hari Pandiono Paimin tersebut tiba-tiba berada di Stadion Turin sambil mengibarkan bendera Arema saat laga Juventus? Dikonfirmasi Malang Post lewat BlackBerry Messenger, Hari yang sedang berada di Tunisia menceritakan, dirinya melanglang buana ke seluruh penjuru dunia untuk menikmati even sepakbola internasional.
Termasuk pertandingan Liga Champion antara Juventus dan Chelsea. Pendek kata, Arek Malang yang satu ini adalah petualang sepakbola yang super edan. “Ya saya memang sangat mencintai bola, juga mencintai Arema, sehingga saya keliling dunia, nonton pertandingan sepakbola sekaligus memperkenalkan “virus” bernama Arema,” ucap Hari kemarin.
Ia mengaku sudah mengunjungi pertandingan-pertandingan sepakbola level internasional sejak tahun 2005. Pria berusia 49 tahun itu terhitung sudah menjelajah dataran Amerika, Asia, Afrika, Eropa hingga Australia. Lebih dari 20 negara telah dia kunjungi. Tak lupa, ia menularkan virus Arema dengan mengibarkan bendera kebanggaan Aremania di stadion pertandingan sepakbola.
Tahun 2005, ia menjelajahi tanah Amerika Serikat demi menyaksikan Major League Soccer. Tahun 2006 dan 2007, Hari berkunjung ke negeri Kanguru Australia. Tahun 2008, pemilik gelar Project Management Professional and Certified Treasury Prof dari USA itu mengunjungi Selandia Baru, Singapura, Malaysia hingga Kongo.
Tak berhenti di situ, di tahun 2009, Hari menyambangi pertandingan sepakbola di Zambia, Maladewa, Tanzania hingga Sudan. Lalu, memasuki 2010, ia menonton gelaran Piala Dunia Afrika Selatan. Setelah itu, tahun 2011 ia berangkat ke Maroko dan Afrika Barat-Mauritania. Begitu 2012, ia semakin edan.
Hari mendatangi Hongkong, Makau, Dubai Uni Emirat Arab, Torino dan Milan, Muenchen Jerman, Barcelona, Madrid, Kiev Ukraina, Canary Island Spanyol, serta Paris Perancis. ”Di seluruh negara itu,saya mengibarkan bendera Arema, termasuk mengibarkan bendera Arema di Eiffel Tower, serta di Stade De France saat pertandingan Paris St Germain (PSG),” tandas Hari.
Tahun 2013 ini, peraih gelar Diploma dari universitas di Australia tersebut menikmati laga Piala Konfederasi Brazil di Rio De Janiero. Kegilaan Hari dalam berpetualang dari satu pertandingan sepakbola ke pertandingan lain rupanya tak lepas dari obsesi pribadinya.
Sebagai Aremania, pria yang sedang kuliah Master Project Management di Amerika Serikat ini sangat ingin memperkenalkan Arema kepada dunia. Tak heran, ia menghabiskan waktu dan uangnya agar Arema dikenal dan diketahui oleh masyarakat sepakbola dunia.
Mantan senior project administration manager Freeport itu  berkeliling dunia, menyaksikan even-even akbar sepakbola internasional sambil membawa bendera Singo Edan. Lalu, dari mana biaya yang dipergunakan untuk berkeliling dunia demi menyebar virus Arema?
Hari mengungkapkan, semua pembiayaan untuk traveling sekaligus tiket pertandingan sepakbola, murni dari kantongnya sendiri. Saat ini, Hari adalah Professional Cost Control Manager di Kinross Gold Mining Kanada, perusahaan produksi emas yang konon adalah masuk 10 terbaik di dunia.
Tiap sekali jalan traveling ke negara-negara dunia demi menyaksikan sepakbola, Hari menghabiskan biaya tak kurang dari USD 2000 atau sekitar Rp 20 juta. ”Semua biaya sendiri. Sekali jalan 2000 dollar AS. Sepuluh persen gaji, saya pergunakan untuk traveling dan memamerkan Arema di pertandingan-pertandingan kelas dunia,” terangnya.
Selain itu, kemanapun perusahaannya menugaskan Hari, di situ juga ia mencuri kesempatan untuk nonton sepakbola dan mengibarkan bendera Arema. ”Nah, saat itu yang saya pakai adalah dana pribadi,” pungkas Hari.(fino yudistira/han)